MADANINEWS.ID, Jakarta – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mencatat pertumbuhan dana kelolaan yang terus menanjak. Dari Rp166,54 triliun pada 2022, jumlahnya naik menjadi Rp171,64 triliun di 2024, dan ditargetkan mencapai Rp188,9 triliun pada 2025.
Kepala BPKH Fadlul Imansyah menegaskan, pengelolaan dana haji bukan sekadar urusan finansial, tetapi merupakan amanah besar untuk kesejahteraan jamaah dan kemajuan ekonomi umat.
“Bagi kami, mengelola Dana Haji bukan sekadar tugas finansial. Ini adalah amanah suci yang harus memberi manfaat nyata bagi jamaah dan perekonomian nasional,” ujar Fadlul saat berbicara di The 7th International Hajj Fund Forum, bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025, di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
75 Persen Dana Dikelola di Investasi Syariah
Fadlul menjelaskan, dari total dana kelolaan, sekitar 75,9 persen dialokasikan untuk investasi syariah, termasuk sukuk, reksa dana, emas, dan investasi langsung.
“Strategi ini tidak hanya menjaga likuiditas penyelenggaraan haji, tetapi juga memberikan imbal hasil optimal untuk subsidi biaya haji,” katanya.
Hingga Agustus 2025, nilai manfaat yang dihasilkan mencapai Rp8,10 triliun, naik hampir 7 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebagian besar, yakni Rp6,39 triliun, berasal dari hasil investasi.
“Hasil investasi tidak berhenti di angka, tapi kami kembalikan kepada jamaah dalam bentuk layanan nyata di lapangan,” tambah Fadlul.
BPKH Limited di Arab Saudi, Hubungkan Ekonomi Umat
Untuk memperkuat peran strategis di luar negeri, BPKH kini memiliki BPKH Limited di Arab Saudi. Melalui lembaga ini, BPKH bisa berinvestasi langsung di sektor-sektor penting ekosistem haji seperti perhotelan, transportasi, katering, dan properti.
Musim haji 2025 mencatat sejumlah capaian signifikan: pengamanan sembilan hotel berkualitas (delapan di Makkah dan satu di Madinah), penyediaan 475 ton rempah Nusantara untuk konsumsi jamaah, serta penyaluran makanan siap saji di enam waktu ibadah utama.
Tak berhenti di situ, BPKH juga berkolaborasi dengan UMKM Indonesia untuk mengisi area komersial hotel dan mendistribusikan produk lokal—termasuk rendang khas Nusantara—langsung ke pasar Tanah Suci.
“Kami tidak hanya berinvestasi, tetapi menghubungkan ekonomi umat dari Indonesia hingga Tanah Suci,” tandas Fadlul.
