MADANINEWS.ID, JAKARTA — Tingkat literasi masyarakat Indonesia yang rendah, menjadi masalah di ruang media sosial saat menanggapi berbagai isu. Informasi hoax tidak jarang ditelan bulat-bulat oleh netizen. Tak terkecuali isu diseputar program dan inisiatif Kementerian Agama RI satu tahun belakangan ini.
Oleh karena itu, Bimas Islam menggelar pendidikan dan pelatihan literasi sebagai perhatian utama, untuk mencerahkan masyarakat agar tidak terjebak dalam wacana berita bohong (hoax), ekstrimisme beragama, dan berlebihan-lebihan.
Demikian diungkapkan oleh Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin saat membuka Pelatihan Literasi Informasi bagi Generasi Milenial berlangsung selama 24-26 Juni 2019, di Jakarta.
“Beberapa program Kemenag Bimas Islam juga pernah viral, dipersoalkan masyarakat, dituduh macam-macam. Padahal salah paham,”ujarnya di Jakarta, Senin malam (24/6).
Beberapa isu seputar Kemenag dimaksud yang sempat viral adalah pengeras suara azan, kartu nikah, daftar rekomendasi mubaligh, dan lain sebagainya.
“Maksud kita memberi daftar mubaligh agar memudahkan masyarakat mencari mubaligh yang baik, nujan membatasi,”ungkapnya mengklarifikasi.
Amin juga mengatakan Bimas Islam merupakan unit eselon satu Kemenag yang paling sering mengadakan kegiatan menggandeng kaum milineal. Sekira lebih dari sepuluh kegiatan bersama milenial pernah digelarnya.
“Masalah milenial bukan tahun ini saja diadakan, bisa jadi dari 11 unit eselon satu, bimas islam unit eselon satu yang paling perhatian dengan milenial,” jelasnya.
Karena, katanya lagi, salah satu program unggulan adalah menggandeng milenial, selain moderasi beragama dan kerukunan agama
“Saya sering ditegur pak Menteri, kalau acara ini diviralkan milenial, pasti pak menteri bertanya “Kenapa saya tidak diundang?” ujarnya menjelaskan perhatian besar Menag terhadap kegiatan bersama kaum milenial.
Dalam kesempatan itu, Amin juga menjelaskan peran dan program Bimas Islam dalam pembinaan masyarakat. Diantaranya, memperkuat program kepustakaan dan literasi. Bimas Islam sudah banyak memproduksi buku, pembagian buku dan al Quran gratis, membantu pembangunan perpustakaan dan pelatihan literasi.
Bimas Islam juga institusi yang paling melibatkan diri jika ada persoalan keagamaan dan kerukunan di masyarakat.
“Kalau misal ada yang nikah dini misalnya pasti Bimas Islam yang dihubungi dan terjun menangani,” katanya.
Bimas Islam juga turut mengawasi program penceramah di stasiun televisi melibatkan MUI dan KPI sebahai pengawas, untuk mengawal masyarakat pembaca yang tidak punya daya saring.
Viralnya beberapa hal yang diproduksi atau diusulkan Bimas Islam, bukan bertujuan untuk terkenal, akan tetapi untuk pembinaan masyarakat,” ucapnya.
Sejumlah pembicara diagendakan hadir mengisi pelatihan literasi, diantaranya perwakilan dari Kemenag, Kominfo, Cyber Crime Mabes Polri, dan Dewan Pers.
Kegiatan pelatihan tersebut diikuti sekira oleh 80 peserta mewakili media, blogger, organisasi dan komunitas islam.
