Home Gaya Hidup Wisata Halal Rainbow Village, Kampung Perlawanan Yang Inspiratif dari Taiwan

Rainbow Village, Kampung Perlawanan Yang Inspiratif dari Taiwan

 

Jika kita di Taichung Taiwan, kita akan mengenal sebuah kampung perlawanan. Kampung itu bernama Rainbow Village. Kampung perlawanan atas penggusuran rumah veteran perang Taiwan.

Pelaku perlawanan itu adalah Huang Yung-Fu. Kakek kelahiran Taishan di Guangdong tahun 1924 ini, merupakan mantan tentara  veteran Perang Sino-Jepang Kedua tahun 1937 dan  perang melawan Pemerintah Komunis Mao Zedong tahun 1949.

Menolak Digusur

Setelah di berada Taiwan, ia bersama tentara lainnya ditempatkan di perumahan di kompleks tentara. Ada 1.200 rumah di komplek tersebut.

Di tahun 1978, Huang pensiun dan membeli bungalow di kompleks perumahan tersebut.
Namun tiba-tiba, pemerintah Taiwan mengeluarkan peraturan untuk merubuhkan semua kompleks perumahan tentara di berbagai penjuru Taiwan, termasuk yang ditinggali Huang.

Di kompleks perumahan Huang, rumah satu-satu dirubuhkan, sehingga tersisa 11 rumah. Huang tidak kecil hati. Ia tetap bertahan. Semua tetangga telah hilang. Namun ia tetap memilih tinggal seorang diri. Baginya tempat tinggalnya demikian berharga karena menyimpan semua kenangannya.

Melawan Dengan Budaya

Saat desakan untuk pindah terus dilakukan, pada tahun 2008, di usianya yang demikian lanjut, Huang melawan dengan budaya. Medianya melalui lukisan.

Ia mulai melukis dinding rumahnya. Awalnya hanya berupa lukisan burung kecil di rumahnya, lalu berlanjut ada gambar kucing, manusia, dan pesawat. Gambar-gambar tersebut ia buat, sebagai langkah perlawanan supaya pemerintah tidak merobohkan tempat tinggalnya.

Mendapat Dukungan Masyarakat

Karena Huang terus melukis dan tetap tidak mau pindah, pada tahun ke dua perlawanannya,  seorang mahasiswa dari Universitas Ling Tung melihat kegigihan Huang. Mahasiswa itu lalu menggalang dana untuk membantu Huang membeli cat.

Ia juga membuat petisi, lengkap dengan kisah perjuangan Huang, untuk memprotes pembongkaran pemukiman. Petisi tersebut ternyata sangat menarik perhatian masyarakat.

Win-Win Solution

Dukungan terhadap perjuangan Huang semakin mengemuka. Dukungan publik ke Huang membuat rencana pembongkaran pemukiman dibatalkan. Sebelas rumah termasuk yang ditinggali Huang kemudian dilestarikan. Huang akhirnya dapat tinggal di sana dengan tenang.

Rumah Huang dan sebelas rumah lainnya kemudian dijadikan area wisata. Area wisata ini dikenal dengan nama Rainbow Village. Hingga saat ini, banyak wisatawan berkunjung. Dalam setahun dicatat tidak kurang mencapai 1 juta orang.

Perang budaya memberi dampak Win-Win Solution. Huang memang menang, namun pemerintah juga menang. Hal ini karena destinasi wisata di Taiwan bertambah. Selain itu dengan banyaknya wisatawan yang datang, membuka peluang kerja dan hal positif lain.

Sebuah Inspirasi

Kemenangan kampung perlawanan tentu saja sangat menginspirasi. Hal ini karena melawan dengan budaya ternyata bisa  sangat efektif. Semua tergantung bagaimana dapat mengemas dukungan publik yang ada.

Dukungan publik inilah yang pada akhirnya mampu menentukan nilai akhir yang menentukan. Dan untuk mendapat dukungan publik itu tidak perlu dengan mengangkat senjata, sebab bisa juga dengan budaya.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here