MADANINEWS.ID – Haji Indonesia sejak dari masa lampau dicatat memiliki jumlah yang sangat banyak. Dengan demikian tidak hanya saat ini saja, khususnya sebelum masa pandemi. Banyaknya jumlah haji Indonesia ini dapat dimaklumi, karena umat Islam Indonesia memiliki jumlah terbanyak di dunia.
Banyaknya jumlah haji dari Indonesia ini misalnya dapat dilihat dari data informasi kedatangan haji di Jedah. Sebagaimana diketahui pada masa lalu, haji non Arab kala akan melakukan ibadah haji melalui pelabuhan Jedah. Hal ini karena belum ada transfortasi udara. Perjalanan haji masih menggunakan transfortasi laut.
Jumlah Haji Indonesia Capai 47 Persen
Berdasarkan data informasi kedatangan haji di Jedah ‒ di mana Jedah kala itu sebagai pusat kedatangan haji yang menggunakan kapal ‒ haji Indonesia dicatat ada yang mencapai 47 % dari jumlah haji yang mendarat di Jedah. Prosentase yang tentu sangat besar. Prosentase yang juga menunjukkan semangat melaksanakan ibadah haji masyarakat Indonesia sangat besar.
Jumlah Haji Indonesia Era Hindia Belanda.docx
Pada masa itu, perjalanan haji diselenggarakan oleh tiga maskapai perkapalan Belanda. Sayangnya penyelenggaraan haji tersebut masih murni berorientasi pada bisnis. Mereka tidak mengutamakan kesejahteraan jamaah haji. Kapal diisi terlalu penuh dengan kondisi makanan dan kesehatan yang kadang-kadang sangat memprihatinkan.
Semangat pada orientasi bisnis ini, pada saat ini seperti sebagai warisan yang tidak bisa dihilangkan. Sebab orientasi bisnis tetap menjadi bagian dari penyelenggaraan haji Indonesia kini. Ketidakprofesialan menjadi pemandangan biasa atas penyelenggaraan haji yang diselenggarakan secara rutin tersebut.
Dan ketika ketidakprofesialan dalam penyelenggaraan haji dikonfrontasi, mereka dengan ringan menyuruh para jamaah haji untuk bersabar dengan alasan karena sedang menjalankan ibadah haji. Jamaah haji harus sabar menerima ujian, tidak boleh protes, jangan ribut, harus sabar agar pahalanya semakin besar, telah menjadi senjata guna meredam semua audit dari jamaah haji.
Orientasi Bisnis Harus Dievaluasi
Orientasi bisnis dalam penyelenggaraan haji Indonesia bahkan semakin berkembang. Bila dulu hanya sekedar melakukan pengurangan fasilitas yang diberikan demi keuntungan yang maksimal, pada saat ini lebih maju. Salah satunya misalnya dengan penyertaan setoran awal dalam berhaji. Dana yang mengendap menjadi bagian bisnis yang sangat besar.
Namun seperti orientasi bisnis sebelumnya, orientasi bisnis tidak selalu menguntungkan jamaah haji. Hal ini karena semangat orientasi bisnis tidak sepenuhnya dimaksimalkan untuk kepentingan para jamaah langsung. Orientasi bisnis yang telah ada dalam penyelenggaraan haji semenjak era Hindia Belanda ini, sudah saatnya perlu di evaluasi pada era saat ini.*
