MADANINEWS.ID, JAKARTA – Sering kali, konflik rumah tangga tidak membesar karena persoalan utamanya, melainkan karena kedua belah pihak sama-sama merasa paling benar. Masing-masing sibuk mencari kesalahan pasangannya, tetapi lupa mengoreksi dirinya sendiri. Akibatnya, ruang dialog berubah menjadi ajang saling menyalahkan, sementara jalan menuju perdamaian semakin tertutup.
Padahal, Islam justru mengajarkan kebiasaan yang berlawanan. Sebelum meminta orang lain berubah, seorang muslim diperintahkan untuk memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Sikap inilah yang menjadi salah satu fondasi akhlak seorang mukmin.
Maka, ketika perselisihan muncul, ada beberapa pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri.
Sebagai seorang suami, sudahkah ia memenuhi kewajiban menafkahi keluarga dengan cara yang halal? Sudahkah ia memperlakukan istrinya dengan kasih sayang sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ? Sudahkah ia menjaga lisannya dari kata-kata yang melukai hati?
Demikian pula seorang istri. Sudahkah ia menjaga kehormatan dan rahasia suaminya? Sudahkah ia memenuhi hak-hak suami dengan penuh keikhlasan? Sudahkah ia menjadi penyejuk hati di dalam rumah, bukan justru menambah beban yang sedang dipikul suaminya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak mudah dijawab. Sebab, manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk melihat kesalahan orang lain lebih jelas daripada kekurangan dirinya sendiri. Ego sering kali menutupi hati sehingga seseorang merasa dirinya selalu menjadi korban, sementara pasangannya selalu menjadi penyebab masalah.
Karena itu, keberanian untuk berkata, “Saya yang salah,” merupakan salah satu bentuk kematangan iman.
Belajar dari Nabi Yunus ‘Alaihissalam
Al-Qur’an memberikan contoh luar biasa tentang bagaimana seorang hamba menyikapi ujian. Kisah itu datang dari Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika berada dalam perut ikan.
Allah SWT berfirman:
وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.'” (QS. Al-Anbiya’: 87)
Perhatikanlah doa yang dipanjatkan Nabi Yunus ‘alaihissalam. Dalam keadaan sangat sulit, beliau tidak menyalahkan kaumnya yang membangkang. Tidak pula menyalahkan keadaan yang menimpanya. Sebaliknya, beliau mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah SWT.
“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Kalimat ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan rumah tangga. Tidak semua persoalan akan selesai ketika kita berhasil membuktikan bahwa pasanganlah yang bersalah. Justru, tidak sedikit konflik yang mencair ketika salah satu pihak lebih dahulu merendahkan ego dan berani mengakui kekurangannya.
Mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, itulah salah satu bentuk kekuatan seorang mukmin. Orang yang rendah hati lebih mudah menerima nasihat, lebih mudah meminta maaf, dan lebih mudah memaafkan.
Sebaliknya, orang yang terus mempertahankan ego akan kesulitan menemukan jalan damai. Setiap percakapan berubah menjadi perdebatan. Setiap nasihat dianggap serangan. Pada akhirnya, konflik kecil pun dapat berkembang menjadi jurang yang memisahkan hati dua insan.
Memaafkan Adalah Jalan Menuju Ketenangan
Dalam kehidupan rumah tangga, tidak ada pasangan yang tidak pernah melakukan kesalahan. Sebagaimana seorang suami mengharapkan istrinya memaafkan kekhilafannya, demikian pula seorang istri berharap suaminya mampu memaafkan kekurangannya.
Sikap saling memaafkan inilah yang menjadi salah satu penopang keutuhan keluarga.
Memang tidak semua luka bisa hilang dalam semalam. Ada kalanya seseorang membutuhkan waktu untuk menenangkan hati sebelum kembali berdamai. Namun, Islam mengingatkan agar kemarahan tidak dipelihara terlalu lama hingga berubah menjadi kebencian.
Sebab, ketika hati dipenuhi dendam, setan akan menemukan ruang untuk memperbesar persoalan. Hal-hal kecil dibesar-besarkan. Kesalahan masa lalu terus diungkit. Bahkan, kebaikan pasangan yang selama bertahun-tahun pernah diberikan seolah lenyap hanya karena satu kesalahan yang baru saja terjadi.
Karena itu, introspeksi tidak hanya mengajarkan seseorang melihat kekurangannya, tetapi juga mengingat kembali betapa banyak kebaikan pasangan yang mungkin selama ini terlupakan.
Bukankah suami dan istri pernah berjuang bersama membangun rumah tangga dari nol? Pernah saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan? Pernah saling mendoakan dalam sujud-sujud panjang?
Mengingat kembali nikmat-nikmat tersebut sering kali mampu melunakkan hati yang keras karena amarah.
Konflik Bisa Menjadi Jalan Mendekat kepada Allah
Ironisnya, tidak sedikit pasangan yang justru semakin jauh dari Allah ketika menghadapi masalah rumah tangga. Salat menjadi lalai, doa semakin jarang dipanjatkan, dan Al-Qur’an semakin jarang dibaca. Padahal, saat itulah seseorang justru paling membutuhkan pertolongan dari Rabb-nya.
Konflik seharusnya menjadi momentum untuk memperbanyak istigfar, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta memohon agar Dia membuka pintu-pintu penyelesaian yang mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran manusia.
Tidak sedikit rumah tangga yang akhirnya kembali harmonis bukan semata-mata karena kemampuan berdialog, melainkan karena Allah SWT melembutkan hati kedua pasangan. Sebab, hati manusia berada dalam genggaman-Nya. Dialah yang membolak-balikkan hati sesuai kehendak-Nya.
Ketika suami dan istri sama-sama kembali kepada Allah, mengakui kekurangan masing-masing, serta bersungguh-sungguh memperbaiki diri, maka perselisihan yang semula tampak besar perlahan berubah menjadi pelajaran yang mendewasakan.
Banyak pasangan justru menjadi lebih dekat setelah berhasil melewati badai rumah tangga dengan cara yang benar. Mereka belajar bahwa cinta tidak hanya tumbuh ketika keadaan mudah, tetapi juga ketika keduanya mampu bertahan, saling memaafkan, dan sama-sama memperbaiki diri.
Namun, introspeksi dan permintaan maaf saja belum cukup untuk menjaga keutuhan sebuah keluarga. Rumah tangga memerlukan fondasi yang jauh lebih kokoh agar mampu bertahan menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Fondasi itu adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Ketika setiap keputusan, ucapan, dan tindakan dibangun di atas rasa takut kepada Allah serta keinginan untuk memperoleh ridha-Nya, maka rumah tangga akan memiliki arah yang jelas dalam menghadapi setiap persoalan.
