Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Ciri Haji Mabrur Ternyata Bisa Dilihat dari Cara Bicara dan Perilaku Sehari-hari

Abi Abdul Jabbar Sidik
8 June 2026 | 11:02
rubrik: Haji & Umrah
Fenomena Kalender Langka, Tahun 2039 Diperkirakan Mengalami Dua Musim Haji dalam Satu Tahun Masehi

Jemaah Haji menunaikan wukuf di Arafah. (foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Ribuan jemaah haji Indonesia mulai kembali ke Tanah Air setelah menunaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Wajah-wajah bahagia tampak menyambut kepulangan mereka. Namun di balik semua itu, ada satu harapan yang sama yang tersimpan di hati setiap jemaah: meraih haji mabrur.

Predikat haji mabrur merupakan dambaan tertinggi bagi setiap Muslim yang menunaikan rukun Islam kelima. Sebab, kemabruran bukan hanya menunjukkan kesempurnaan pelaksanaan ibadah secara lahiriah, tetapi juga menjadi pertanda bahwa perjalanan spiritual tersebut diterima oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bahkan menyebut balasan bagi haji mabrur sebagai ganjaran yang sangat istimewa.

لَيْسَ لِلْحَجِّ الْمَبْرُورِ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR Bukhari)

Lalu, seperti apa sebenarnya haji mabrur itu? Apakah cukup ditandai dengan gelar “haji” di depan nama, atau ada perubahan yang lebih mendalam dalam kehidupan seseorang?

Makna Haji Mabrur

Dalam Buku Pintar & Praktis Haji & Umrah Lengkap Sesuai Sunnah karya Ratih Puspitawati dijelaskan bahwa secara bahasa, kata al-mabrur berasal dari kata al-birru yang berarti kebaikan atau kebajikan.

Karena itu, haji mabrur dapat dimaknai sebagai ibadah haji yang dipenuhi nilai-nilai kebaikan.

Secara istilah, haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT, dilaksanakan sesuai tuntunan syariat, serta memberikan dampak positif dalam kehidupan pelakunya maupun lingkungan di sekitarnya.

Kemabruran bukan sesuatu yang diperoleh secara otomatis setelah pulang dari Makkah. Ia merupakan buah dari niat yang lurus, ibadah yang benar, serta kemampuan menjaga nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Haji Melahirkan Kedamaian

Salah satu tanda paling nyata dari haji mabrur adalah hadirnya ketenangan dan kedamaian dari diri seseorang.

See also  4 Hari Jelang Ditutup, Hampir 50% Kuota Jemaah Haji Khusus Sudah Terisi

Orang yang memperoleh kemabruran akan menjadi pribadi yang menyenangkan, tidak mudah menyakiti orang lain, serta mampu menghadirkan suasana damai di tengah keluarga maupun masyarakat.

Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ciri haji mabrur di antaranya adalah memberi makan dan menyebarkan salam.

Nilai ini menunjukkan bahwa kemabruran tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga tercermin dalam hubungan sosial dengan sesama manusia.

Lisan yang Lebih Terjaga

Perubahan berikutnya sering kali terlihat dari cara seseorang berbicara.

Jika sebelum berhaji seseorang mudah marah, gemar menggunjing, atau berkata kasar, maka kemabruran akan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih santun dan berhati-hati dalam bertutur kata.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata-kata kasar dan juga kotor.” (HR At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan secara khusus mengenai tanda haji mabrur.

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْحَجِّ الْمَبْرُورِ، فَقَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ

“Dari Jabir RA berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah bersabda: Memberikan makanan dan santun dalam berkata.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi)

Hadis ini mengajarkan bahwa kemabruran dapat dikenali dari kelembutan lisan dan kebaikan perilaku yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar.

Semakin Peduli kepada Sesama

Haji merupakan perjalanan yang mengajarkan persaudaraan, kesetaraan, dan kepedulian sosial.

Karena itu, orang yang memperoleh haji mabrur biasanya menunjukkan empati yang lebih besar terhadap sesama. Ia lebih ringan membantu orang lain, lebih mudah berbagi rezeki, dan lebih peka terhadap penderitaan masyarakat di sekitarnya.

See also  Ini Langkah Pemerintah Sikapi Antrean Haji yang Kian Mengular

Semangat memberi makan, membantu yang membutuhkan, serta memperluas manfaat bagi lingkungan menjadi bagian dari buah kemabruran yang terus tumbuh setelah kembali dari Tanah Suci.

Meninggalkan Maksiat dan Memulai Lembaran Baru

Tanda yang paling mendasar dari haji mabrur adalah adanya perubahan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik.

Orang yang hajinya diterima tidak lagi nyaman dengan kemaksiatan yang dahulu mungkin pernah dilakukan. Ia berusaha menjaga salat, memperbaiki akhlak, dan menjauhi hal-hal yang dilarang Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa berhaji lalu tidak berkata rafats dan tidak berbuat fusuq, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah haji yang dijalankan dengan benar dapat menjadi momentum lahirnya pribadi yang baru, lebih bersih, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Jalan Menuju Haji Mabrur

Kemabruran tentu tidak hadir tanpa ikhtiar. Ada sejumlah hal yang perlu dijaga sejak sebelum keberangkatan hingga setelah pulang dari Tanah Suci.

Di antaranya adalah meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT, mempelajari manasik sesuai sunnah, menjalankan rukun dan wajib haji dengan sungguh-sungguh, memperbanyak zikir dan talbiyah, menjauhi rafats, fusuq, serta jidal, dan memastikan biaya haji berasal dari sumber yang halal.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR Muslim)

Pada akhirnya, kemabruran bukanlah sesuatu yang dapat diukur dari pakaian, gelar, atau cerita perjalanan selama di Tanah Suci. Haji mabrur justru terlihat dari perubahan sikap setelah pulang: semakin dekat kepada Allah, semakin baik kepada sesama, dan semakin menjauhi perbuatan yang dimurkai-Nya.

See also  Hadits Anjuran Rasulullah untuk Tetap di Rumah Selama Wabah Penyakit

Sebab haji yang diterima bukan hanya meninggalkan jejak di tanah Makkah dan Madinah, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup dalam diri seorang Muslim sepanjang hayatnya.

Tags: ciri haji mabrurhadits nabiHajihaji mabrurjemaah hajikajian islammanasik haji
Previous Post

Daftarkan Masjid ke SIMAS, Bisa Dapat Akses Bantuan hingga Nomor ID Nasional

Next Post

Adab Duduk dalam Islam: Mengapa Kita Tidak Boleh Mengambil Tempat Duduk Orang Lain?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks