IBADAH.ID,BOGOR – Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring mengajak mahasiswa sebagai generasi milenial untuk mengikuti program Wirausaha Pemula yang digulirkan pemerintah sejak tiga tahun terakhir ini.
“Saya mengajak mahasiswa untuk mengikuti perlombaan ini, berlomba membuat proposal usahanya. Proposal yang disetujui akan mendapatkan dana bantuan untuk usahanya. Kita sudah bekerjasama dengan 10 perguruan tinggi,” kata Meliadi, di Bogor, Rabu (5/9).
Sesmenkop mengemukakan hal tersebut dalam Seminar dan Diskusi ‘Koperasi Sektor Riil Yang Berdaya Saing Dalam Pembangunan Yang Inklusif Menghadapi Tantangan Disparitas Ekonomi’. Seminar yang diadakan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, ini dihadiri para mahasiswa dan citivitas akademi lainnya.
Program Wirausaha Pemula dilaksanakan untuk menumbuhkan kewirausahaan di generasi muda, khususnya mahasiswa. Dengan begitu, ketika mereka lulus kuliah, mindsetnya bukan lagi mencari pekerjaan melainkan membuka lapangan pekerjaan.
“Saat masih kuliah waktunya dipakai untuk berpikir wirausaha. Ya memang harus sedini mungkin berwirausaha, harus diasah, yang lambat laut akan meningkatkan skalanya,” ujarnya.
Menurutnya, di negara manapun koperasi dan UMKM menjadi tulang punggung negara saat perekonomian dalam keadaan krisis. Dengan hadirnya wirausaha pemula, maka diharapkan semakin kuat perekonomian Indonesia.
“Pertumbuhan ekonomi kita di atas 5 persen, persoalannya apakah merata? Nah, koperasi dan UKM mengapa penting karena jumlahnya banyak sehingga gini rasio bisa kita perbaiki. Karena kemiskinan akan menurun melalui pengembangan koperasi dan UMKM,” ujar Meliadi.
Di tempat yang sama, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Sistem Informasi IPB Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrachmat, meminta para mahasiswanya untuk ikut mengembangkan koperasi dan UMKM. Menjadikan koperasi sebagai tempat bekerja yang tak kalah hebat dengan kerja di tempat lain.
“Mimpi saya nanti mahasiswa membuka usaha dan tergabung dalam koperasi yang mempunyai efek wow. Jadi, ketika ada yang bertanya kerja di mana dan dijawab koperasi, reaksinya pun wow. Kita harus jadikan koperasi benar-benar sebagai soko guru perekonomian kita,” tuturnya.
Ia mengaku heran, mengapa koperasi yang menjadi soko guru kurang berkembang di negeri Pancasila? Sebab koperasi justru lebih berkembang di negara liberal yang menerapkan ekonomi kapitalis.
“Di negara kita yang katanya koperasi menjadi sistem perekonomian yang ideal tapi kok jarang berkembang. Kalau pun ada yang berkembang tetapi tidak sebesar koperasi di negara-negara kapitalis seperti koperasi di Kanada, Swiss, dan Jerman?” ujarnya.*
Penulis : Afrida Regita
Editor : Irawan
