Dunia Terkarantina Virus Corona

Penulis Mi'roji

Oleh;

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H, M.A, M.M

(Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

(Bagian 1)

Bismillahirrahmanirrahim

Mukadimah

Agama, negara, dan dunia (internasional) adalah tiga kekuatan raksasa yang bisa “memaksa” manusia/kelompok sosial supaya berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Termasuk tentang kesepakatan bersama agama, negara, dan dunia untuk “memerangi” Virus Corona yang oleh Badan Kesehatan Dunia – World Healt Organisation (WHO) telah diumumkan secara resmi sebagai Pandemi. Dengan demikian maka kita wajib mengindahkannya, dalam bentuk ikhtiar sekuat daya. Bersamaan dengan itu, bagi umat beragama dan negara beragama, apalagi negara-negara Islam dan negara-negara beragama lainnya, diatas semuanya dipastikan tetap ada keyakinan hakiki (akidah diniah) yang mengajarkan keberadaan Dzat serba Maha. Yaitu Allah Swt, Allah Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Esa. Apapun sebutan dan/atau panggilan Nya. Hanya kepada Nya kita memohon pertolongan, dan hanya kepada Nya kita beribadah/Menyembah (Iyyaka na’budu wa-iyyaka nasta’inu).

(Bagian 2)

Tuhan Tak Sungkan Turunkan Corona Yang Mematikan

Pengantar

Adalah Al-Qur’an (Al-A’raf (7): 180, Thaha (20): 28, dan Al-Hasyr (59): 24) yang menginformasikan kepada kita (manusia), bahwa Allah ‘Azza wa-Jalla  memiliki nama-nama terbaik (al-Asma’ al-Husna’; beautiful names) dalam jumlah yang banyak (99 atau lebih). Dalam hal manusia membutuhkan Allah, maka kita dipersilakan untuk menyebut Nya dengan menggunakan nama terbaik Allah yang manapun (Q.S.  Al-Isra’ (17): 110).

Lepas dari apakah kata lain di luar kata-kata Arab-Al-Qur’an seperti God (dalam bahasa Inggris) termasuk ke dalam salah satu nama-nama terbaik Allah dimaksud? Yang jelas bangsa Indonesia selain fasih melafalkan kata Allah (dan al-asma’ al-Husna pada umumnya), juga sudah terbiasa dan melegenda menyebut kata Tuhan.  Lengkapnya Allah Yang Maha Kuasa dan/atau Tuhan Yang Maha Esa (UUD NRI 1945).

Itulah salah satu yang menginspirasi (anak) judul tulisan di atas, selain terutama ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dijadikan landasan dalam penulisan lebih lanjut.

Pijakan Ayat:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ 

Sesungguhnya Allah tidak akan segan untuk membuat perumpamaan (masal) berupa nyamuk atau yang lebih rendah (kecil) dari itu. Adapun orang-orang beriman, maka mereka yakin (sepenuh hati) bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka; tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan (nyamuk) ini untuk perumpamaan?”.  Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah, kecuali orang-orang yang fasik (Al-Baqarah (2): 26).

Penyebab turun (sabab nuzul) ayat di atas,  dikarenakan ulah (sebagian kafir Mekah) yang mengolok-olok masal/misil  Al-Qur’an yang diturunkan sebelum ini. Terutama   surat al-Hajj (22): 73 dan  al-‘Ankabut (29): 41, yang masing-masing mengangkat lalat dan laba-laba sebagai perumpamaan.  Sayangnya, Amtsal (perumpaman-perumpamaan) Al-Qur’an yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. kepada penduduk Makkah dan sekitarnya itu,  tidak bermakna apapun bagi mereka. Alih-alih menerimanya dengan senang hati, justru dijadikanya sebagai olok-olok atau meme-meme karena menganggap masal Al-Qur’an yang didengarnya  tidak lebih dari berita hoax. Mereka tidak memandangnya sebagai informasi yang memiliki nilai  kebahasaan yang lebih (al-baligh) dengan isinya yang sungguh bermutu tinggi.

Pasalnya? Mereka – kaum kafirin Mekah – memandang hal yang tidak logis kalau Allah menjadikan  hewan sejenis laba-laba dan lalat sebagai bagian dari wahyu Nya.

Atas sanggahan mereka itulah maka Allah turunkan ayat 26 surat Al-Bqarah. Selain guna menepis olok-olok mereka, juga sekaligus dalam rangka memperkuat eksistensi perumpamaan   yang sudah ada dalam Al-Qur’an. Sekurang-kurangnya dengan perumpamaan semacam itu, ternyata  lahir sebuah cabang ilmu tertentu dalam Ulumul Qur’an, bernama ‘Ilmu Amtsal Al-Qur’an (Ilmu tentang masal/misil dalam Al-Qur’an).

Belum lagi dihubungkan dengan kebenaran isi kandungan masal itu sendiri, yang ternyata memiliki  nilai abadi dalam pengertian tetap koneks dengan  berbagai peristiwa dan kondisi  yang terjadi kapan pun. Persis  seperti pepatah lama yang masih punya makna: “Sejarah itu berulang.”

Seperti dikatakan Pak Rizal Ramli (RR),  siklus wabah atau pandemi virus itu kejadiannya  setiap 100 tahun. Akan halnya wabah virus yang lain-lain dahulu, maka sungguh relevan manakala kita mencoba mendekatinya dari sudut pandang kequr’anan. Terutama dari aspek teologi dan sejarah (al-qashash) yang masih tetap relevan itu.

Salah satu contohnya Virus Corona yang sedang “menyandera” agama, negara dan dunia dalam beberapa pekan atau bulan terakhir ini. Ke depannya? Penulis tidak mengetahui akan menunggu berapa lama lagi? Yang jelas, semua pihak termasuk kita harus tetap berharap sepenuh perasaan, mendoa sepuas hati, dan berusaha semampu daya, agar (bencana) Virus Corona tidak sampai lama-lama “menyandera” kita.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar