Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Gelatin Halal Masih Bergantung Impor, IPB Temukan Solusi dari Limbah Ikan

Abi Abdul Jabbar Sidik
30 July 2026 | 11:30
rubrik: Ekonomi Syariah, Info Halal
Gelatin Halal Masih Bergantung Impor, IPB Temukan Solusi dari Limbah Ikan

Ilustrasi Gelatin Halal. (foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, BOGOR – Di balik pesatnya pertumbuhan industri halal nasional, Indonesia masih menghadapi satu persoalan mendasar: ketergantungan terhadap impor gelatin dan kolagen. Padahal, bahan baku yang banyak digunakan dalam kapsul obat, suplemen, pangan, hingga kosmetik itu sebagian besar berasal dari luar negeri dengan status kehalalan yang belum selalu dapat dipastikan.

Melihat kondisi tersebut, pengembangan industri gelatin halal dalam negeri kini menjadi salah satu fokus yang didorong pemerintah. Selain untuk memperkuat rantai pasok halal, langkah ini juga dinilai penting guna mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Kepala Pusat Sains Halal (Halal Science Center) IPB University, Prof. Khaswar Syamsu, mengatakan sebagian besar gelatin dan kolagen impor masih memiliki risiko ketidakjelasan asal-usul bahan baku.

Menurutnya, lebih dari 60 persen kolagen dan gelatin dunia diproduksi dari kulit dan tulang babi. Sementara itu, gelatin berbahan sapi pun tetap harus dipastikan berasal dari hewan yang disembelih sesuai syariat Islam.

“Sebagaimana juga daging, kebutuhan untuk kolagen dan gelatin di dalam negeri sendiri lebih besar daripada kemampuan peternakan dalam negeri untuk menyediakannya. Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, maka Indonesia harus mengimpornya dari negara-negara penghasil daging, seperti dari Australia dan New Zealand, China, Brazil, India, dan lain-lain.”

Bukan Sekadar Halal, Tapi Juga Bernilai Ekonomi

Prof. Khaswar menilai pembangunan industri gelatin halal dalam negeri memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan umat Islam.

Menurutnya, jika Indonesia mampu memproduksi gelatin halal sendiri, ketergantungan impor dapat ditekan sekaligus memperkuat industri farmasi, pangan, kosmetik, hingga produk kesehatan yang selama ini masih mengandalkan bahan baku luar negeri.

Bahkan, apabila produksinya melebihi kebutuhan domestik, Indonesia berpeluang menjadi eksportir gelatin halal bagi negara-negara yang membutuhkan produk bersertifikat halal.

“Jika produksi dalam negeri bisa melebihi kebutuhan, kolagen dan gelatin tersebut dapat diekspor, utamanya ke negara-negara yang memerlukan kolagen dan gelatin halal, sehingga juga berpotensi menghasilkan devisa.”

Limbah Ikan Disulap Jadi Gelatin Halal

Di tengah tingginya ketergantungan impor, IPB University menawarkan solusi berbasis sumber daya lokal melalui pemanfaatan limbah industri perikanan.

See also  Dukung Industri Halal, Kemenperin Luncurkan Serambi Halal BBHIP

Kulit, sisik, tulang, hingga gelembung renang ikan yang selama ini banyak terbuang ternyata dapat diolah menjadi kolagen dan gelatin halal untuk berbagai kebutuhan industri.

Prof. Khaswar menjelaskan, meski memiliki karakteristik yang berbeda dengan gelatin sapi maupun babi, gelatin berbahan ikan telah terbukti mampu menjadi alternatif bahkan memiliki sejumlah keunggulan untuk aplikasi tertentu.

Ia mengungkapkan tim peneliti yang dipimpin Prof. Mala Nurilmala dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University telah berhasil mengembangkan kolagen dan gelatin dari limbah perikanan.

“Tim peneliti yang diketuai oleh Prof Mala Nurilmala dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University telah berhasil menghasilkan kolagen dan gelatin dari limbah industri perikanan tersebut yang kemudian dihilirisasi menjadi minuman kolagen untuk kesehatan dan cangkang kapsul untuk obat-obatan. Penelitian dan pengembangan teknologi untuk memproduksi kolagen dan gelatin dari limbah industri perikanan masih berjalan.”

Tak Berhenti di Laboratorium

Pengembangan gelatin halal di IPB kini tidak lagi sebatas penelitian.

Melalui program Bestari Saintek dan dukungan Dana Wakaf Indosat, IPB University mulai membina nelayan dan pelaku UMKM di Tegal agar mampu menghasilkan bahan baku gelatin halal dari limbah perikanan.

Selanjutnya, bahan baku tersebut akan diserap oleh industri pengolahan sehingga tercipta ekosistem industri halal yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.

Model kolaborasi tersebut juga disiapkan untuk diperluas ke berbagai daerah bersama Bank Indonesia sebagai bagian dari pengembangan industri halal nasional.

Jika berhasil dikembangkan secara masif, inovasi ini bukan hanya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap gelatin impor, tetapi juga mengubah limbah perikanan menjadi produk bernilai tinggi yang mampu memperkuat daya saing industri halal Indonesia di pasar global.

See also  BPJPH: Persetujuan RPP Jaminan Produk Halal Terhambat Proses Birokrasi
Tags: farmasi halalgelatin halalindustri halalIPB Universitykolagen halalKosmetik Halallimbah ikanproduk perikanan
Previous Post

Survei: 37 Persen Muslimah RI Belum Pakai Produk Syariah, Ini Alasanny

Next Post

BPKH Siapkan Skema Haji Bisa Dicicil, Calon Jemaah Tak Lagi Kejar Pelunasan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks