MADANINEWS.ID, MADINAH – Di tengah riuh kedatangan jemaah haji Indonesia di Madinah, ada satu kisah yang mencuri perhatian. Bukan tentang kemewahan atau fasilitas, melainkan tentang keteguhan hati seorang marbot masjid yang akhirnya menjejakkan kaki di Tanah Suci setelah penantian panjang.
Ia adalah Hamdi, pria sederhana asal Banjarmasin yang sehari-hari mengabdikan diri sebagai penjaga kebersihan masjid. Di balik rutinitasnya yang sederhana, tersimpan mimpi besar yang ia rawat selama bertahun-tahun: menunaikan ibadah haji.
Bagi Hamdi, jalan menuju Tanah Suci bukanlah perkara mudah. Ia bukan pengusaha, bukan pula pegawai dengan penghasilan tetap besar. Namun, keterbatasan itu tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
“Penghasilan kalau dari masjid setiap bulan dikasih sejuta. Ada yang kasih Rp 500 (ribu) seminggu, jadi sebulan Rp 2 juta. Ada juga dikasih orang, itu saya kumpulin,” kata Hamdi saat ditemui tim MCH di Bandara Madinah pada Minggu (25/04/2026) Waktu Arab Saudi.
Dari penghasilan yang tak menentu itu, ia menyisihkan sedikit demi sedikit untuk ditabung. Setiap rupiah yang ia kumpulkan menjadi simbol harapan yang terus ia jaga.
Penantian 15 Tahun yang Penuh Kesabaran
Perjalanan menuju haji bukan hanya soal biaya, tetapi juga waktu. Setelah berhasil mendaftar secara mandiri, Hamdi harus menunggu giliran keberangkatan selama 15 tahun.
Selama masa itu, ia tetap menjalani hidup dengan sederhana, tanpa pernah mengeluh atau kehilangan semangat.
“Nunggu 15 tahun. Daftarnya sendiri,” jelasnya.
Penantian panjang tersebut akhirnya terbayar di tahun ini, saat namanya dipanggil untuk berangkat ke Tanah Suci.
Momen keberangkatan itu menjadi semakin istimewa karena Hamdi tidak sendiri. Ia ditemani sang istri, Aminah, yang setia mendampingi perjalanan spiritual tersebut.
Keduanya tak kuasa menahan haru saat menyadari bahwa mimpi yang mereka bangun selama belasan tahun kini menjadi kenyataan.
Bukti Bahwa Haji Bukan Soal Kekayaan
Kisah Hamdi menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan semata tentang kemampuan finansial, tetapi juga tentang niat, kesabaran, dan ketekunan.
Dari seorang marbot dengan penghasilan sederhana, ia membuktikan bahwa jalan menuju Baitullah selalu terbuka bagi mereka yang bersungguh-sungguh.
Kini, setelah tiba di Madinah, Hamdi bersiap menjalani rangkaian ibadah di Masjid Nabawi sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan puncak ibadah haji.
Di antara jutaan jemaah, kisahnya menjadi satu dari sekian banyak cerita tentang harapan yang tak pernah padam—bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas, pada waktunya akan sampai ke tujuan.
