MADANINEWS.ID, Jakarta — Sibuk kerja boleh, abai keluarga jangan. Burnout, cekcok karena urusan domestik tak terbagi, hingga menurunnya produktivitas sering berawal dari tak adanya waktu berkualitas bersama keluarga. Work–life balance bukan sekadar slogan; ia butuh disiplin batas kerja, pembagian peran rumah tangga, dan family time yang rutin—karena pada akhirnya, hasil jerih payah kita memang untuk kebahagiaan keluarga.
Mandat Syariat: Mu’asyarah Bil Ma’ruf
Islam menekankan keharmonisan rumah tangga. Allah berfirman:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
Artinya, “Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.”
Syekh Wahbah az-Zuhaili menafsirkan: kelembutan tutur, akhlak baik, good attitude, serta adil dalam nafkah dan giliran bermalam adalah wujud konkret mu’asyarah bil ma’ruf (Tafsir al-Munir, Jilid IV, hlm. 302).
Standar Akhlak di Rumah
Rasulullah SAW menegaskan tolok ukur kebaikan seorang muslim dimulai dari rumahnya:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ،» وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: Dari Aisyah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku.”
Asy-Syaukani mengulas tegas:
في ذلك تنبيه على أن أعلى الناس رتبةً في الخير وأحقهم بالاتصاف به هو من كان خير الناس لأهله، فإن الأهل هم الأحقاء بالبشر وحسن الخلق والإحسان وجلب النفع ودفع الضرِّ، فإذا كان الرجل كذلك فهو خير الناس وإن كان على العكس من ذلك فهو في الجانب الآخر من الشر، وكثيرًا ما يقع الناس في هذه الورطة، فترى الرجل إذا لقي أهله كان أسوأ الناس أخلاقًا وأشجعهم نفسًا وأقلهم خيرًا، وإذا لقي غير الأهل من الأجانب لانت عريكته وانبسطت أخلاقه وجادت نفسه وكثر خيره، ولا شكّ أن من كان كذلك فهو محروم التوفيق زائغ عن سواء الطريق، نسأل الله السلامة.
Artinya, “… keluarga adalah pihak yang paling berhak dibahagiakan… Jika seorang pria demikian, dialah sebaik-baik manusia. Jika sebaliknya, dialah seburuk-buruk manusia… Orang seperti itu terhalang dari petunjuk Allah dan menyimpang dari jalan yang benar. Semoga Allah melindungi kita.”
(Nailul Authar, Jil. XII, hlm. 331)
Intinya: kebaikan sejati diuji di rumah, bukan di luar.
Teladan Nabi: Hadir, Hangat, dan Bermain
Rasulullah SAW meluangkan waktu, bergembira, dan bermain dengan keluarga:
وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَمْزَحُ مَعَهُنَّ وَيَنْزِلُ إِلَى دَرَجَاتِ عُقُولِهِنَّ في الأعمال والأخلاق حتى روي أنه صلى الله عليه وسلم كان يسابق عائشة في العدو فسبقته يوماً وسبقها في بعض الأيام فقال صلى الله عليه وسلم هذه بتلك
Artinya: Rasulullah SAW pernah bergurau dengan istri-istrinya… beliau pernah berlomba lari bersama Aisyah; ketika Aisyah menang, di kesempatan lain beliau menang dan bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan yang lalu.”
(Ihya Ulumuddin, Jilid II, hlm. 61)
Kepada cucu-cucu beliau:
أَنَّ الْحَسَنَ، وَالْحُسَيْنَ، أَقْبَلَا يَسْتَبِقَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا أَنْ جَاءَهُ أَحَدُهُمَا جَعَلَ يَدَهُ فِي عُنُقِهِ، ثُمَّ جَاءَ الْآخَرُ فَجَعَلَ يَدَهُ فِي عُنُقِهِ، فَقَبَّلَ هَذَا، ثُمَّ قَبَّلَ هَذَا، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا
Artinya, “Hasan dan Husain berlari menuju Rasulullah… beliau merangkul dan mencium keduanya, lalu berdoa: ‘Ya Allah, aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka.’”
(Musnad Asy-Syihab, Jilid I, hlm. 50)
Pelajarannya: quality time adalah sunnah—membangun kedekatan emosional, bukan sisa energi di akhir hari.
Panduan Praktis Family Time (Anti-Excuse Checklist)
-
Lock the clock — pasang “jam pulang” dan mode offline dari urusan kantor saat bersama keluarga.
-
Ritual harian 15–30 menit — makan bersama, ngobrol tiga pertanyaan (hari ini seru apa? tantangan apa? bersyukur untuk apa?).
-
Jadwal pekanan — satu sesi “kencan” suami–istri + satu sesi “main bareng” orang tua–anak (tanpa gawai).
-
Bagi peran domestik — daftar tugas harian yang realistis; bantu pasangan tanpa diminta.
-
One device basket — keranjang ponsel saat makan/taklim keluarga; ajarkan digital manners.
-
Doa & dzikir bareng — minimal shalat berjamaah sekali di rumah/hari; selipkan muhasabah ringan.
-
Libatkan anak — pilih kegiatan yang melibatkan mereka (memasak sederhana, berkebun, olahraga ringan).
-
Bahasa cinta — ucapkan terima kasih eksplisit, pelukan, afirmasi; konsisten, bukan seremonial.
-
Review bulanan — cek apa yang bikin bentrok waktu, koreksi jadwal, rayakan kemajuan kecil.
-
Minta maaf cepat — konflik pasti ada; budaya minta maaf & memaafkan memperpendek “dingin-dinginan”.
Kenapa Wajib Diupayakan?
-
Mencegah fatherless/motherless secara emosional meski tinggal serumah.
-
Menurunkan risiko burnout berkepanjangan dan meningkatkan produktivitas.
-
Mengamalkan mu’asyarah bil ma’ruf (An-Nisa:19) + teladan akhlak keluarga Nabi.
-
Menjadi prioritas syar’i—sebagaimana penegasan Asy-Syaukani—bahwa keluarga adalah pihak pertama yang wajib dibahagiakan.
Singkatnya: karier itu penting, tapi keluarga adalah “rumah pulang” yang harus dijaga. Sukses yang mengorbankan keluarga adalah tagihan yang terlalu mahal.
Wallāhu a‘lam.
