MADANINEWS.ID, JAKARTA – Penyakit hati yang kerap menyerang seorang mukmin adalah riya, yaitu ketika seseorang beribadah tapi hatinya mengharapkan pujian atau perhatian manusia. Meski “tak kasat mata”, riya bisa merusak amal dan menjauhkan pahala dari Allah.
Fenomena ini tetap relevan di era modern, ketika banyak orang melakukan amal kebaikan, tetapi kerap tergoda ekspektasi sosial dan pengakuan publik. Para ulama menegaskan pentingnya menjaga niat agar tetap ikhlas, salah satunya melalui panduan Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin.
1. Menyadari Kekurangan Diri
Langkah pertama yang dianjurkan Imam Al-Ghazali adalah menyadari bahwa setiap manusia adalah makhluk lemah yang penuh kekurangan. Dengan menyadari hal ini, seorang mukmin tidak akan berharap pujian dari manusia, melainkan hanya dari Allah.
Imam Al-Ghazali merujuk pada firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 12:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
Artinya: “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
Menurut Al-Ghazali, ayat ini menjadi peringatan dan teguran Allah agar manusia menyadari betapa besar kuasa-Nya, sehingga ibadah tidak diarahkan untuk manusia yang tidak memiliki kuasa apa pun.
2. Mengingat Kerugian Amal
Imam Al-Ghazali menekankan bahwa pahala amal dari Allah sangat besar, tetapi jika amal tercampur riya, pahala itu bisa hilang. Al-Ghazali mengumpamakan riya seperti menjual perhiasan mahal seharga murah kepada orang yang salah: kerugian besar tak terelakkan.
Beliau menjelaskan:
فاذا أنت أخلصت النية وجردت الهمة للآخرة حصلت لك الآخرة والدنيا جميعا
Artinya: “Apabila engkau mengikhlaskan niat dan mengarahkan tekadmu untuk akhirat, maka engkau akan memperoleh akhirat sekaligus dunia.” (Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin [Indonesia, Pustaka Islamiyah: t.t], h. 76)
Sebaliknya, jika amal hanya untuk dunia, balasan akhirat tidak didapat, dan dunia pun bisa hilang dengan cepat. Kondisi ini menjadikan seorang mukmin merugi dunia dan akhirat.
3. Tidak Disukai Orang Lain
Al-Ghazali menekankan, amal yang diniatkan untuk manusia bisa saja tidak disukai orang lain. Bahkan orang yang dimaksud mungkin akan merasa jijik atau hina.
Oleh karena itu, saat beribadah, seorang hamba harus menjaga hati agar tetap fokus kepada Allah, bukan kepada manusia. Hal ini menjadi pengingat penting agar ibadah tetap murni dan diterima.
4. Memilih Rida Allah
Rida Allah harus menjadi prioritas utama bagi seorang mukmin. Imam Al-Ghazali menganalogikan: rida Allah ibarat rida seorang raja, sedangkan rida manusia seperti rida seorang budak hina. Jika seseorang riya, ia mencari rida “budak”, padahal rida Allah sudah menantinya.
Dengan empat pengingat ini—menyadari kekurangan diri, mengingat kerugian amal, sadar orang lain mungkin tidak suka, dan memilih rida Allah—seorang hamba dapat terhindar dari penyakit riya dan menjadikan amal ibadahnya murni untuk Allah. Wallahu a’lam.
