MADANINEWS.ID, JAKARTA – Pemerintah mempercepat langkah teknis penyelenggaraan ibadah haji 2026 dengan mengamankan pembiayaan serta layanan utama di Arab Saudi sejak awal. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana jemaah jauh sebelum puncak musim haji, sekaligus meminimalkan risiko keterlambatan layanan.
Perkembangan tersebut disampaikan Menteri Haji dan Umrah RI Mochammad Irfan Yusuf saat rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Dalam rapat itu, Irfan memaparkan bahwa sebagian besar biaya operasional haji tahun depan telah disalurkan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji.
“Penyiapan biaya operasional ibadah haji. Jumlah dana ditransfer oleh BPKH sejumlah Rp 11.574.420.950.436 atau sebesar 63,8% dari jumlah permintaan BPIH tahun 2026 sebesar 18 triliun 215 miliar 355 juta 689 ribu 936 rupiah,” ujarnya.
Pembayaran Awal Layanan Haji ke Arab Saudi Sudah Dilakukan
Irfan menjelaskan, dana yang telah ditransfer itu sebagian digunakan untuk membayar layanan utama penyelenggaraan haji di Arab Saudi. Pembayaran dilakukan lebih awal sebagai langkah pengamanan layanan krusial.
“Pemerintah telah melakukan transfer untuk pembayaran tenda, paket layanan Masyair, dan sebagian hotel, konsumsi, transportasi sebesar 2.254.320.260 Saudi Riyal dan tenggat waktu pembayarannya 20 Januari 2026 kemarin,” jelas Gus Irfan.
Langkah ini, menurutnya, menjadi strategi pemerintah agar kebutuhan dasar jemaah tidak terkendala saat mendekati masa operasional haji.
Akomodasi Jemaah Mulai Dipersiapkan Sejak November 2025
Selain pembiayaan, persiapan teknis di Arab Saudi telah dimulai sejak 27 November 2025. Tahapan ini mencakup penyediaan akomodasi, konsumsi, hingga transportasi jemaah.
Untuk jemaah haji reguler di Makkah, pemerintah menyiapkan 178 hotel yang tersebar di beberapa wilayah. Rinciannya meliputi Misfalah 29,56%, Syisyah 27,20%, Raudhah 22,60%, Jarwal 10,30%, dan wilayah lainnya 10,30%.
Sementara itu, akomodasi jemaah di Madinah berada di tiga kawasan utama, yakni Markaziyah Shamaliyah 49,67%, Markaziyah Gharbiyah 36,72%, serta Markaziyah Janubiyah 13,61%.
Skema Konsumsi: Puluhan Dapur Siap Layani Jemaah
Layanan konsumsi juga menjadi salah satu fokus persiapan. Di Makkah, jemaah direncanakan memperoleh maksimal 84 kali makan selama berada di Tanah Suci.
“Dia juga menjelaskan konsumsi yang akan diterima jemaah haji selama berada di Makkah maksimal 84 kali. Rinciannya 78 kali makan fresh meal dan 6 kali makan ready to eat pada 7, 8 dan 13 Zulhijah yang akan dilayani oleh 52 dapur.”
Sementara di Madinah, layanan konsumsi akan disediakan oleh 23 dapur dengan maksimal 27 kali makan.
“Sementara progress untuk manual untuk 52 dapur Makkah dan 23 Madinah telah selesai dilaksanakan,” ungkapnya.
Transportasi Jemaah Dibagi dalam Tiga Skema Layanan
Dalam rapat kerja tersebut, Irfan juga memaparkan skema transportasi jemaah haji selama berada di Arab Saudi. Layanan transportasi akan dibagi ke dalam tiga kategori utama.
“Transportasi bagi jemaah haji terbagi dalam tiga layanan: bus antarkota angkutan perhajian melayani jemaah haji dengan rute hotel Madinah ke hotel Makkah, hotel Makkah ke hotel Madinah, hotel Makkah ke Bandara KAIA, dan hotel Madinah ke Bandara AMAA,” tandasnya.
