IBADAH.ID, JAKARTA – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengaku kaget dan menyesalkan pawai kemerdekaan kelompok peserta tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) di Probolinggo.
Hal tersebut seperti yang diketahui, anak-anak tersebut mengenakan jubah dan bercadar hitam yang mencengangkan, anak usia dini itu menenteng replika senjata dari gabus bahkan viral di dunia maya.
“Kita tahu bahwa “cadar” dan “senjata” mengingatkan pada atribut kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang terornya menakutkan dunia sedangkan Senjata dan cadar hitam sudah mengarah pada gerakan terorisme, salah satu simbol kekerasan yang seharusnya dijauhkan dari anak-anak,” ujar Retno kepada Islampos.com di Jakarta Kamis (23/8).
Menurutnya, jika memang ingin mengenalkan nilai kepahlawanan, semestinya pihak sekolah menganjurkan memakai aksesori para pejuang, seperti baju biasa, baju petani, dan bambu runcing.
Ia menambahkan, memperingati HUT kemerdekaan memang lazim mengenakan atribut yang unik dan lucu jika berkaitan dengan anak-anak, seperti baju adat maupun seragam profesi tertentu, seperti dokter, tentara, guru, pilot dan polisi. Tapi memakai atribut cadar hitam dan membawa senjata api tiruan jelas bukan hal biasa.
“Kalau berdasarkan tema keseluruhan karnaval yang mengusung budaya Indonesia yang bhineka tunggal Ika, maka penggunaan burga dan cadar bukan merupakan budaya Indonesia, meskipun beberapa muslimah Indonesia mengenakan cadar,” pungkasnya.
Selain itu, tambah Retno Anak-anak TK tersebut memegang sebuah replika senjata laras panjang dan mereka mengambil tema “Perang di Zaman Rasulullah”, sedangkan di zaman Rosulullah belum ada senjata laras panjang, adanya pedang samurai. Artinya, ada yang tidak tepat yang dilakukan oleh pihak sekolah dan dibiarkan pula oleh panitia penyelenggara. Tio/Kontributor
