MADANINEWS.ID, JAKARTA – Suhu siang hari di Makkah kerap menyengat, terutama ketika matahari tepat berada di atas kepala. Namun kondisi tersebut tidak sepenuhnya dirasakan jemaah saat melaksanakan tawaf di Masjidil Haram. Lantai marmer di area tawaf tetap terasa sejuk meski terpapar sinar matahari langsung.
Kenyamanan ini bukan terjadi secara kebetulan. Pengelola Masjidil Haram menerapkan sistem rekayasa yang dirancang khusus untuk meminimalkan panas dan menjaga keselamatan jemaah selama beribadah.
Marmer Dipilih Khusus dengan Daya Pantul Panas
Melansir Saudi Press Agency, pengelola masjid memilih jenis marmer dengan sifat fisika yang mampu memantulkan panas matahari. Material tersebut tidak menyerap panas secara signifikan, sehingga suhu permukaan tetap relatif rendah.
Marmer yang digunakan berasal dari kawasan pegunungan bersuhu rendah. Bahan alami berkualitas tinggi ini memiliki koefisien penyerapan panas yang rendah, sehingga panas tidak terperangkap di permukaan lantai.
Selain itu, warna marmer yang terang turut berperan penting. Permukaan berwarna cerah membantu memantulkan radiasi matahari, berbeda dengan material berwarna gelap yang cenderung menyimpan panas.
Struktur Lantai Dirancang untuk Buang Panas
Tak hanya mengandalkan material, pengelola juga merancang struktur pemasangan marmer secara khusus. Ketebalan lembaran marmer dan pemasangannya di atas lapisan isolasi menciptakan rongga udara di bawah lantai.
Rancangan ini memungkinkan sirkulasi udara yang membantu mempercepat pembuangan panas dari permukaan lantai. Sistem tersebut meningkatkan efektivitas isolasi sekaligus menjaga suhu lantai tetap nyaman bagi jemaah yang berjalan tanpa alas kaki.
Pergerakan Jamaah Ikut Bantu Pendinginan
Luasnya area tawaf, pergerakan jemaah yang terus berlangsung, serta aliran udara alami di kawasan Masjidil Haram juga berkontribusi meredam panas. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat suhu lantai tidak cepat meningkat meski digunakan sepanjang hari.
Keseluruhan pendekatan ini menunjukkan sinergi antara pemilihan bahan alami dan rekayasa teknis untuk melayani kebutuhan jemaah. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen pengelola Masjidil Haram dalam menjaga kenyamanan dan keamanan tamu Allah saat beribadah.
