Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Penyebab Datang dan Hilangnya Hidayah

Abi Abdul Jabbar Sidik
7 September 2020 | 13:00
rubrik: Islamika, Renungan Hati
Penyebab Datang dan Hilangnya Hidayah
Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA —  Hidayah memiliki permulaan dan akhir serta aspek lahir dan batin. Untuk mencapai titik akhir tersebut, permulaannya harus tersusun rapi. Be­gitu pula, untuk menyingkap aspek batinnya, harus di­ketahui terlebih dahulu aspek lahirnya.

Imam Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menerangkan bahwa permulaan dari datangnya sebuah hidayah dalam hati seseorang adalah jika sampai padanya sebuah kebenaran dan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian orang tersebut men­dapati hatinya condong pada petunjuk tersebut lalu berusaha untuk menggapainya. Maka setelah itu akan terlihat perjalanan akhir darinya yang me­laju dalam lautan hidayah.

Sehingga dalam kitabnya tersebut Imam Ghazali menyebutkan

فإن قلت: فما بداية الهداية لأجرب بها نفسي، فاعلم أن بدايتها ظاهرة التقوى، ونهايتها باطنة التقوى؛ فلا عاقبة إلا بالتقوى، ولا هداية إلا للمتقين. والتقوى، عبارة عن امتثال أوامر الله تعالى، واجتناب نواهيه

“Apabila engkau bertanya, “Apa permulaan dari hida­yah tersebut sehingga aku bisa menguji diriku dengan­nya?” Maka ketahuilah bahwa hidayah bermula dari ketakwaan lahiriah dan berakhir dengan ketakwaan ba­tiniah. Tak ada balasan kecuali dengan takwa dan tak ada hidayah kecuali bagi orang-orang bertakwa. Takwa adalah ungkapan yang mengandung makna melaksana­kan perintah Allah Swt. dan menghindarkan larangan-­larangan-Nya.”

Sebaliknya, menurut Imam Ghazali, jika seseorang men­dapati hatinya berat dan lengah dalam mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya sebagai seorang mukallaf. Ketahuilah bahwa jiwa yang mendorongnya untuk lengah adalah jiwa al-ammaarah bi as-su’, nafsu yang memerintahkan pada keburukan.

Jiwa tersebut bangkit karena taat ke­pada setan yang menjerat dengan tali tipuan. Ia ingin agar setiap muslim mem­perbanyak kejahatan dalam bentuk kebaikan sehingga ia bisa menjerumuskannya ke dalam kelompok orang yang me­rugi dalam amalnya.

See also  Waktu Terbaik untuk Bersedekah Menurut Imam Al-Ghazali

Siapakah orang yang me­rugi dalam amalnya? Imam Ghazali menyebut bahwa mereka yang tersesat di dunia ini, yang mengira bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan baik. Sebagaimana Allah berfirman

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(QS. Al-Kahfi; 103-104)

Tags: HIDAYAHIMAM GHAZALI
Previous Post

Kisah Perjuangan Afra’ binti Ubaid, Sang Ibunda dari Tujuh Syuhada

Next Post

Sebelum Gunakan Obat Herbal Covid 19, Cek Dulu Di BPOM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks