MADANINEWS.ID, JAKARTA — Hidayah memiliki permulaan dan akhir serta aspek lahir dan batin. Untuk mencapai titik akhir tersebut, permulaannya harus tersusun rapi. Begitu pula, untuk menyingkap aspek batinnya, harus diketahui terlebih dahulu aspek lahirnya.
Imam Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menerangkan bahwa permulaan dari datangnya sebuah hidayah dalam hati seseorang adalah jika sampai padanya sebuah kebenaran dan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian orang tersebut mendapati hatinya condong pada petunjuk tersebut lalu berusaha untuk menggapainya. Maka setelah itu akan terlihat perjalanan akhir darinya yang melaju dalam lautan hidayah.
Sehingga dalam kitabnya tersebut Imam Ghazali menyebutkan
فإن قلت: فما بداية الهداية لأجرب بها نفسي، فاعلم أن بدايتها ظاهرة التقوى، ونهايتها باطنة التقوى؛ فلا عاقبة إلا بالتقوى، ولا هداية إلا للمتقين. والتقوى، عبارة عن امتثال أوامر الله تعالى، واجتناب نواهيه
“Apabila engkau bertanya, “Apa permulaan dari hidayah tersebut sehingga aku bisa menguji diriku dengannya?” Maka ketahuilah bahwa hidayah bermula dari ketakwaan lahiriah dan berakhir dengan ketakwaan batiniah. Tak ada balasan kecuali dengan takwa dan tak ada hidayah kecuali bagi orang-orang bertakwa. Takwa adalah ungkapan yang mengandung makna melaksanakan perintah Allah Swt. dan menghindarkan larangan-larangan-Nya.”
Sebaliknya, menurut Imam Ghazali, jika seseorang mendapati hatinya berat dan lengah dalam mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya sebagai seorang mukallaf. Ketahuilah bahwa jiwa yang mendorongnya untuk lengah adalah jiwa al-ammaarah bi as-su’, nafsu yang memerintahkan pada keburukan.
Jiwa tersebut bangkit karena taat kepada setan yang menjerat dengan tali tipuan. Ia ingin agar setiap muslim memperbanyak kejahatan dalam bentuk kebaikan sehingga ia bisa menjerumuskannya ke dalam kelompok orang yang merugi dalam amalnya.
Siapakah orang yang merugi dalam amalnya? Imam Ghazali menyebut bahwa mereka yang tersesat di dunia ini, yang mengira bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan baik. Sebagaimana Allah berfirman
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(QS. Al-Kahfi; 103-104)
