Sengaja Terlambat atau Tak Mendengarkan Khutbah Jumat, Bagaimana Hukumnya?

Penulis Abi Abdul Jabbar

MADANINEWS.ID, JAKARTA — Sebagaimana maklum diketahui bahwa khutbah Jumat merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pelaksanaan Jumat. Namun, dalam kenyataannya masih ditemukan jamaah yang sengaja terlambat bahkan tidak ikut mendengarkannya.

Sebagian mungkin masih terlihat nyantai bermain gadget di rumahnya, sebagian masih sibuk dengan kegiatannya dan masih banyak hal lagi yang melatarbelakangi keterlambatan mereka. Dalam pandangan fiqih, bagaimana hukum sengaja terlambat atau tidak ikut mendengarkan khutbah? Anjuran mendengarkan khutbah dirumuskan berdasarkan firman Allah ﷻ:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf, ayat 204).

Menurut mayoritas mufassirin, kata “al-Quran” dalam ayat tersebut ditafsiri dengan khutbah. Atas dasar ayat tersebut, ulama menyimpulkan kesunahan bagi jamaah untuk mendengarkan dan memperhatikan khutbah secara seksama.

Syekh Zakariyya al-Anshari menegaskan:

قال: ( وينبغي) أي يستحب للقوم السامعين وغيرهم ( أن يقبلوا عليه ) بوجوههم ؛ لأنه الأدب ولما فيه من توجههم القبلة ( و ) أن ( ينصتوا ويستمعوا ) قال تعالى { وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا } ذكر كثير من المفسرين أنه ورد في الخطبة وسميت قرآنا لاشتمالها عليه 

Dan disunahkan bagi jamaah, baik yang mendengarkan atau selainnya, menghadap khatib dengan wajah mereka, karena hal tersebut merupakan etika dan membuat mereka menghadap qiblat. Dan sunah bagi mereka untuk memperhatikan dan mendengarkan khutbah. Allah ﷻ berfirman, Dan apabila dibacakan Al-Qur’an (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang. Mayoritas pakar tafsir menyebutkan bahwa ayat tersebut turun dalam persoalan khutbah, disebut dengan al-Quran, karena khutbah memuat ayat Al-Qur’an.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 3, hal. 469).

Agama melarang segala bentuk aktivitas yang melalaikan diri untuk berangkat Jumatan sejak muadzin mengumandangkan azan kedua (saat khatib duduk di atas mimbar). Aktivitas yang dimaksud meliputi jual beli, bermain gadget, bahkan yang bersifat ibadah sekalipun seperti membaca Al-Qur’an. Larangan tersebut berlandaskan firman Allah ﷻ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah, ayat 9).

Dianalogikan dengan keharaman jual beli dalam ayat di atas, segala bentuk aktivitas yang dapat melalaikan diri untuk berangkat jumatan. Larangan jual beli dalam ayat di atas berlaku untuk orang yang berkewajiban melaksanakan Jumat. 

Syekh Jalaluddin al-Mahalli mengatakan:

قال: ( ويحرم على ذي الجمعة ) أي من تلزمه ( التشاغل بالبيع وغيره ) المزيد في الروضة من العقود والصنائع وغيرها ( بعد الشروع في الأذان بين يدي الخطيب ) قال تعالى : { إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع } أي اتركوه والأمر للوجوب وهو بالترك فيحرم الفعل وقيس على البيع غيره مما ذكر لأنه في معناه في تفويت الجمعة 

Haram bagi yang wajib Jumat menyibukan diri dengan jual beli dan selainnya yaitu beberapa transaksi, pekerjaan dan lainnya, setelah muadzin memulai azannya yang kedua di hadapan khatib, Allah berfirman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Kata perintah dalam ayat ini mengarah kepada kewajiban, dalam konteks ini dengan cara meninggalkan jual beli, maka haram melakukannya. Dianalogikan dengan jual beli, segala aktivitas yang telah kami jelaskan di atas, sebab secara substansi sama dengan jual beli dalam hal melalaikan Jumat.” (Syekh Jalaluddin al-Mahalli, Kanz al-Raghibin Syarh Minhaj al-Thalibin, juz 1, hal. 334).

Keharaman menyibukan diri dengan ibadah yang berdampak melalaikan Jumat disampaikan secara tegas oleh Syekh Muhammad al-Ramli sebagai berikut

: وهل الاشتغال بالعبادة كالكتابة كالاشتغال بنحو البيع؟ مقتضى كلامهم نعم

Dan apakah sibuk dengan ibadah seperti menulis hukumnya sama dengan jual beli?. Indikasi dari statemen para ulama menyatakan sama (hukumnya haram).” (Syekh Muhammad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 2, hal. 344).

Keharaman melakukan jual beli dan yang sejenisnya tidak berlaku ketika dilakukan di masjid atau di tengah jalan saat menuju masjid atau tempat pelaksanaan Jumat. Sebab hal tersebut tidak dapat melalaikan kewajiban Jumat.

Syekh Syarafuddin Yahya al-Nawawi mengatakan:

وحيث حرمنا البيع فهو في حق من جلس له في غير المسجد أما إذا سمع النداء فقام في الحال قاصدا الجمعة فتبايع في طريقه وهو يمشي ولم يقف أو قعد في الجامع فباع فلا يحرم لكنه يكره صرح به المتولي وغيره وهو ظاهر لان المقصود أن لا يتأخر عن السعي الي الجمعة

Ketika kita mengharamkan jual beli, maka hal tersebut untuk orang yang duduk bertransaksi di luar masjid. Adapun bila ia mendengar azan, kemudian ia berdiri seketika menuju tempat Jumat dan ia berjualan di tengah jalan sambil berjalan (ia tidak berhenti), atau ia duduk di masjid jamik dan berjualan, maka hal tersebut tidak haram, namun makruh. Sebagaimana dijelaskan Imam al-Mutawalli dan lainnya. Dan hal ini jelas, sebab maksud utama adalah agar ia tidak terlambat berangkat Jumatan.” (Syekh Syarafuddin Yahya al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz 4, hal. 500).

Mencermati referensi-referensi di atas dapat dipahami bahwa jamaah yang sengaja tidak mendengarkan khutbah dengan menyibukan diri di tempat lain yang dapat melalaikan Jumat hukumnya adalah haram.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar