MADANINEWS.ID, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiya Haedar Nashir dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang sosiologi pada Kamis (12/12) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Mengangkat tema pidato Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan, acara pengukuhan guru besar Haedar Nashir dihadiri sejumlah tokoh nasional. Di antaranya mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, Menteri Koperasi Teten Masduki, Mensesneg Pratikno, mantan menteri KKP Susi Pudjiastuti, mantan Menpan RB Syafruddin,Menko PMK Muhadjir Effendy, Menag Fachrul Razi, Ketum PAN Zulkifli Hasan tokoh Muhammadiyah Malik Fadjar, Buya Syafii Maarif, dan lainnya.
Dalam pidatonya, Haedar menyinggung kondisi Indonesia. Menurutnya, belakangan kondisi bangsa digambarkan seakan dalam kondisi darurat ‘radikal’ dan ‘radikalisme’. Kondisi itu menimbulkan kontroversi.
“Indonesia dalam kurun terakhir seakan berada dalam darurat radikal dan radikalisme,” ucap Haedar di awal pidatonya
Menurutnya, sebenarnya masalah radikalisme dalam kuasa ideologi dan sistem liberalisme dan kapitalisme di Indonesia pasca-Reformasi jauh lebih besar daripada radikalisme agama dalam kehidupan berbangsa.
Untuk itu, kata Haedar, bangsa Indonesia harus mampu menyelesaikan berbagai masalah radikalisme di berbagai lini kehidupan bangsa, bukan hanya memfokuskan diri para persoalan radikalisme beragama.
“Indonesia harus mampu menyelesaikan masalah radikalisme dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan agar berjalan ke depan sesuai dengan landasan, jiwa, pikiran, dan cita-cita nasional,” tutupnya.
