Jelajah Wisata Religi di Kota Wali Cirebon

Penulis Abi Abdul Jabbar

MADANINEWS.ID — Negeri ini kaya akan keanekaragaman destinasi wisata. Tak sebatas wisata alam, budaya, sejarah, atau kuliner saja. Ada wisata religi yang banyak diminati wisatawan baik dalam maupun mancanegara. Salah satu kota yang menarik untuk dikunjungi adalah Cirebon.

Kota kecil di kawasan pantura yang terletak di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah ini banyak terdapat kawasan wisata religi yang tak pernah sepi. Dalam perkembangan sejarah Islam di negeri ini, Cirebon merupakan salah satu kota yang cukup terkenal. Sosok Syeikh Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati adalah satu dari sembilan wali penyebar ajaran Islam di tanah Jawa.

Di kota ini, Anda bisa mengunjungi empat keraton, Masjid Sang Cipta Rasa, Masjid Merah Panjunan, kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati dan yang lainnya. Kala menginjakkan kaki di kota wali ini, Anda akan merasakan atmosfer religius yang begitu kuat. Terlebih saat menyaksikan umat beribadah atau mengikuti ragam ritual tradisi dan keagamaan yang ada di sana.

Bangunan-bangunan bersejarah yang ada memiliki arsitektur perpaduan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Seperti tampak pada ciri khas bangunan keraton yang selalu menghadap ke utara dan ada sebuah masjid didekatnya. Setiap keraton mempunyai alun-alun sebagai tempat berkumpul, pasar dan patung macan di halaman depan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya kerajaan Cirebon. Sementara piring porselen asli China menjadi penghias dinding.

Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan adalah saksi sejarah panjang kota Cirebon, sejak abad 13 hingga sekarang. Keberadaannya tetap megah dan terawat hingga kini. Halaman depan keraton dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo di dalamnya. Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Di keraton ini terdapat museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka serta koleksi lukisan milik kerajaan.

Didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Muhammad Arifin II, salah seorang cicit Sunan Gunung Jati. Pada mulanya keraton ini bernama keraton Pakungwati yang diambil dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Dan Pangeran Mas Muhammad Arifin II, bergelar Panembahan Pakungwati I.

Keraton ini memiliki wilayah kekeratonan mencapai lebih dari 10 Ha. Lazimnya sebuah keraton di Pulau Jawa, keraton ini terletak di selatan alun-alun dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa hasil karya para wali di barat alun-alun. Ada banyak bangunan dengan tata letak dan arsitektur di dalam maupun di sekitar lingkungan keraton yang sarat dengan makna luhur.

Keraton Kanoman

Komplek Keraton kanoman Cirebon. (foto:istimewa)

Pada dasarnya, keberadaan Keraton Kanoman adalah bangunan yang pertama kali di bangun sebagai sebuah bangunan kerajaan sebelum pindah ke keraton Pakungwati (kasupuhan). Tak heran bila Keraton Kanoman adalah pusat peradaban Kesultanan Cirebon dan tertua di Cirebon.

Hanya saja, keberadaan komplek keraton ini terpencildi tengah Kota Cirebon. Bahkan boleh jadi nyaris tenggelam diantara bangunan Pasar Kanoman di bagian utara, jejeran ruko di sepanjang jalan Lemahwungkuk di sisi timur keraton, dan bangunan permukiman di sisi selatan dan barat.

Keraton Keprabon

Dari segi arsitek Keraton Keprabon yang terletak di Jalan Lemahwungkuk ini lebih tepat disebut bangunan ndalem. Sebab, lebih terlihat seagai sebuah bangunan pemangku adat (ndalem). Keraton Keprabon tidak memiliki struktur sebuah komplek atau bangunan keraton, tidak memiliki alun-alun, dan masjid agung.

Bahkan akses masuk menuju keraton ini hanyalah sebuah jalan sempit selebar tiga meter diantara jejeran ruko. Fisik bangunannya pun begitu sederhana, seperti tak menunjukkan kemewahan, kemegahan layaknya sebuah keraton. Tak lebih dari sebuah bangunan rumah biasa. Tapi, sebagai situs sejarah, dan bagian dari nasab Kesultanan Cirebon, bangunan ini memiliki ruh keraton.

Keraton Kacirebonan

Keraton Kacirebonan dibangun pada tanggal 1800 M. Keraton ini merupakan kesultanan pecahan dari Kesultanan Kanoman. Di komplek keraton ini banyak menyimpan benda-benda bersejarah seperti keris, wayang, perlengkapan perang, gamelan dan lain-lain. Di keraton ini pun kerap digelar ritual adat seperti upacara panjang jimat dan sebagainya. Terdapat pula sanggar tari khas Cirebon yakni Tari Topeng.

Sama halnya dengan Keraton Keprabon, dari segi arsitek Keraton Kacirebonan tak seperti layaknya bangunan keraton. Lebih seperti bangunan pembesar era kolonial Belanda yang tampak dari gaya arsitek ala Eropa. Keraton yang terletak di jalan Pulosaren ini memiliki akses paling mudah dibanding ketiga keraton lainnya.Tepatnya, 1 km sebelah barat daya dari keraton Kasepuhan dan 500 meter sebelah selatan keraton Kanoman.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. (foto:istimewa)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau dikenal sebagai Masjid Agung Kasepuhan. Ada pula yang mengenalnya sebagai Masjid Agung Cirebon.Inilah masjid yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan. Dalam catatan sejarah masjid tertua ini dibangun sekitar tahun 1480, semasa dengan Wali Songo.Terletak di sebelah utara Keraton Kasepuhan, masjid ini terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu, yang melambangkan Wali Songo.

Dari segi arsitektur, masjid ini kental memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon. Untuk bisa masuk ke ruang sholat utama, pengunjung musti menunduk, sebab pintu masuknya sembilan tadi sangat pendek. Keunikan lain dari masjid ini adalah adanya tradisi Azan Pitu, yakni azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih. Nah untuk bisa menemukan keunikan ini, Anda bisa mengunjunginya saat pelaksanaan sholat Jumat.

Masjid Merah

Interior Masjid Merah Cirebon. (foto:itimewa)

Masjid Merah atau dikenal dengan Masjid Merah Panjunan merupakan sebuah masjid tua yang terletak di kawasan Panjunan, Lemahwungkuk. Masjid yang semula hanyalah mushola bernama Al-Athaya ini dibangun pada tahun 1480 oleh Syarif Abdurrahman yang kemudian dikenal dengan Pangeran Panjunan.

Disebut masjid merah, lantaran pagar yang mengeliling masjid terbuat dari bata merah setebal 40 sentimeter dengan tinggi 1,5 meter. Pangeran Panjunan sebagai pendirinya memadukan budaya dan agama setempat sebelum masuknya Islam. Dari segi arsitek pun masjid ini banyak dipengaruhi gaya Jawa dan Cina. Sebelumnya bangunannya berukuran 40 meter persegi saja, lalu diperluas menjadi 150 meter persegi.

Masjid At-Taqwa

Masjid Raya At-Taqwa Cirebon. (foto:istimewa)

Salah satu tempat bersejarah lainnya adalah Masjid Raya At-Taqwa. Masjid yang didirikan pada tahun 1918 di kampung Kejaksan itu terdiri dua bagian yakni Tajug Agung dan alun-alun. Lantaran di Cirebon waktu itu sudah ada Masjid Agung, kemudian RM Arhatha, kepala Koordinator Urusan Agama Cirebon pada tahun 1951 merenovasi bangunan. Dan peresmian nama Masjid At-Taqwa dilakukan pada tahun 1963.

Selain beberapa situs sejarah berupa keraton dan masjid, di kota wali ini terdapat pula tempat bersejarah lainnya seperti Makam Sunan Gunung Jati, Makam Syekh Magelung, Makam Nyi Mas Gandasari serta beberapa situs ‘petilasan’ tokoh penyebar Islam lainnya. 

BACA JUGA

Tinggalkan komentar