MADANINEWS.ID, JAKARTA – Perjalanan haji dari Indonesia menyimpan jejak panjang yang berkaitan dengan perkembangan intelektual, pendidikan, kehidupan sosial, hingga perjuangan kebangsaan. Jejak tersebut kini mulai dijajaki untuk diabadikan dalam Museum Haji Indonesia.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI membuka pembicaraan kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan untuk merealisasikan gagasan tersebut. Penjajakan dilakukan dalam pertemuan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan, Kamis (22/10/2026).
Gagasan museum itu tidak hanya diarahkan sebagai tempat menyimpan benda-benda peninggalan sejarah. Lebih jauh, museum diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan perjalanan haji Indonesia sekaligus berbagai pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat dan bangsa.
Ada Jejak Perjuangan di Balik Perjalanan Haji
Wamenhaj mengatakan, sejarah haji Indonesia memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan perjalanan ibadah menuju Tanah Suci. Perjalanan tersebut juga menjadi bagian dari pertukaran ilmu serta perkembangan pemikiran dan gerakan sosial keagamaan.
“Sejarah haji Indonesia bukan semata-mata tentang perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Di dalamnya terdapat jejak perjuangan, pertukaran ilmu, dan kontribusi ulama serta santri dalam membangun kesadaran kebangsaan. Melalui kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, kami ingin menjajaki upaya merawat warisan sejarah ini agar dapat dipelajari oleh masyarakat luas,” ujar Wamenhaj.
Menurutnya, pengabadian sejarah tersebut penting agar pengalaman dan nilai perjuangan generasi terdahulu tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Museum diharapkan dapat menjadi salah satu sarana yang membuat sejarah perjalanan haji lebih mudah diakses masyarakat, terutama generasi muda.
“Dengan demikian, nilai-nilai perjuangan dan pengabdian para pendahulu dapat terus diwariskan,” sambung Wamenhaj.
Arsip Haji hingga Jejak Tokoh Bangsa
Museum Haji Indonesia nantinya diharapkan menghimpun beragam sumber yang dapat menggambarkan perjalanan penyelenggaraan haji dan kehidupan umat Islam Indonesia dari masa ke masa.
Sumber tersebut antara lain arsip, foto, dokumen perjalanan, hingga artefak. Penelusuran juga dapat dilakukan terhadap berbagai sumber sejarah perhajian yang kini masih tersimpan di sejumlah lembaga.
Salah satu sumber yang menjadi perhatian adalah museum dan arsip yang berada di Belanda. Keberadaan arsip tersebut berpotensi memperkaya dokumentasi mengenai perjalanan haji dari Indonesia.
Jejak sejarah itu juga berkaitan dengan sejumlah tokoh yang memiliki latar belakang haji. Nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Haji Ahmad Dahlan, Haji Hasyim Asy’ari, Haji Agus Salim, dan Haji Samanhudi tercatat dalam perjalanan pergerakan kebangsaan, pendidikan, serta pembaruan sosial keagamaan di Indonesia.
Dengan menghimpun berbagai sumber tersebut, museum diharapkan tidak hanya menampilkan perjalanan fisik jemaah menuju Tanah Suci, tetapi juga menggambarkan bagaimana perjalanan dan pengalaman keagamaan turut berkelindan dengan perkembangan pemikiran serta kehidupan masyarakat Indonesia.
Jika terealisasi, Museum Haji Indonesia diarahkan untuk memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar ruang penyimpanan koleksi. Museum tersebut berpotensi menjadi ruang publik untuk edukasi, penelitian, dan penguatan literasi sejarah mengenai perjalanan haji Indonesia.
Kehadiran museum juga dapat membuka akses terhadap sumber sejarah yang selama ini tersebar di berbagai lembaga. Generasi muda dapat melihat perjalanan haji dalam konteks yang lebih luas, termasuk kaitannya dengan perkembangan masyarakat dan jaringan intelektual umat Islam Indonesia.
Penjajakan kerja sama Kemenhaj dan Kementerian Kebudayaan menjadi langkah awal untuk membangun sinergi dalam merawat warisan tersebut. Gagasan Museum Haji Indonesia diharapkan menjadi ruang untuk menjaga ingatan kolektif mengenai perjalanan haji sekaligus jejaknya dalam sejarah bangsa.
