MADANINEWS.ID, MADINAH – Di tengah megahnya bangunan Masjid Nabawi di Madinah, terdapat satu bagian kecil yang menyimpan kisah penuh cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Sebuah jendela sederhana yang konon tak pernah ditutup selama lebih dari 1.400 tahun.
Jendela itu bukan sekadar bagian arsitektur biasa. Di baliknya tersimpan kisah haru tentang Hafshah binti Umar RA, istri Rasulullah SAW sekaligus putri Khalifah Umar bin Khattab RA, yang rela kehilangan rumah kenangannya demi perluasan Masjid Nabawi.
Namun sebelum rumah itu dirobohkan, Hafshah mengajukan satu syarat yang hingga kini diyakini tetap dijaga oleh pemerintah Arab Saudi: sebuah jendela yang selalu terbuka menghadap makam Rasulullah SAW.
Kisah ini terus menjadi cerita yang menyentuh hati banyak jemaah haji dan umrah yang datang ke Madinah.
Hafshah binti Umar, Istri Nabi yang Dikenal Cerdas dan Bertakwa
Hafshah binti Umar bukan sosok perempuan biasa dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai Ummul Mukminin yang memiliki ilmu, keteguhan ibadah, serta kecerdasan luar biasa.
Dalam buku Teladan Kebahagiaan dari Rumah Tangga Kenabian karya Ahmad Husain Fahasbu disebutkan bahwa Hafshah merupakan putri dari Umar bin Khattab RA dan Zainab binti Madz’un.
Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, Hafshah merupakan istri Khunais bin Hudafah, seorang sahabat veteran Perang Badar yang wafat setelah perang tersebut.
Sepeninggal suaminya, Hafshah hidup sebagai janda hingga akhirnya dipersunting Rasulullah SAW.
Dikutip dari buku Pahit Manis Rumah Tangga Rasul karya A.R. Shohibul Ulum, Hafshah dikenal sebagai perempuan yang ahli ibadah, berpuasa, berilmu, dan memiliki kemampuan membaca serta menulis—sesuatu yang sangat langka bagi perempuan pada masa itu.
Bahkan, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mempercayakan lembaran-lembaran Al-Qur’an yang telah dikumpulkan kepadanya karena ketakwaan dan kecerdasannya.
Kisah Haru di Balik Jendela yang Tak Pernah Ditutup
Kisah jendela itu bermula pada tahun 17 Hijriah, ketika jumlah umat Islam semakin banyak dan Masjid Nabawi tidak lagi mampu menampung jemaah.
Khalifah Umar bin Khattab RA kemudian memutuskan memperluas area masjid. Namun ada satu persoalan besar: rumah Hafshah berada tepat di sebelah selatan makam Rasulullah SAW dan termasuk area yang harus dibongkar.
Bagi Hafshah, rumah itu bukan sekadar bangunan. Di sanalah ia hidup bersama Rasulullah SAW, menyimpan kenangan, ibadah, dan kehidupan rumah tangga bersama manusia paling mulia.
Saat mendengar rumahnya akan dirobohkan, Hafshah menolak keras.
Ia menangis dan tidak rela meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama Rasulullah SAW. Umar bin Khattab RA bahkan disebut harus berkali-kali berdiskusi dengan putrinya demi meyakinkannya bahwa perluasan masjid dilakukan untuk kepentingan umat Islam.
Namun Hafshah tetap bersikeras.
Bahkan nasihat para sahabat dan Sayyidah Aisyah RA pun tidak langsung membuatnya luluh.
Syarat Hafshah yang Menyentuh Hati
Setelah melalui pertimbangan panjang, Hafshah akhirnya bersedia rumahnya dibongkar demi perluasan Masjid Nabawi.
Namun ia mengajukan satu syarat.
Hafshah meminta dipindahkan ke kamar milik saudaranya, Abdullah bin Umar, yang berada di dekat lokasi rumah lamanya. Selain itu, ia meminta dibuatkan sebuah jendela yang menghadap langsung ke arah makam Rasulullah SAW.
Jendela itu, menurut riwayat, harus dibiarkan terbuka selamanya agar dirinya tetap dapat memandang makam Rasulullah SAW dari tempat tinggal barunya.
Permintaan itulah yang kemudian dipenuhi Umar bin Khattab RA.
Jendela yang Dijaga Selama Berabad-abad
Dalam sejumlah riwayat sejarah Islam, jendela tersebut memiliki beberapa nama.
Imam As-Suyuthi menyebutnya sebagai “Jendela Umar bin Khattab”, sementara Ibnu Katsir menyebutnya “Jendela Keluarga Umar”.
Kisah ini terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi salah satu cerita paling terkenal tentang Masjid Nabawi.
Banyak kalangan meyakini bahwa hingga kini jendela tersebut tetap dijaga dan tidak pernah ditutup sebagai bentuk penghormatan terhadap janji Umar bin Khattab RA kepada putrinya.
Terlepas dari berbagai versi riwayat yang berkembang, kisah ini memperlihatkan betapa besar cinta keluarga Rasulullah SAW kepada beliau, bahkan setelah wafatnya.
Masjid Nabawi bukan hanya tempat ibadah kedua paling suci dalam Islam setelah Masjidil Haram. Di setiap sudutnya tersimpan sejarah perjuangan, cinta, dan pengorbanan para sahabat serta keluarga Rasulullah SAW.
Tak heran bila banyak jemaah yang datang ke Madinah merasa haru ketika berada di dekat Raudhah dan makam Nabi Muhammad SAW.
Sebab di tempat itulah, jejak kehidupan Rasulullah SAW masih terasa begitu dekat di hati umat Islam hingga hari ini.
