MADANINEWS.ID, PURWOKERTO – Gang kecil di RT 003 RW 003, Kelurahan Sumampir, Purwokerto Utara, Banyumas, mendadak lebih hidup dari biasanya. Dalam beberapa hari terakhir, warga datang silih berganti ke sebuah rumah sederhana untuk mengucapkan selamat.
Pemilik rumah itu adalah Sucipto (62), seorang juru parkir Pasar Pon Purwokerto yang akhirnya akan menunaikan ibadah haji setelah perjuangan panjang selama belasan tahun.
Bagi sebagian orang, berangkat ke Tanah Suci mungkin hanya soal waktu tunggu dan kesiapan administrasi. Namun bagi Sucipto, perjalanan menuju Makkah adalah kisah tentang kerja keras, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus.
Dengan mata berkaca-kaca, pria sederhana itu mengaku masih sulit percaya impiannya benar-benar terwujud.
“Alhamdulillah rukun kelima bisa tercapai,” ujar Sucipto saat ditemui di rumahnya, Senin (11/5/2026).
Siang Jadi Tukang Parkir, Malam Jaga Perumahan
Sejak 1999, hidup Sucipto nyaris tak jauh dari suara peluit parkir dan rutinitas mencari nafkah.
Siang hari, ia bekerja sebagai juru parkir di Pasar Pon Purwokerto. Ketika malam tiba, pekerjaannya belum selesai. Ia masih harus berganti peran menjadi penjaga perumahan milik pemerintah daerah di Kelurahan Bantarsoka.
“Profesi saya dua itu. Siang tukang parkir di Pasar Pon, malam bantu jaga perumahan,” katanya.
Penghasilannya pun jauh dari kata besar.
Dari pekerjaannya sebagai tukang parkir, Sucipto rata-rata membawa pulang sekitar Rp 50 ribu per hari. Sementara pekerjaan menjaga perumahan memberinya penghasilan Rp 900 ribu per bulan.
“Kalau penghasilan rata-rata ya Rp 50 ribu sehari hasil parkir. Sedangkan yang jadi penjaga malam sebulan Rp 900 ribu,” tuturnya.
Di atas kertas, angka itu mungkin tampak nyaris mustahil untuk membiayai perjalanan haji.
Namun justru dari penghasilan sederhana itulah, mimpi besar itu dibangun.
Menabung Sedikit Demi Sedikit
Sucipto mulai menabung sejak 2012.
Tak ada cara instan. Tak ada warisan besar. Tak ada jalan pintas.
Yang ada hanya kebiasaan menyisihkan sedikit demi sedikit uang hasil kerja, setiap kali ada sisa setelah kebutuhan keluarga terpenuhi.
“Saya nabung ikut-ikut orang kaya. Sedikit-sedikit. Kalau ada lebih habis bayar sekolah anak, saya simpan. Kadang Rp 4 juta, Rp 5 juta,” katanya.
Setiap hari, ia menyimpan uang ke BMT. Jika jumlahnya sudah cukup besar, uang itu dipindahkan ke rekening bank.
“Harian juga nabung ke BMT. Kalau sudah besar saya tarik ke BRI. Terus terakhir pelunasannya lewat BCA. Perjuangannya luar biasa,” ungkapnya.
Belasan tahun menabung bukan perkara mudah, terlebih ketika hidup tak selalu berjalan mulus.
Pernah Berutang Demi Sekolahkan Anak
Di tengah perjuangannya mengejar impian berhaji, Sucipto juga harus memikirkan masa depan ketiga anaknya.
Biaya pendidikan menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.
Ia bahkan sempat berutang demi membayar kebutuhan kuliah anak-anaknya.
“Dengan keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan untuk naik haji. Dulu buat bayar semesteran anak juga. Utang ke BMT sama BRI, tapi saya lunasi,” katanya.
Bagi Sucipto, anak-anaknya harus punya masa depan lebih baik.
Ia tak ingin mereka mengalami kerasnya hidup seperti yang ia jalani.
Dengan suara bergetar, Sucipto mengungkap latar belakang pendidikannya.
“Saya itu bapaknya cuma sempritan tok, SD paket. Tapi Alhamdulillah anak tiga kuliah semua, sudah S1 semua,” ucapnya sambil meneteskan air mata.
Kalimat itu sederhana, tapi memuat seluruh cerita tentang seorang ayah.
Tentang lelaki yang mungkin tak punya banyak harta, tapi punya cita-cita besar untuk keluarganya.
Perjuangan Sucipto tak berhenti di persoalan ekonomi.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan istrinya.
Sejak saat itu, ia harus memikul semuanya seorang diri.
Bekerja, membesarkan anak-anak, membayar kebutuhan rumah tangga, hingga terus menyimpan mimpi berhaji.
Di tengah segala keterbatasan, satu doa terus ia panjatkan.
“Saya berdoa, anak saya harus sekolah, jangan seperti saya. Jangan jadi tukang parkir seperti bapaknya,” lanjutnya.
Kini Giliran Mimpi Itu Menjadi Nyata
Kabar keberangkatan Sucipto membuat warga sekitar ikut terharu.
Di lingkungan tempatnya bekerja menjaga perumahan, ucapan selamat terus berdatangan.
“Saya ngaji di sana, warga pada bangga, pada ngucapin selamat,” katanya.
Setelah puluhan tahun bekerja dan belasan tahun menabung, kini langkahnya semakin dekat menuju Tanah Suci.
Sucipto dijadwalkan berangkat menuju embarkasi pada Kamis (14/5) malam. Ia tergabung dalam Kloter 73 dan akan diberangkatkan dari GOR Satria Purwokerto sekitar pukul 23.00 WIB.
Dari peluit parkir yang setiap hari ia tiup, dari langkah kecil yang ia tempuh sedikit demi sedikit, seorang ayah akhirnya menjemput impian yang lama ia simpan dalam diam.
