Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Rahasia Keluarga Harmonis: Kuncinya Ada pada Cara Mengelola Uang!

Abi Abdul Jabbar Sidik
23 October 2025 | 14:00
rubrik: Gaya Hidup, Keluarga
Keutamaan Melangsungkan Pernikahan di Hari Jumat

Pernikahan. (foto:istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, Jakarta — Setiap pasangan pasti mendambakan rumah tangga yang bahagia, penuh cinta, dan saling mendukung. Namun, menjaga keharmonisan tak hanya soal perasaan — mengatur keuangan dengan bijak juga jadi kunci penting agar rumah tangga tetap tenang dan terhindar dari konflik.

Dalam bukunya Cerdas dan Bijak Mengatur Keuangan Rumah Tangga (2019: 20), Wahyuni menulis bahwa persoalan utama dalam keluarga sering kali bukan karena jumlah penghasilan, melainkan karena pola pengelolaan keuangan yang tidak seimbang.

Islam sendiri telah memberikan panduan yang sangat relevan. Dalam Surat Al-Furqan ayat 67, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)

Ayat ini menegaskan bahwa keseimbangan dalam pengeluaran adalah ciri keluarga beriman — tidak boros, tapi juga tidak pelit.

Tips Mengelola Keuangan Keluarga Menurut Pandangan Ulama

Mengatur keuangan rumah tangga bukan sekadar soal angka, tapi soal niat, keberkahan, dan tanggung jawab. Para ulama klasik, terutama Imam Al-Ghazali, telah membahas prinsip ini jauh sebelum istilah “manajemen finansial” dikenal.

Berikut beberapa panduan penting menurut para ulama dan pakar keuangan Islam:

1️⃣ Niatkan Mencari Rezeki Sebagai Ibadah

Setiap nafkah yang dicari suami bukan sekadar untuk membeli kebutuhan, tapi bagian dari ibadah. Imam Al-Ghazali mengingatkan agar dalam mencari penghidupan, manusia tidak melupakan agama dan tujuan akhiratnya.

Beliau menulis dalam Ihya’ ‘Ulumuddin:

ولا يَنْبَغِي لِلتَّاجِرِ أَنْ يَشْغَلَهُ مَعَاشُهُ عَنْ مَعَادِهِ فَيَكُونَ عُمْرُهُ ضَائِعًا وَصَفْقَتُهُ خَاسِرَةً وَمَا يَفُوتُهُ مِنَ الرِّبْحِ فِي الْآخِرَةِ لَا يَفِي بِهِ ما ينال في الدنيا فيكون اشْتَرَى الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ بَلِ الْعَاقِلُ يَنْبَغِي أَنْ يُشْفِقَ عَلَى نَفْسِهِ وَشَفَقَتُهُ عَلَى نَفْسِهِ يحفظ رَأْسِ مَالِهِ وَرَأْسُ مَالِهِ دِينُهُ وَتِجَارَتُهُ فِيهِ

“Ketahuilah, dalam usaha manusia mencari rezeki, berniaga, dan mencari penghidupan di alam dunia ini, tidak sepantasnya seseorang melupakan urusan agama dan kepentingan akhiratnya, serta tujuannya yang hakiki dalam hidup. Janganlah usaha mencari rezeki menjadikan seseorang lupa dengan kepentingan akhirat, sehingga terlena dengan keuntungan duniawi semata. Kemudian, menjadikan terpaku dengan urusan dunia, sehingga termasuk kelompok orang yang menggadaikan kehidupan akhirat demi menggapai kenikmatan duniawi yang semu. Namun, kebalikan dari itu, orang-orang yang shalih dan bijaksana adalah mereka yang selalu memelihara modal utama yang telah Allah Swt. berikan, yaitu tuntunan agama Islam, juga perkara-perkara yang berkaitan dengan kepentingan akhirat mereka.” (Imam al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, [Beirut: Darul Ma’rifah, tt], jilid II, hlm. 83).

See also  Family Time: Kunci Keharmonisan di Tengah Kesibukan

2️⃣ Prioritaskan Kebutuhan, Hindari Pemborosan

Para ulama menasihatkan agar pengeluaran diarahkan untuk kebutuhan yang benar-benar penting — bukan untuk gaya hidup berlebihan. Imam Al-Ghazali menegaskan pentingnya hidup seimbang:

السَّادِسُ الِاعْتِدَالُ فِي النَّفَقَةِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَتِّرَ عَلَيْهِنَّ فِي الْإِنْفَاقِ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْرِفَ بَلْ يَقْتَصِدَ

“Adab keenam yaitu kesederhanaan dalam membelanjakan harta. Janganlah para suami mempersempit belanja yang dibutuhkan oleh kaum wanita (para istri), akan tetapi juga jangan terlalu melebih-lebihkan. Berikanlah kepada para istri belanja untuk memenuhi kebutuhan yang sewajarnya.”
(Ihya’ ‘Ulumuddin, jilid II, hlm. 47).

Kuncinya adalah hidup proporsional — tidak kikir, tidak boros, dan selalu menyesuaikan dengan kemampuan.

3️⃣ Jadikan Zakat dan Sedekah Sebagai Bagian dari Pengeluaran

Dalam Islam, zakat dan sedekah bukan hanya amalan sunnah, tapi komponen utama dalam manajemen keuangan.

Selain menumbuhkan solidaritas sosial, sedekah juga membersihkan harta dan hati dari sifat kikir.

Dalam Fiqhul Manhaji, Dr. Musthafa al-Khin dan ulama lain menjelaskan:

من شأن الزكاة أن تعود المعطي على الكرم والبذل، وأن تقتلع من نفسه جذور الشح وعوامل البخل، وخصوصًا عندما يلمس بنفسه ثمرات ذلك، ويتنبه إلى أن الزكاة تزيد في المال أكثر مما تنقص منه وصدق رسول الله ﷺ إذ يقول: «ما نقصت صدقة من مال» مسلم: (٢٥٨٨) وكيف تنقصه؟! والله سبحانه يبارك له بسبب الصدقة بدفع المضرة عنه وكف تطلع الناس إليه، وتهيئة سبل الانتفاع به وتكثيره، إلى جانب الثواب العظيم الذي يترتب على الإنفاق ابتغاء مرضاة الله

“Zakat mendidik orang yang memberi untuk menjadi dermawan dan murah hati, serta mencabut akar-akar kekikiran dan faktor-faktor kebakhilan dari dalam dirinya, terutama ketika dia sendiri melihat buah dari perbuatannya, dan menyadari bahwa zakat menambah kekayaan lebih dari sekadar menguranginya. Sungguh benar sabda Rasulullah SAW: ‘Sedekah tidak akan mengurangi harta.’ (HR. Muslim: 2588). Bagaimana mungkin sedekah menguranginya? Allah SWT memberkahi hartanya berkat sedekah, dengan menjauhkan bahaya darinya dan mencegah orang-orang tamak melihat hartanya. Dia juga menyiapkan jalan-jalan keberkahan untuknya, meningkatkan hartanya, dan memberikan pahala yang besar atas infak yang dilakukan untuk mencari rida Allah.”
(Dr. Musthafa al-Khin dkk., Fiqhul Manhaji, [Damaskus, Darul Qalam: 1413 H], jilid II, hlm. 12).

See also  Resiko sering Mengajak Bayi Nonton Bioskop

4️⃣ Siapkan Dana Darurat

Dana darurat berfungsi sebagai penyelamat finansial ketika keluarga menghadapi situasi tak terduga — sakit, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan mendesak.

Menurut Giyarsih dan Sumartono, dalam jurnal Perencanaan Keuangan Keluarga Berbasis Prioritas Dana Darurat dan Investasi (2020: 34), dana darurat adalah jaring pengaman finansial untuk menghadapi kejadian-kejadian yang tidak diharapkan di masa depan.

Beberapa kiat penting:

  • Simpan 3–6 kali pengeluaran bulanan (bisa 9–12 kali jika punya tanggungan besar).

  • Pisahkan rekeningnya agar tidak terpakai untuk keperluan lain.

  • Bangun dana darurat sebelum memulai investasi.

5️⃣ Investasi untuk Masa Depan

Setelah dana darurat terbentuk, langkah berikutnya adalah berinvestasi secara syariah.
Tujuannya bukan sekadar menambah harta, tapi memastikan masa depan keluarga tetap terjamin.

Langkah penting:

  • Tetapkan tujuan (pendidikan anak, rumah, dana pensiun).

  • Pilih instrumen sesuai profil risiko (emas, reksa dana, saham syariah).

  • Lakukan diversifikasi agar risiko tidak terkonsentrasi.

Dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis (Vol. 15 No. 2, 2019), Anggraini dkk. menulis:

“Diversifikasi portofolio sangat penting untuk meminimalkan risiko investasi tanpa harus mengorbankan potensi keuntungan.”

 

Tags: keluarga harmoniskeluarga sakinahkeuangan rumah tangganafkah pernikahanPengelolaan Keuangan
Previous Post

Mengapa Nabi Muhammad Menikahi Banyak Perempuan? Ini Penjelasan Hikmahnya

Next Post

Kenapa Jual Beli Dihalalkan tapi Riba Diharamkan?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks