MADANINEWS.ID, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pembiayaan konsumer tembus Rp287,2 triliun pada kuartal I 2025. Angka ini tumbuh 16,21% dibanding periode yang sama tahun lalu dengan rasio NPF gross terjaga di level 1,88%.
Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar, menyebut lonjakan ini sejalan dengan strategi perusahaan sejak merger.
“Strategi ini tepat karena BSI dapat menjaga kualitas serta profitabilitas yang tetap positif dalam kondisi ekonomi yang cukup menantang,” ujarnya dalam keterangan tertulis diterima Senin (25/08).
Data BSI mencatat pembiayaan konsumer menyumbang sekitar 54,56% dari total pembiayaan. Produk yang dominan di antaranya pembiayaan griya, kendaraan, payroll untuk pegawai, pensiunan, hingga cicil dan gadai emas.
Kenyamanan Nasabah Lewat Akad Syariah
Wisnu menjelaskan pembiayaan syariah memiliki karakter unik dengan akad berbasis underlying asset dan cicilan tetap seperti murabahah.
“Karena akad syariah dan skema cicilan bersifat tetap atau pasti, nasabah jadi lebih nyaman, terutama untuk pembiayaan rumah atau payroll dengan tenor panjang,” tuturnya.
Ia menambahkan, ketika suku bunga bank naik, nasabah syariah tetap tenang karena cicilan tidak berubah.
“Kepastian angsuran hingga akhir pembiayaan, serta pilihan jangka waktu yang variatif, memberikan kenyamanan bagi nasabah dalam mengatur cashflow,” jelasnya.
Mengutip hasil survei 2024, BSI menyebut preferensi masyarakat terhadap layanan syariah terus meningkat. Kelompok universalis (pilih syariah jika benefit setara konvensional) naik jadi 30% dari 25,6%, sementara kelompok konformis(hanya pilih syariah) melonjak ke 29,1% dari 20,6%. Total preferensi syariah kini 59,1%.
BSI optimistis tren positif ini memperkuat pertumbuhan pembiayaan syariah yang masih di kisaran 16–17% per kuartal.
Dorong Inovasi Lewat BYOND
Selain mengandalkan produk tradisional, BSI mendorong inovasi lewat superapps BYOND by BSI. Aplikasi ini menghadirkan layanan pembiayaan digital, solusi payroll dengan tarif kompetitif, promo KUR Syariah untuk UMKM, hingga kemudahan akses ritel, konsumer, wholesale, dan korporasi.
Wisnu menekankan, meski faktor syariah penting, margin kompetitif tetap jadi daya tarik utama. Karena itu, BSI gencar menawarkan promo dan skema menarik agar bisa menjangkau pasar lebih luas.
