Oleh: Ust. Miftah F. Rakhmat
MADANINEWS.ID, JAKARTA — Apakah jamuan teramat istimewa itu? Apa adab bertamu yang paling mesti dipelihara?
Ibarat bertamu, tuan rumah menghadirkan jamuan. Kita menikmatinya. Tetapi bukankah ada maksud kita berkunjung? Ada alasan mengapa kita datang. Maka dengan sepenuh penghormatan kita sampaikan di balik maksud kedatangan.
Ketika al-Qur’an menuturkan rangkaian ayat puasa, ayat-ayat itu dipenuhi dengan beragam keterangan manasik puasa: puasa itu wajib bila sudah datang bulan suci Ramadhan. Puasa itu diringankan bagi yang sakit atau dalam perjalanan. Allah Ta’ala menghendaki bagimu kemudahan bukan kesulitan. Diperkenankan bagimu untuk bercengkerama dengan pasanganmu di malam hari. Makan dan minumlah hingga jelas benang putih dan benang hitam dari waktu fajar. Sempurnakan puasa hingga malam hari. Hindari pasangan bila hendak iktikaf di masjid. Semua petunjuk tentang batas-batas puasa. Lihat, tidak disebutkan ibadah tertentu seperti shalat tarawih dan hal-hal lainnya yang khas bulan suci.
Tiba-tiba, dan tentu tidak ada yang tiba-tiba dalam kitab suci. Di antara rangkaian ayat puasa itu, Allah Ta’ala seakan ‘menyisipkan’ satu-satunya ibadah untuk kita perbanyak di bulan suci. Inilah jamuan yang paling utama itu. Main course. Apa itu?
Berdoa. Ya, berdoa.
“Dan kalau bertanya kepadamu hamba-hambaKu tentang Aku, katakan Aku itu dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]:186)
Berdoa menjadi hidangan istimewa itu. Lihat, bagaimana dalam ayat di atas Allah Ta’ala menyebut kata ‘Aku’ yang merujuk pada DzatNya Yang Mahasuci sebanyak tujuh kali. Tidak ada ayat dengan kata ‘aku’ sebanyak ayat ini. Seakan-akan Allah Ta’ala ingin menyampaikan, “Aku tujuh kali lebih dekat dengan hambaKu saat ia berdoa kepadaKu.” Berdoa adalah amalan yang paling utama.
Ya, seperti kalau kita berkunjung, kita nikmati sajian yang dihidangkan. Tetapi, tuan rumah akan bertanya, untuk apa kau kemari? Apa maksudmu datang bertamu?
Maka di malam-malam bulan suci, di hari-hari yang penuh berkah, pada saat sahur, dini hari, setelah shalat-shalat fardhu, pada waktu berbuka, ketika membaca kitab suci, atau senarai ibadah lainnya…selalu antarkan doa setelahnya. Ceritakan keluh kesah kita. Sampaikan gundah gulana kita. Haturkan berjuta pinta kita. Tuan Rumah Nan Maha Pengampun itu teramat menanti saat kita kembali. PadaNya perbendaharaan segala yang ada di langit dan di bumi.
Penuhilah bulan suci dengan beragam doa. Berbekallah dengan segala permasalahan yang menghimpit dada. Bersiaplah dengan segala tangis yang menanti saat mengalir, dengan segala jerit tersimpan yang menunggu saat melepas beban.
Bersyukurlah saudara karena beroleh karunia rangkaian doa teramat indah yang diwariskan dari para teladan. Baca itu semua. Mereka telah wakilkan rasa. Mereka telah rangkaikan kata. Jerit hati kita yang paling dalam. Segala suara yang terpendam. Semua rahasia yang tersimpan. Setiap pinta dalam kebaikan.
Tersungkurlah di mihrab doa. Alirkan airmata cinta. Basahi sajadahmu dengan sesal tak terkira. Ampuni kami wahai Sang Mahasegala. Sungguh telah merapuh tulang, telah beruban rambut di kepala. Terasa berat beban yang menghimpit dada. KepadaMu kami serahkan segalanya.
Dan bila kita tak punya khazanah doa itu, cukuplah sebut nama Dia. Betapa pengasihnya Dia, dalam namaNya, pun terkandung doa.
Ah, Tuhan, teramat pengasih dan penyayang Engkau pada kami. Ampuni kami, ampuni kami. Teramat lalai kami selama ini.
Itulah hidangan teristimewa, jamuan teramat utama. Lalu apa adab yang paling wajib dijaga?
Baca Juga :Serba Serbi di Bulan Suci (Bag. 1)
Di akhir khutbah Baginda Nabi Saw di penghujung bulan Sya’ban, setelah Baginda Saw memaparkan keutamaan bulan suci Ramadhan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw bertanya, “Ya Rasulallah, amalan apakah yang paling utama?”
“Menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Swt.”
Al-wara ‘an maharimillah. Demikian kesimpulan adab yang mesti dijaga di bulan suci. Seakan seperti seorang tamu, maka ia memelihara keberadaan dirinya di hadapan tuan rumah. Ia menikmati jamuan. Tapi yang ia hadirkan adalah keridhoan tuan rumah. Ia tidak berbuat sesuatu apa pun yang akan menyakiti, menyinggung, atau mendatangkan ketidaknyamanan bagi tuan rumah. Inilah adab bertamu yang baik. Dan ini pula adab terutama di bulan suci.
Sungguh, menghindarkan diri dari dosa mesti didahulukan dari berbuat baik. Menjauhkan diri dari maksiat dengan sendirinya adalah kebaikan. Cukup sedekah bagimu, kau tahan dirimu dari laku dosa. Demikian riwayat dari para teladan suci.
Maka jadilah sebulan penuh bulan Ramadhan sebuah madrasah ruhaniah. Ruh beristirahat dengan menjaga diri dari dosa, memperkuat hubungan dengan Sang Mahakasih Mahasegala. Adab terutama puasa adalah mendatangkan manfaat untuk sesama dengan tidak mendatangkan bagi mereka sesuatu yang buruk dari diri kita. Dengan tidak mendatangkan sesuatu yang buruk itu, bahkan bagi diri kita. Inilah tantangannya.
Alkisah, ada ayah dan anak menempuh perjalanan di padang pasir. Di satu tempat, ayah itu jatuh sakit dan meninggal dunia. Anaknya berusaha mencari bantuan, tak dapat ia temukan, kecuali seorang gembala dengan sekawanan ternaknya. Mereka pun memandikan dan menggali kuburnya.
“Bisakah kau menshalatkannya?” tanya anak itu pada gembala.
“Tentu saja.”
Lalu gembala itu pun mengangkat tangannya dan berdoa. “Selesai,” katanya. Anak itu terkejut, “Shalat jenazah seperti apa ini? Tidak benar sama sekali. Pergilah engkau ke sana!” Ia pun menshalatkannya seorang diri.
Malam hari, anak itu bermimpi. Ayahnya berbalutkan pakaian yang sangat indah, tampak bersinar berseri-seri. Ia bertanya, “Gerangan apa yang ayah lakukan hingga beroleh kemuliaan ini?” Ayahnya menjawab, “Semua yang aku terima, adalah karena gembala itu.”
Ia terbangun. Pagi masih menyisakan gelap ketika ia mencari gembala itu. Ketika akhirnya berjumpa, dengan segera ia bertanya, “Apa yang kaukatakan dalam shalat jenazahmu yang tak benar itu?”
“Aku hanya berdoa: Ya Allah, sekiranya orang di hadapanku ini masih hidup, tentulah ia akan menjadi tamuku dan akan aku sembelih seekor kambing untuk menghormatinya. Tetapi, kini ia telah menjadi tamuMu. Pastilah Engkau memberikan penerimaan yang sebaik-baiknya untuknya. Selesai.”
Anak itu luluh. Tak boleh ia merasa diri lebih benar dari orang lain.
Demikianlah. Doa yang tulus dan menjaga diri dari dosa adalah hidangan teristimewa dan adab yang mesti dipelihara di bulan suci yang mulia ini. Tak boleh kita merasa lebih berpuasa dibandingkan yang lainnya.
Marhaban ya Syahra Ramadhan. Sungguh, jadikanlah kami Ya Allah, pecinta bulan mulia ini.