Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Kemenkop dan UKM Dorong Perkembangan UKM Komponen Otomotif di Karawang

Abi Abdul Jabbar Sidik
4 September 2018 | 09:08
rubrik: Indeks
Kemenkop dan UKM Dorong Perkembangan UKM Komponen Otomotif di Karawang
Share on FacebookShare on Twitter

IBADAH.ID, KARAWANG – Untuk mendorong pengembangan industri komponen otomotif dari Koperasi dan UKM di Karawang-Jawa Barat, Kementerian Koperasi dan UKM melakukan sinergi  dengan berbagai lembaga dan para stakeholder, termasuk  Institut Otomotif Indonesia (IOI),

Asisten Deputi Industri dan Jasa Deputi Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM Ari Anindya Hartika menuturkan bahwa industri komponen otomotif bisa memberikan sumbangsing dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya maupun perluasan lapangan dan kesempatan kerja.

Menurut Ari permasalahan yang kerap dihadapi KUKM Komponen adalah terkait permodalan, kapasitas SDM, iklim usaha, hingga akses pemasaran

“Guna mewujudkan komitmen tersebut, dibutuhkan strategi dan upaya yang terencana, terpadu lintas sektor, bertahap dan berkesinambungan dalam rangka peningkatan kapasitas dan wawasan pelaku usaha KUKM bidang industri komponen”, papar Ari.

Ari menuturkan Institut Otomotif Indonesia (IOI) sebagai organisasi independen didirikan pemerintah dalam rangka pengembangan tiga pilar utama yang dibutuhkan dalam pengembangan otomotif nasional. Yaitu, pengembangan supply chain/vendor, pengembangan SDM dan pengembangan teknologi, serta membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan strategi (think tank) dan sekaligus menjadi fasilitator/mediator untuk mengembangkan aspek-aspek dalam tiga pilar utama tersebut.

“Sebagai salah satu bagian pengembangan industri otomotif nasional pada pilar pengembangan supply chain/vendor, maka IOI melakukan MoU dengan APEK, dimana IOI akan mendorong dan memfasilitasi kerjasama antara industri otomotif dengan UKM komponen, sehingga diharapkan bisa terjadi sharing best practise dari satu vendor ke vendor lain. Dan vendor lain tersebut bisa menjadikan best practice tersebut sebagai referensi ketika mengembangkan industri di tempat masing-masing”, papar Ari.

Sementara APEK dianggap sebagai wadah kader wirausaha yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa dan sebagai salah satu solusi alternatif dalam membantu menyerap angkatan kerja di Kabupaten Karawang. APEK terdiri dari 45 perusahaan member dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 1050 Orang yang mempunyai bidang usaha bervariasi di bidang engineering diantaranya, manufaktur, sparepart otomotif dan industri, OEM part, machining, SPM, otomasi, Tools & Dies, Plastic Forming, M/E, Service and Maintenance, dan sebagainya.

See also  Pemerintah Diminta Tata Sektor Pangan Dengan Badan Usaha Milik Rakyat

“Selama lima tahun APEK berjalan menjadi wadah bagi pelaku UKM/IKM Engineering di Karawang yang telah menjadi bagian dan mitra aktif pemerintah di semua jenjang, dari pemerintah daerah sampai pemerintah pusat melalui Dinas dan Kementerian serta stakeholders terkait, untuk mengawal perkembangan Industrial Engineering di Karawang”, jelas Ari lagi.

Oleh karena itu, Ari menekankan bahwa sebagai tindak lanjut dari penandatanganan kerjasama ini, diharapkan APEK dan juga asosiasi KUKM lainnya di Indonesia, dapat mengisi supply chain kebutuhan komponen industri otomotif nasional, bukan dari impor.

“Dalam pengembangan industri otomotif Indonesia, roadmap dari Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa target produksi yang mencapai dua juta kendaraan/tahun sejak tahun 2025 dan tiga juta kendaraan/tahun sejak tahun 2030. Dari peran KUKM komponen dalam mengisi supply chain tersebut diharapkan bisa turut membantu negara meningkatkan pertumbuhan ekonomi maupun pendapatan perkapita bangsa Indonesia”, tegas Ari.

Untuk bisa mengisi supply chain tersebut, lanjut Ari, KUKM komponen diharapkan bersedia untuk melakukan perbaikan dari sisi Safety, Quality, Cost, Delivery, Moral, Produktivity dan Enviroment (SQCDMPE), sehingga bisa kompetitif dengan vendor-vendor dari negara lain. “Meskipun untuk mencapai level SQCDMPE yang bisa kompetitif dengan vendor-vendor yang selama ini digunakan Agen Pemegang Merk (APM) baik Jepang, China atau pun Eropa adalah perlu usaha yang sangat berat. Oleh karenanya, diperlukan peningkatan kerjasama dan sinergitas antar Kementerian/Lembaga dan stakeholders lainnya”, tukas Ari.

Dalam meningkatkan kemampuan KUKM untuk mengisi supply chain tersebut, salah satu langkah yang telah dilakukan Kementerian Koperasi dan UKM bekerjasama dengan Institut Otomotif Indonesia (IOI) adalah terus mendorong Agen Pemegang Merk (APM) dapat memberikan peran KUKM komponen dalam mensupply kebutuhan komponen yang dibutuhkan.

See also  Berpotensi Memperlemah Kualitas Manusia Indonesia, Klaster Pendidikan RUU Cipta Kerja Minta Dicabut

“Dalam hal ini, PT Toyota Motor Manufakturing Indonesia (TMMIN) sebagai salah APM di Indonesia melalui program CSR telah melakukan program pendampingan kepada KUKM komponen seperti Koperasi Batur Jaya Klaten, Koperasi Logam Rakitan Rakyat Tegal, PIKKO dan APEK dalam peningkatan kualitas produk yang dihasilkan agar dapat memenuhi persyaratan yang diperlukan”, kata Ari.

Kedepan, tegas Ari, akan terus dilakukan pembinaan kepada KUKM komponen, tidak hanya dalam peningkatan kualitas dan kuantitas dalam memproduksi komponen dalam mendukung industri otomotif, tetapi juga didorong untuk bisa memproduksi alat mesin pertanian dan suku cadangnya dalam upaya memenuhi kebutuhan Alsintan di dalam negeri yang jumlahnya terus meningkat serta mengurangi alsintan impor”, imbuh Ari.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden IOI I Made Dana Tangkas mengatakan, pihaknya ingin menjadikan Karawang sebagai Detroit-nya Indonesia (kota industri otomotif di AS). “Caranya, kita harus memiliki kawasan industri yang berkelas dunia. Karena, IOI itu bukan hanya sebagai think tank, melainkan juga masuk tahap aplikasi”, tandas I Made Dana.

Untuk itu, I Made Dana menyebut ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi agar berkelas dunia. Yaitu, manajemen pengelolaan yang berkelas dunia, menggerakkan kompetensi SDM, dan memiliki teknologi mutakhir seperti Lab Nano Technology. “Itu tantangan kita, sehingga pada 2030 kita bisa memiliki kawasan industri kelas dunia”, ungkap I Made Dana.

Sedangkan Ketum APEK Trisno Utomo berharap MoU dengan IOI bisa menjadikan APEK sebagai asosiasi yang bisa memperkuat industri otomptif nasional. “Hal ini juga bisa menjadi solusi agar seluruh anggota APEK bisa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas. Dari mulai skill SDM hingga manajemen perusahaan”, pungkas Trisno.

Previous Post

Wahdah Islamiyah Selenggarakan Pelatihan Baca Alquran Metoda Dirosa

Next Post

Jadi Bandara Embarkasi, Kertajati Harus Miliki Asrama Haji

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks