MADANINEWS.ID, BONE – Di antara ribuan jamaah calon haji yang bersiap menuju Tanah Suci tahun ini, kisah Patimang Hibbu Manne menjadi potret keteguhan dan kesabaran yang tak banyak disorot. Di usia 86 tahun, perempuan asal Kabupaten Bone itu akhirnya menapakkan langkah menuju Makkah setelah penantian panjang selama 16 tahun—dengan bekal dari hasil mengumpulkan rumput laut.
Di Asrama Haji Sudiang Makassar, Rabu, wajah Patimang tampak tenang, menyiratkan rasa syukur yang dalam.
“Alhamdulillah, saya sangat bahagia di usia yang sudah tidak lagi muda ini masih diberikan kesempatan untuk datang ke Tanah Suci Makkah,” ujarnya dikutip dari antara Kami (23/04).
Menyusuri Pesisir, Mengumpulkan Harapan
Sejak muda, Patimang bukanlah petani rumput laut yang memiliki lahan atau jaring. Ia hanya menyusuri pinggir laut dengan sampan kecil, memungut sisa-sisa rumput laut yang tercecer.
“Saya bukan petani rumput laut seperti kebanyakan yang memasang jaring, saya hanya menyusuri pinggir laut untuk mencari rumput laut sisa yang banyak tersebar dengan menggunakan sampan kecil,” katanya.
Hasilnya jauh dari kata cukup. Setiap kilogram rumput laut yang ia kumpulkan hanya dihargai sekitar Rp1.000. Namun dari jumlah yang terbilang sangat kecil itu, ia tetap menyisihkan sebagian untuk ditabung.
Sedikit demi sedikit, recehan itu berubah menjadi harapan.
Menabung di Tengah Keterbatasan
Sejak mendaftar haji pada 2010, Patimang mulai menata mimpinya dengan cara yang sederhana: menabung dari hasil kerja hariannya. Tak hanya untuk biaya hidup, tetapi juga untuk melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih).
Sebagai seorang janda yang hidup sebatang kara, ia tak memiliki sumber penghasilan tetap. Kini, di usia senja, ia bahkan tak lagi mampu bekerja dan bergantung pada bantuan sosial serta uluran tangan kerabat.
Namun keterbatasan tak pernah menghentikan langkahnya.
Penantian Panjang yang Terbayar
Selama 16 tahun menunggu, Patimang tetap menyimpan keyakinan bahwa suatu hari ia akan berangkat ke Tanah Suci. Keyakinan itu kini menjadi kenyataan.
Di tengah kondisi fisik yang kian renta, ia mengaku siap menjalani seluruh rangkaian ibadah haji selama berada di Arab Saudi.
Tak ada keluhan, tak ada tuntutan. Hanya rasa ikhlas dan penerimaan atas apa pun yang akan dihadapinya.
Bagi Patimang, perjalanan ini bukan sekadar ibadah, tetapi juga puncak dari perjalanan hidup yang panjang dan penuh perjuangan.
Dari pesisir laut yang sunyi hingga kini menuju Tanah Suci, langkahnya menjadi pengingat bahwa mimpi tak selalu lahir dari kemudahan, melainkan dari kesabaran yang dijaga bertahun-tahun.
