MADANINEWS,ID, CIREBON – Di bawah terik matahari dan denting khas bel es keliling, langkah Ili tak pernah benar-benar berhenti. Hari demi hari ia susuri gang-gang sempit di Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, mendorong gerobak es mung-mung—jajanan sederhana yang menjadi sumber penghidupannya.
Namun di balik rutinitas yang tampak biasa itu, tersimpan satu tujuan besar yang ia genggam erat selama puluhan tahun: menapaki perjalanan menuju Baitullah.
Tak ada yang instan dalam perjalanan Ili menuju haji. Ia memulainya dari sesuatu yang tampak kecil—menyisihkan sisa uang dagangan.
“Datang ke Cirebon dulu tidak bawa apa-apa, susah sekali. Ikut kakak. Tapi alhamdulillah bisa nabung sedikit demi sedikit, dari Rp 10.000 sampai Rp 20.000 dari sisa dagang,” tutur Ili dikutip dari detik Senin (20/04).
Sejak 2005, niat itu ia rawat dengan disiplin. Tak peduli berapa pun penghasilan hari itu, selalu ada bagian yang disisihkan.
“Kalau ada lebih, Rp 50.000 disisihkan. Kadang musim hujan cuma Rp 30.000, kalau ramai bisa sampai Rp 500.000,” katanya.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin kecil. Tapi bagi Ili, itulah fondasi dari mimpi besar yang terus ia bangun perlahan.
Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Menjadi pedagang keliling bukan tanpa tantangan. Cuaca menjadi penentu, dan penghasilan sering kali tak menentu.
“Kalau musim hujan sedih, kadang untuk makan saja susah. Tapi tetap diniatkan, alhamdulillah selalu ada jalan,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan, ia tak hanya bertahan—ia berkembang. Usahanya sempat tumbuh hingga memiliki 19 karyawan pada 2010. Dari gerobak dorong sederhana, ia beralih menggunakan motor untuk menjangkau lebih banyak pembeli.
Setiap porsi es mung-mung yang terjual, seakan menjadi saksi perjalanan panjang menuju Tanah Suci.
Penantian Panjang yang Terbayar
Perjalanan itu akhirnya menemukan titik terang saat Ili mendapatkan nomor porsi haji pada 2013. Setelah penantian bertahun-tahun, kini ia dijadwalkan berangkat pada 19 Mei 2026.
Di rumah sederhananya di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Sumber, suasana haru terasa. Kain ihram, tas, dan perlengkapan haji telah tersusun rapi. Di sampingnya, sang istri, Yayah, setia mendampingi.
Di halaman, gerobak es berwarna mencolok itu masih terparkir—diam, namun sarat makna. Ia bukan sekadar alat mencari nafkah, melainkan saksi bisu perjuangan panjang yang kini berbuah manis.
“Seperti Bos-Bos, Padahal Saya Cuma Jualan Es”
Rasa haru tak bisa disembunyikan saat Ili menceritakan momen keberangkatannya.
“Bahagia sekali, seperti orang-orang lain, seperti bos-bos. Padahal saya cuma jualan es,” ucapnya sambil tersenyum.
Dalam kesederhanaannya, tersimpan kebesaran hati yang tak ternilai.
Lebih dari sekadar perjalanan pribadi, Ili menyimpan doa untuk orang-orang di sekitarnya.
“Mudah-mudahan anak cucu, keluarga, dan teman-teman juga bisa ke Baitullah,” harapnya.
Kisah Ili menjadi pengingat bahwa jalan menuju Tanah Suci tidak selalu dimulai dari kelapangan, tetapi dari niat yang dijaga, usaha yang konsisten, dan keyakinan bahwa setiap langkah kecil akan menemukan jalannya.
