MADANINEWS.ID, YOGYAKARTA – Di sudut sederhana Maguwoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kisah tentang harapan yang dirawat dalam diam perlahan menemukan jalannya. Bukan dari kemewahan, melainkan dari asap dapur dan peluh yang jatuh setiap pagi, Rahudin Hasan (61) dan Siti Koringah (52) menabung mimpi yang kini menjadi nyata: berangkat haji ke Tanah Suci.
Perjalanan itu bukan kisah singkat. Ia adalah potongan waktu selama 14 tahun—tentang kesabaran, ketekunan, dan keyakinan bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya.
Dari Tukang Kebun ke Penjual Gudeg
Awal perjuangan Rahudin, atau akrab disapa Udin, dimulai pada 2009. Saat itu, ia bekerja sebagai tukang kebun di sebuah sekolah. Penghasilan yang didapat tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Gaji sebulan hanya cukup untuk hidup dua minggu. Kemudian saya beranikan diri utang uang Rp 1 juta untuk modal. Kemudian saya jualan gudeg di bawah pohon rambutan itu,” kata Udin.
Di bawah pohon rambutan, dengan tenda sederhana, ia memulai usaha kecilnya. Setiap hari, sejak dini hari, ia melayani warga yang mencari sarapan. Dari tempat itulah, perlahan rezeki mulai mengalir.
“Di sebelah sini sebelum ada ruko kan ini kebon semua. Di sini ada pohon rambutan kemudian saya jualan di bawahnya pakai tenda aja,” bebernya.
Menabung Mimpi, Sedikit Demi Sedikit
Dari hasil jualan gudeg dan jajanan pasar, Udin tak hanya mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi juga mulai menyisihkan sebagian penghasilan untuk mimpi besar: berhaji.
Butuh waktu sekitar tiga tahun hingga akhirnya ia berhasil mengumpulkan setoran awal.
“Mendaftar haji itu tahun 2012. Waktu itu saya nabung selama kurang lebih tiga tahun kalau nggak salah, dapat uang Rp 25 juta terus kita mendaftar,” ucapnya.
Sejak saat itu, perjalanan panjang dimulai. Udin dan istrinya terus menabung hingga biaya haji bisa dilunasi. Tak ada jalan pintas—hanya konsistensi dan doa yang menyertai.
Peran Sederhana, Dampak Luar Biasa
Di balik keteguhan Udin, ada peran Siti Koringah yang tak kalah besar. Ia menabung dari sisa uang belanja harian, nominal kecil yang dikumpulkan dengan penuh disiplin.
“Kalau ada sisa belanja ya ditabung. Kadang Rp 50 ribu sampai Rp100 ribu sehari, yang penting disisihkan,” kata Siti.
“Soalnya kalau kita langsung juga nggak bisa, terus pokoknya yang penting kita sisihkan dikit-dikit,” lanjutnya.
Dari recehan yang mungkin terlihat sederhana, justru terbangun fondasi mimpi besar. Sebuah bukti bahwa keistiqamahan seringkali lebih kuat dari jumlah.
Waktu berjalan. Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya panggilan itu datang. Setelah 14 tahun menunggu, keduanya dijadwalkan berangkat pada 24 April mendatang.
Persiapan pun dilakukan, mulai dari manasik hingga belajar mandiri melalui berbagai sumber.
“Selain manasik, saya juga belajar dari YouTube soal tata cara haji,” kata Udin.
Namun bagi Siti, perjalanan ini masih terasa seperti mimpi.
“Kita itu apa ya, padahal kita dulu pernah piye (bagaimana) apa mungkin bisa ke sana (Mekkah). Soalnya biaya juga mahal terus kita itu orang cuman jualan kayak gini. Tapi alhamdulillah Gusti Allah paring kelancaran,” katanya.
Haji: Tentang Niat, Ikhtiar, dan Keyakinan
Kisah Udin dan Siti bukan sekadar tentang keberangkatan ke Tanah Suci. Ia adalah cermin bahwa ibadah haji bukan hanya milik mereka yang berkecukupan, tetapi juga bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam niat dan ikhtiar.
Dari bawah pohon rambutan hingga ke Makkah, perjalanan ini menjadi bukti bahwa mimpi yang dijaga dengan sabar akan menemukan jalannya.
Dan di balik setiap langkah mereka nanti, ada cerita panjang tentang kerja keras, doa yang tak putus, dan keyakinan yang tak pernah padam.
