Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Tenun Ikat Kediri, Mempertahankan Sejarah Ditengah Modernisasi

Abi Abdul Jabbar Sidik
4 October 2019 | 11:16
rubrik: Opini
Tenun Ikat Kediri, Mempertahankan Sejarah Ditengah Modernisasi

Kain tenun ikat Kediri. (foto:istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID — Tenun ikat Kediri atau yang biasa dikenal dengan tenun ikat Bandar Kidul ini memiliki sejarah yang cukup panjang dalam perkembangan tenun ikat di Nusantara. Bermula pada 1950, etnis Tionghoa memperkenalkan kain tenun kepada masyarakat melalui perdagangan. Kala itu, sebagian masyarakat Bandar Kidul menjadi pekerjanya. Baru pada 1966, masyarakat salah satu desa di Kecamatan Mojoroto, Kediri itu mulai memproduksi sendiri kain tenun, utamanya untuk sarung. Hal ini tidak lepas dari situasi dan kondisi pada saat itu. Sarung diyakini menjadi ciri khas agar terhindar dari ancaman Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dalam perkembangannya, produksi tenun ikat Kediri mengalami pasang surut. Periode 1984 – 1985, produksi tenun ikat Kediri sempat mengalami kemunduran. Bahkan saat itu, permintaan tenun ikat anjlok akibat mulai beredarnya produk tekstil yang pembuatannya menggunakan mesin. Kondisi ini sedikit demi sedikit mulai mengalami perubahan ketika pemerintah memberikan pembinaan kepada para pemilik industri kecil, termasuk tenun ikat. Berbagai penyuluhan dilakukan untuk mengembangkan mutu serta kualitas pada kain tenun yang dihasilkan. Sejak saat itu kain tenun ikat Bandar Kidul Kediri mengalami perkembangan sehingga mampu bersaing di tengah modernisasi industri.

Kini, ada sekitar 20 rumah industri kain tenun ikat yang masih bertahan di Bandar Kidul Kediri. Salah satunya adalah milik Ruqoyah yang berdiri sejak tahun 1989. Ibu berusia 50 tahun ini merupakan generasi ketiga yang menjalankan industri berlabel “Medali Mas”. Industri kain tenun ikat yang terletak di Jl. KH. Agus Salim Gg. 8 No. 54C Bandar Kidul, Mojoroto, Kota Kediri ini memiliki 50 unit alat tenun bukan mesin (ATBM) dan pegawai sebanyak 98 orang dari masyarakat sekitar lokasi industri. Setiap hari, industri ini mampu menghasilkan 50 kain tenun ikat dengan pemberlakuan 6 hari kerja bagi karyawannya.

See also  Dunia Terkarantina Virus Corona

Tenun ikat Medali Mas memiliki beberapa motif historikal yang dipertahankan hingga sekarang. Enam diantaranya adalah motif ceplok, tirtotirjo, loong, salur, gunungan, dan kuncup. Masih adanya permintaan dari konsumen serta untuk memberikan pengetahuan kepada generasi muda, menjadi alasan Ruqoyah tetap memproduksi motif-motif historikal tersebut. Meski produksi untuk motif-motif tersebut hanya 20 persen dari keseluruhan total produksinya.

Selain wilayah Kediri dan sekitarnya, pemasaran produk Medali Mas telah sampai ke luar kota seperti Bandung, Jakarta, Malang serta luar pulau seperti Medan, Riau, Kalimantan, hingga Papua. Ruqoyah menargetkan penjualannya sebesar 70 persen dari total produksi dengan omzet rata-rata Rp250 juta – Rp350 juta per bulan. Selain itu, industri kain tenun ikat Medali Mas juga melakukan kerjasama dengan beberapa pihak seperti sekolah, bank, maupun instansi lainnya dalam pemasaran kain tenun ikat. Biasanya pihak-pihak tersebut memesan kain tenun untuk keperluan seragam para karyawan.

Tenun ikat Medali Mas memiliki tiga jenis kain yang menjadi bahan produksinya, yaitu kain tenun bahan katun, semi sutera, dan sutera yang dijual dengan harga Rp170 ribu – Rp450 ribu per kain. Selain produk kain, industri ini juga memproduksi sarung yang dijual Rp225 ribu untuk bahan yang halus, baju, syal, hingga aksesoris. Banyak wisatawan yang singgah ke rumah produksi tenun ikat Medali Mas untuk membeli kain sekaligus mempelajari proses pembuatan kain tenun.

Modernisasi dalam bidang industri tekstil mengalami perkembangan yang pesat dari tahun ke tahun. Kementerian Perindustrian mencatat, selama triwulan I 2019 industri tekstil dan pakaian mencapai 18,98 persen. Jumlah ini meningkat sebesar 8,73 persen dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama. Selain itu, modernisasi industri juga membuat persaingan dagang semakin meningkat dan mengakibatkan industri kain tenun banyak yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing.

See also  Haji 2024: Diapresiasi Publik, Didowngrade Politik

Menghadapi arus modernisasi industri, para pengrajin kain tenun terus melakukan inovasi-inovasi untuk mempertahankan minat konsumen terhadap kain tenun. Inovasi tersebut antara lain memperbanyak variasi warna kain, menciptakan motif-motif baru mengikuti perkembangan jaman, hingga melakukan promosi melalui media online. Begitu juga yang dilakukan industri milik Ruqoyah. Ia mengembangkan motif baru berdasarkan motif historikal yang telah ada serta memberikan kesempatan kepada konsumen untuk menciptakan sendiri motif yang mereka inginkan. Hal tersebut dilakukan agar pemasaran kain tenun tetap berkembang meski industri tekstil dengan mesin terus saja meningkat.

Upaya Pengenalan Tenun Ikat

 Modernisasi yang semakin berkembang mempengaruhi pola hidup masyarakat. Banyak produk-produk kain masa kini yang mulai menggeser produk kain tenun ikat. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk menjaga dan melestarikan tenun ikat agar tidak kalah oleh produk-produk masa kini. Selain melakukan inovasi pada produk kain tenun ikat, upaya pelestarian tenun ikat juga bisa dilakukan melalui ekstrakurikuler untuk siswa sekolah, kegiatan keterampilan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), pengenalan melalui media online, maupun hadir dalam acara pameran perdagangan. Upaya-upaya tersebut dilakukan agar masyarakat bisa mengenal lebih luas tentang kain tenun yang merupakan salah satu produk budaya di Nusantara.

Mungkin tidak mudah membuat masyarakat menggunakan kain tenun ikat dalam keseharian mereka. Terlebih di tengah modernisasi industri yang terus berkembang setiap tahunnya. Tetapi kini kain tenun ikat tidak hanya sekedar kain, ia sudah menjelma menjadi produk yang memiliki nilai dalam dunia fashion lokal maupun internasional.

Sebagai warga negara Indonesia sudah seharusnya kita membantu melestarikan budaya Nusantara yang merupakan jati diri bangsa. Seperti yang dikatakan oleh Ir. Soekarno, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” atau yang kita kenal dengan istilah “Jasmerah”, karena apa yang ditinggalkan pada jaman dahulu adalah warisan untuk kita semua.

See also  Serba Serbi di Bulan Suci (Bag. 1)

Ditulis Oleh Riska Munifa, Direktorat Jenderal Pajak/KPP Pratama Kediri

 

 

Previous Post

Manusia dalam Perspektif Al-Quran (bag 1)

Next Post

Segudang Manfaat Minyak Kutus-kutus untuk Kesehatan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks