MADANINEWS.ID, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI menyiapkan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue. Aksi korporasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas pembiayaan sekaligus memenuhi ketentuan minimum saham yang beredar di publik atau free float.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan kebutuhan penguatan modal sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan perseroan yang masih tinggi. Hingga Agustus 2026, pembiayaan BSI tumbuh 16,21 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp344 triliun.
“Harapannya, kalau bicara pemanfaatan pasti banyak, kan kita loan growth masih cukup cukup kencang,” kata Anggoro dalam wawancara cegat usai konferensi pers BSI International Expo 2026 di Jakarta, Kamis.
Pembiayaan Tumbuh 16,21 Persen
Pertumbuhan pembiayaan tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan dana pihak ketiga (DPK). Hingga Agustus 2026, DPK BSI tumbuh 17,71 persen secara tahunan menjadi Rp389 triliun.
Dari jumlah tersebut, dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) mencapai Rp246 triliun. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan BSI dalam memperkuat kapasitas permodalan agar dapat menopang ekspansi usaha.
Selain memperkuat kapasitas pembiayaan, rights issue juga memiliki tujuan lain, yakni meningkatkan porsi saham yang beredar di publik. Saat ini, kepemilikan masyarakat nonwarkat di BSI baru mencapai 9,9 persen.
“Tujuan kedua untuk memenuhi syarat free float. Kan kita baru 9,9 persen. Harapannya nanti kita bisa sesuai dengan ketentuan, sehingga bisa masuk juga ke LQ45,” kata Anggoro.
Terbitkan Maksimal 6,8 Miliar Saham
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan perseroan pada akhir September 2026, BSI berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B melalui PMHMETD II. Saham tersebut memiliki nilai nominal Rp500 per saham.
Sebelum aksi korporasi dilaksanakan, BSI akan meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rapat tersebut dijadwalkan berlangsung pada 6 November 2026.
Adapun pelaksanaan PMHMETD II ditargetkan berlangsung dan selesai pada kuartal I 2027. Seluruh dana yang diperoleh dari aksi tersebut, setelah dikurangi biaya dan pengeluaran terkait emisi saham baru, akan digunakan untuk penyaluran pembiayaan.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung pertumbuhan usaha perseroan sekaligus memperkuat kapasitas permodalan dalam menghadapi ekspansi bisnis.
Modal Diproyeksi Naik Jadi Rp64,41 Triliun
Struktur kepemilikan BSI saat ini masih didominasi oleh sejumlah bank milik negara. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memegang 51,47 persen saham, disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk-Divisi PPA sebesar 23,24 persen dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 15,38 persen. Sisanya dimiliki masyarakat nonwarkat.
Sejalan dengan rencana penguatan modal, permodalan untuk mendukung bisnis BSI pada 2027 diproyeksikan meningkat menjadi Rp64,41 triliun dari Rp51,07 triliun pada 2026.
Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan juga diproyeksikan naik dari 20,38 persen pada 2026 menjadi 23,31 persen pada 2027. Penguatan tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan skala usaha BSI secara berkelanjutan.
Selain itu, penguatan permodalan diarahkan untuk mendukung upaya perseroan meningkatkan kelompok bank berdasarkan modal inti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
