MADANINEWS.ID, JAKARTA – Nama KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik. Sosok ulama sepuh ini tengah ramai dibicarakan setelah muncul dalam tayangan “Expose Uncensored” Trans7yang menuai kecaman luas karena dinilai merendahkan kiai dan kehidupan pesantren.
Dalam tayangan yang disiarkan Senin (13/10/2025) itu, KH Anwar tampak duduk di tengah santrinya dan menerima amplop, disertai narasi yang bernada meremehkan. Banyak pihak menilai narasi tersebut tidak hanya menyesatkan, tetapi juga menghina sosok kiai yang telah menjadi panutan ribuan santri.
Namun di balik kontroversi itu, sosok KH Anwar Manshur bukanlah tokoh biasa. Ia adalah salah satu ulama paling disegani di Jawa Timur, dengan kiprah panjang di dunia pendidikan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU).
Lahir di Lingkungan Ilmu, Cucu Pendiri Lirboyo
KH Anwar Manshur lahir di Kediri pada 1 Maret 1938, di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Ia adalah putra Kiai Manshur dari Jombang dan Nyai Salamah, putri ketiga dari KH Abdul Karim — sang pendiri Pondok Pesantren Lirboyo.
Sejak kecil, Kiai Anwar sudah ditempa dalam suasana pesantren. Ia menempuh pendidikan di Pesantren Pacul Gowang Jombang yang didirikan ayahnya, lalu melanjutkan ke Pesantren Tebuireng hingga tingkat Tsanawiyah, sebelum akhirnya kembali ke Lirboyo untuk memperdalam ilmunya.
Perjalanan pendidikannya yang berlapis ini membentuk karakter keilmuan dan ketawadhuan yang kemudian menjadi ciri khasnya.
Mendirikan Pesantren Putri dan Melanjutkan Warisan Keluarga
Tahun 1985, bertepatan dengan 1 Muharram 1406 H, KH Anwar mendirikan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiat, khusus bagi santri putri. Langkah itu ia ambil atas dorongan mertuanya, KH Mahrus Aly, salah satu ulama besar Lirboyo.
Saat itu, Pondok Pesantren Lirboyo masih diasuh oleh kakak iparnya, KH Idris Marzuqi. Setelah KH Idris wafat pada tahun 2014, KH Anwar kemudian resmi menjadi pengasuh utama pesantren besar yang telah melahirkan ribuan alumni di seluruh Indonesia itu.
Kiai Anwar menikah dengan Nyai Umi Kulsum, putri KH Mahrus Aly. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai 8 anak — 3 laki-laki dan 5 perempuan — yang sebagian besar juga menempuh jalur pendidikan pesantren.
Tetap Mengajar dan Mengkaji Kitab Kuning di Usia Senja
Meski usianya kini menginjak 87 tahun, KH Anwar masih aktif mengajar dan memimpin pengajian kitab kuning di Lirboyo. Ribuan santri putra dan putri setiap hari menyimak nasihatnya yang menekankan pentingnya ilmu dan akhlak.
Ia dikenal sebagai kiai yang lembut, perhatian, dan telaten terhadap santri-santrinya. Dalam setiap kajian, beliau sering menasihatkan agar santri rajin belajar, tekun beribadah, dan menjaga akhlak karena dari situlah ilmu menjadi berkah.
Sikap istiqamah dan kesederhanaannya menjadi magnet tersendiri bagi para santri. Bagi masyarakat Nahdliyin, Kiai Anwar adalah sosok ulama yang tak hanya berilmu, tapi juga hidup dalam pengabdian sunyi tanpa pamrih.
Rais Syuriyah PWNU Jatim dan Panutan Lintas Generasi
Selain mengasuh pesantren, KH Anwar Manshur kini menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur masa khidmat 2024–2029. Jabatan ini menjadi bukti kepercayaan besar ulama dan warga NU terhadap kapasitas keilmuan dan keteladanan beliau.
Maka tak heran, ketika namanya terseret dalam tayangan televisi yang dinilai tidak pantas, gelombang pembelaan datang dari berbagai kalangan — dari santri, alumni, hingga para kiai.
Bagi mereka, KH Anwar Manshur bukan sekadar figur ulama tua, tetapi penjaga ruh pesantren yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mendidik generasi penerus bangsa dengan ilmu dan kasih.
