Home Haji & Umrah Wukuf, Puncak Segala Rangkaian Ibadah Haji

Wukuf, Puncak Segala Rangkaian Ibadah Haji

Jamaah Haji melaksanakan wukuf di Arafah. (foto:istimewa)

Alhajju ‘Arafah ”. “Haji adalah (wukuf) di Arafah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

MADANINEWS.ID, MAKKAH – Puncak ibadah haji jatuh pada 9 Dzulhijjah atau pada 10 Agustus 2019. Pada saat itu, seluruh jamaah haji berkonsentrasi di satu titik, yaitu Padang Arafah untuk melakukan wukuf. Di titik inilah berlangsung pertemuan akbar lebih dari dua juta umat Islam dari pelosok dunia bersimpuh di hadapan Allah sembari berharap mendapat ridha dan ampunan Allah SWT.

Wukuf adalah kegiatan utama dalam ibadah haji. Bahkan, inti ibadah haji adalah wukuf. Bila rangkaian kegiatan haji ini terlewatkan, maka tidak sah ibadah hajinya. Biasanya, wukuf dilaksanakan pada satu hari (siang hari) saja, tepatnya tanggal 9 Dzulhijjah di Padang Arafah antara waktu dzuhur dan ashar. Arti wukuf adalah berhenti, diam tanpa bergerak. Di hamparan padang nan gersang ini, jamaah menyatu dan hanyut dalam kebesaran Allah.

Dalam Fiqih Sunnah, menerangkan pelaksanaannya, wukuf bisa dilaksanakan di daerah mana saja, di padang Arafah, walaupun dalam keadaan tidur, sadar, berkendaraan, duduk, berbaring atau berjalan, baik pula dalam keadaan suci atau tidak suci (seperti haidh, nifas atau junub).

Jika seseorang wukuf di waktu kapan saja dari waktu tadi, baik sebagian siang atau malam, maka sudah cukup. Namun jika ia wukuf di siang hari, maka ia wajib wukuf hingga matahari telah tenggelam. Sedang, jika ia wukuf di malam hari, ia tidak punya keharusan apa-apa. Imam Syaafi’i berpendapat bahwa wukuf di Arafah hingga malam adalah sunnah.

Berdiam diri sejenak untuk melupakan kebanggaan –warna kulit, suku, ras dan bahasa— dan segala urusan duniawi. Sebab, esensi dari ibadah haji adalah kesamaan derajat yang ditampakkan dalam pakaian ihram yang tak terjahit. Inilah simbol persamaan derajat manusia. Sedangkan warna putih menggambarkan kesucian di hadapan Allah.

Jika dikaitkan dengan rangkaian ibadah haji lainnya, thawaf, misalnya. Menandakan bahwa setelah kehidupan yang diwarnai dengan gerakan, maka pada suatu saat gerakan itu akan berhenti. Manusia suatu saat jantungnya akan berhenti berdetak, matanya akan berhenti berkedip, kaki dan tangannya akan berhenti melangkah dan bergerak.

Dan, ketika semua yang bergerak itu berhenti, maka terjadilah kematian. Manusia sebagai mikro kosmos pada saatnya nanti akan dikumpulkan di Padang Mahsyar, maka Padang Arafah menjadi lambang dari Padang Mahsyar itu.

Menurut Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i waktu wukuf adalah mulai dari tergelincirnya matahari di 9 Dzulhijjah sampai terbitnya Fajar 10 Dzulhijjah. Sedangkan menurut madzhab Hanbali, wukuf dimulai dari terbit fajar hari Arafah hingga terbit fajar (masuk waktu subuh) hari raya Qurban/hari nahr (10 Dzulhijjah). Jadi, jika jamaah wukufnya di luar waktu itu maka tidak sah.

Secara amaliah, wukuf di Arafah mencerminkan puncak penyempurnaan haji. Dalam setiap khutbah, selalu diperdengarkan khutbah Rasulullah yang pernah beliau sampaikan kala menunaikan haji wada’ (haji perpisahan). Kala itu, di tahun 10 Hijriyah, di padang Arafah inilah Rasulullah menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan nama khutbah wada’ atau khutbah perpisahan.

Di saat itu, surat al-Maa’idah ayat 3 turun sebagai pernyataan telah sempurna dan lengkapnya ajaran Islam yang disampaikan Allah SWT melalui Muhammad SAW. “…pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu…” (Al-Maa’idah:3)

Berbagai literatur menyebutkan, wukuf di Arafah juga mengingatkan umat manusia akan sejarah awal kehadirannya di muka bumi. Termasuk proses turunnya Adam dan Hawa sebagai manusia pertama ke bumi dan bertemu di padang Arafah ini. Dan di dalam ritual wukuf, proses penciptaan dan pertaubatan senantiasa mewarnai dalam hati sanubari setiap jamaah haji.

Dan salah satu pesan yang disampaikan Rasulullah dalam khutbah itu adalah terkait persaudaraan universal yang menafikan perbedaan di antara sesama manusia. Sebab, di mata Allah perbedaan ada karena takwanya.

Di kesempatan itu Rasulullah berpesan, “Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, bangsa tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang kulit berwarna dengan orang kulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dengan orang kulit berwarna, kecuali karena takwanya.”

Amalan sunnah saat wukuf

  1. Menuju ke padang Arafah setelah terbit matahari pada 9 Dzulhijjah, sambil membaca talbiyah, tahlil dan takbi
  2. Singgah di Namirah (bukit Namirah, di luar tempat wukuf), sebagaimana yang dilakukan oleh
  3. Masuk ke wilayah Arafah setelah tergelincirnya matahari, kemudian mengerjakan shalat Dhuhur dan Ashar dijama’ taqdim dan diqashar.
  4. Wukuf di tempat wukuf-nya Rasulullah yaitu di kaki bukit Jabal Rahmah.
  5. Wukuf sambil menghadap Kiblat.
  6. Wukuf dalam keadaan tidak berpuasa.
  7. Memperbanyak dzikir, tilawah al Qur’an, shalawat dan doa.
  8. Berdoa dengan suara lembut, menundukkan diri, merendahkan hati, khusyu’ dan sungguh-sungguh dalam dalam berdoa.
  9. Tidak bernaung di bawah apapun, kecuali ada udzur.
  10. Memperpendek shalat dan Khutbah wu Lebih mengutamakan wukuf-nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here