MADANINEWS.ID, JAKARTA — Penerapan kedisiplinan pada anak akan berpengaruh pada pembentukkan kepribadian si anak. Karenanya, banyak orang tua yang mendidik anak agar disiplin sejak dini.
Akan tetapi, tak jarang para orang tua menerapkan kedisiplinan dengan cara yang kurang tepat. Alih-alih menjadi disiplin, anak-anak malah tumbuh dengan didikan yang salah.
Karena itu, berikut kami paparkan kesalahan yang paling sering dilakukan orangtua dalam mendisiplinkan anak dan cara memperbaikinya.
1. Terlalu Sering Mengatakan ‘Tidak’/‘Jangan’
Terlalu sering mengatakan’jangan’ dan ‘tidak’ secara tidak sadar malah membuat kedua kata tersebut kehilangan kekuatannya karena sering diucapkan. Anak-anak menjadi terbiasa dan akhirnya menulikan telinganya ketika orangtua mengucapkan dua kata tersebut.
Lalu bagaimana solusi yang benar? Kita terlalu sering memberitahu anak untuk tidak melakukan sesuatu namun tidak memberitahu mereka bagaimana harusnya mereka bersikap.
Simpanlah kata ‘jangan’ dan ‘tidak’ untuk situasi yang benar-benar berbahaya. Sedang untuk mendisiplinkan anak tanpa kedua kata tersebut, Anda dapat memberitahu anak bagaimana Anda ingin mereka berperilaku atau bersikap.
Misalnya, dari pada berkata “Jangan berdiri di bak mandi!” ganti dengan “Kalau sedang di bak mandi, kita harus duduk karena bak mandinya licin. Nanti kamu bisa terjatuh.”
2. Memiliki Ekspektasi Tinggi Tentang Anak
Banyak orang tua menganggap bahwa anaknya telah mengerti apa yang harus mereka lakukan dan yang tidak boleh mereka lakukan, terutama ketika berada di tempat umum.
Padahal anak-anak yang sangat kecil masih belum mengetahui tentang sikap sosial yang harus diterapkan di tempat-tempat umum seperti toko, restoran, tempat ibadah, dan yang lainnya.
Ketika anak melanggar norma di tempat umum, fokuslah untuk memberitahunya bagaimana cara bersikap dengan lembut alih-alih memarahinya.
Selain itu, anak-anak terlahir sebagai peniru, jadi kita dapat memberitahukan apa hal-hal yang boleh ia lakukan memalui memberikan pujian pada orang lain. Dan membutuhkan waktu dan pengulangan agar perilaku tersebut menjadi kebiasaan baginya.
3. Melarang Anak Melakukan Sesuatu Tanpa Memberi Contoh
Banyak orangtua yang melakukan hal ini. Ketika seseorang secara tidak sengaja menjatuhkan barang secara tidak sadar Anda mengeluarkan kata umpatan. Ataupun saat sedang berbicara dengan teman atau orang terdekat Anda menggunakan kata-kata kasar sebagai lelucon atau bahan candaan. Dan ketika tiba-tiba anak melakukan hal yang sama Anda malah memarahinya.
Karena anak adalah peniru paling baik, ia akan melakukan apapun yang terlihat atau terdengar olehnya. Sulit memang berperilaku ‘lurus’ setiap waktu, namun jika secara tak sengaja Anda tergelincir dan mengatakan kata-kata kasar, minta maaflah kepadanya dan ingatkan bahwa apa yang Anda lakukan barusan tidak baik untuk ditiru.
Dengan meminta maaf hal ini menunjukkan bahwa anda bertanggung jawab dengan apa yang anda lakukan
4. Memarahi Anak Hanya Karena Merasa Terganggu
Anda memarahi anak-anak karena mereka berlarian di dalam rumah, membuat berantakan dan membuat kegaduhan. Padahal sebenarnya mereka hanya melakukan apa yang dilakukan oleh anak kecil pada umumnya.
Anda melarangnya bermain di halaman karena nanti ia akan menjadi kotor, padahal hal ini baik untuk kemampuan eksplorasinya akan hal-hal baru.
5. Menganggap Semua Anak Sama
Padahal setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, yang satu akan menjadi disiplin meski hanya menggunakan nasehat lembut. Sedangkan yang satunya malah lebih agresif dan memerlukan tindakan tegas agar ia dapat berubah menjadi anak yang disiplin.
Anda harus mencari tahu perilaku setiap anak dan menyesuaikan cara mendidiknya agar disiplin sesuai dengan kebutuhan dan cara belajarnya. Jangan pernah hanya menerapkan satu cara belajar disiplin, dan memaksa semua anak untuk mematuhinya.
*Disarikan dari berbagai sumber
