MADANINEWS.ID, JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan manasik kesehatan calon jemaah haji 1447 H/2026 M akan dimulai pada Januari 2026. Program ini dilakukan setelah seluruh proses seleksi petugas haji rampung, dan akan berlangsung selama tiga bulan menjelang keberangkatan.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menekankan pentingnya pengawasan kesehatan yang ketat. “Januari itu artinya dokter akan banyak terlibat untuk mengawasi kesehatan jemaah,” ujarnya saat menghadiri kegiatan Perdokhi di Sentul, Bogor, Sabtu (22/11/2025).
Fokus 3 Bulan Sebelum Keberangkatan
Para dokter dari Pusat Kesehatan Haji akan memantau jemaah secara berkesinambungan. Pengawasan mencakup:
-
Pembiasaan jalan kaki rutin
-
Pola makan sehat
-
Kebiasaan fisik lain untuk meningkatkan stamina
“Ini seperti mempersiapkan atlet yang akan bertanding di puncak haji,” terang Dahnil. Tujuannya, memastikan jemaah siap secara fisik menghadapi tantangan di Tanah Suci.
Angka Kematian Tinggi Perlu Perhatian
Evaluasi Kemenhaj menunjukkan bahwa tingkat kematian jemaah Indonesia masih tinggi, dengan kontribusi mencapai 50 persen dari total kematian jemaah di Tanah Suci tahun 2025. Menurut Dahnil, kematian tidak hanya dialami lansia, tapi juga jemaah dengan komorbid yang seharusnya tidak berangkat.
“Banyak orang yang sejatinya sakit dan tidak pantas berangkat, itu bisa berangkat karena dokumennya bilang dia sehat,” ungkap Dahnil. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pemeriksaan kesehatan awal menjadi kunci untuk menurunkan risiko tersebut.
Dengan pengawasan intensif selama tiga bulan, Kemenhaj berharap jemaah lebih siap, stamina terjaga, dan ibadah haji dapat dilakukan dengan aman dan lancar.
