MADANINEWS.ID, JAKARTA — Selain ibadah Arbain, berkesempatan beribadah di Raudhah juga dimanfaatkan oleh seluruh jemaah haji Indonesia. Raudhah adalah tempat yang berada di antara rumah Nabi (sekarang makam Nabi) dan mimbar. Luas dari arah timur ke barat sepanjang 22 meter dan dari utara ke selatan 15 meter.
Dinamakan raudhah sesuai dengan hadis beliau yang berbunyi:
ما بين بيتي ومنبري رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
“Di antara rumahku dan mimbarku ada raudhah min riyadhil Jannah (sebuah taman di antara taman-taman surga.” (HR. Bukhari)
Allah memuliakan tempat tersebut dari tempat lain sesuai dengan kehendak-Nya. Raudhah sering juga disebut dengan taman surga yang ada di dunia sekarang. Bagaimana tidak, dengan berdoa di raudhah, maka doa pun niscaya akan dikabulkan oleh Allah. Dari situlah orang-orang banyak berlomba-lomba untuk bisa mendatangi raudhah untuk berdoa, meski melalui antrian yang panjang. Tempat tersebut membawa orang-orang seakan-akan sedang berada di taman surga yang sesungguhnya. Lantunan takbir, tahmid, tahlil, dan shalawat menggema dimana-mana.
Kawasan Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau muda yang sangat berbeda dengan warna karpet di ruangan lain di dalam masjid Nabawi. Sebab ruangan lain di dalam masjid Nabawi didominasi dengan karpet yang berwarna merah. Kawasan Raudhah juga memiliki 5 pilar atau tiang yang berwarna putih dengan atap yang berhiaskan ornamen kaligrafi klasik.
Raudhah adalah tempat yang sangat mulia dimana dahulu Rasulullah SAW melakukan ibadah, memimpin salat, menerima wahyu dan juga menjadi tempat ibadah bagi para sahabat. Lokasi Raudhah sebenarnya merupakan tempat shaf bagi para laki-laki dan hanya terbuka bagi kaum perempuan pada jam-jam tertentu. Yaitu pada saat waktu dhuha, waktu dhuhur, dan waktu isya. Dengan ukuran 22 x 15 meter, Raudhah pun hanya cukup untuk menampung beberapa puluh jamaah.
Meskipun begitu, Raudhah selalu menjadi salah satu tempat yang diperebutkan oleh ribuan jamaah haji dan umroh. Lalu mengapa ribuan jamaah tersebut berebut untuk memasuki Raudhah? Rupanya, Raudhah yang bersebelahan dengan makam Rasulullah SAW di dalam kompleks Masjid Nabawi merupakan tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Dengan berdoa di Raudhah, maka doa pun niscaya akan dikabulkan oleh Allah.
Bagi Jamaah haji yang hendak masuk ke Raudhah, pengelola Masjid Nabawi telah menetapkan ketentuan dan tata cara masuk Raudhah. Pertama, setiap jamaah haji bisa masuk ke Raudhah satu kali, bersama jemaah kloter, sesuai dengan jadwal yang ditentukan dari Kantor Daerah Kerja Madinah.
“Kedua, jadwal masuk ke Raudhah berlaku sekali dan tidak bisa diganti ke waktu yang lain,” kata Koordinator Media Center Haji (MCH) PPIH Pusat Dodo Murtado di Jakarta beberapa waktu lalu.
Selanjutnya, kata Dodo, ketua kloter berkoordinasi dengan pembimbing ibadah sektor untuk mendapatkan informasi jadwal masuk ke Raudhah.
“Setelahnya, jemaah kloter menuju sekitar area pintu 37 dan 38, atau pintu pagar 359 Masjid Nabawi, satu jam sebelum jadwal masuk Raudhah,” ujarnya.
“PPIH mengimbau jemaah agar mengikuti arahan dari petugas sektor khusus Masjid Nabawi,” tambah dia.
Untuk memasuki kawasan Raudhah, para jamaah harus bersabar mengantri dengan para jamaah lainnya. Selain itu, datanglah ke masjid pada awal pintu masjid dibuka agar memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan salat, zikir dan membaca Alquran di kawasan tersebut. Kawasan Raudhah akan benar-benar terasa seperti taman surga saat para jamaah melantunkan takbir, tahmid, tahlil, shalawat kepada Rasulullah SAW dan doa lirih yang dipanjatkan.
Satu hal yang perlu diingat, Raudhah berada di antara makam Rasulullah SAW dan makam para sahabat. Oleh sebab itu, saat berdoa hendaknya tidak menghadap ke makam namun menghadap ke kiblat. Selain itu, saat mengunjungi makam Rasulullah SAW tak perlu mengusap-usap jendela makam ataupun mencium makam Rasulullah SAW. Sebab hal tersebut tidak dianjurkan dalam syariat Islam, cukup lantunkan saja shalawat kepada Rasulullah SAW dan para sahabat beserta keluarga.
