Gerhana Bulan Total pada 28 Juli, Kemenag Ajak Umat Muslim Shalat Khusuuf

Penulis Abi Abdul Jabbar

IBADAH.ID, Jakarta – Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin menuturkan bahwa pada tanggal 28 Juli 2018 diprediksi akan terjadi gerhana bulan total atau khusuful qamar. Menurutnya, awal gerhana diperkirakan mulai pukul 01:24:27 WIB hingga 05:19:00 WIB dan hampir seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati gerhana tersebut.

“Puncak gerhana bulan total akan terjadi pada pukul 03:21:44 WIB, dan akan berakhir sekitar pukul 04:13:12 WIB,” ujar Muhammadiyah Amin di Jakarta,Rabu (25/07).

Untuk itu, Muhammadiyah Amin mengajak umat Islam untuk melaksanakan Salat Gerhana atau Salat Khusuf. Karena pihaknya telah menerbitkan seruan kepada para Kepala Kanwil Kemenag agar mengintruksikan kepada Kemenag Kota/Kabupaten dan KUA Kecamatan hingga pimpinan ormas Islam.

“Pelaksanaan shalat gerhana atau atau khusuful qamar akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya masing-masing di seluruh Indonesia,” ucap Muhammadiyah Amin.

Adapun tatacara Salat Gerhana adalah sebagai berikut:

Pertama, berniat di dalam hati.

Kedua, takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.

Ketiga, Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah: “Nabi Saw. menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.”(HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901).

Keempat, ruku’ sambil memanjangkannya.

Kelima, kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”.

Keenam,  setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

Ketujuh,  ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.

Kedelapan, kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).

Kesembilan, kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.

Kesepuluh, kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya; Dan terakhir, salam.

Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jamaah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, bersedekah.

Dikatakan dalam Sebuah Hadits:

“Pada masa hidup Rasulullah saw pernah terjadi gerhana matahari, lalu beliau keluar ke masjid, kemudian beliau bertakbir sedangkan orang banyak ikut bershaf-shaf di belakangnya. Lalu beliau membaca bacaan panjang-panjang kemudian bertakbir untuk ruku’ lama sekali, kemudian mengangkat kepalanya lalu mengucapkan ‘Sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakalhamdu’, kemudian beliau berdiri lalu membaca bacaan panjang-panjang tetapi lebih pendek dari yang pertama kemudian bertakbir untuk ruku’ lama sekali tetapi lebih sebentar dari yang pertama, lalu mengucapkan ‘Sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakalhamdu’, kemudian sujud. Kemudian pada rakaat kedua beliau kerjakan seperti itu, sehingga seluruhnya merupakan empat kali ruku’ dan empat kali sujud. Dan matahari lalu nampak terang sebelum shalat selesai. Kemudian beliau bangkit berkhutbah dengan menyampaikan puji kepada Allah sebagaimana mestinya dan beliau mengatakan: Matahari dan bulan keduanya adalah tanda kebesaran Allah Yang Maha Mulia, gerhananya bukan disebabkan mati dan lahirnya seseorang. Dan jika kamu menyaksikan hal itu maka segeralah shalat.” [HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Aisyah ra.]

Serta menganjurkan mereka agar banyak membaca istighfar, shadaqah dan segala amalan yang baik. Berdasarkan hadist berikut yang artinya : “Pernah terjadi gerhana matahari, maka bangkitlah Nabi saw shalat, dan bersabda: Apabila kamu saksikan hal yang serupa itu, maka segeralah kamu kerjakan shalat dan panjatkan doa dan mohon pengampunan-Nya.” [HR. al- Bukhari, Muslim, Ahmad dari Abu Musa].

Selain itu, dalam suatu riwayat al-Bukhari dari Aisyah dengan lafadz sebagai berikut : “Maka Apabila kamu saksikan hal itu, maka panjatkanlah doa kepada Allah dan bacalah Takbir dan kerjakan shalat dan bershadaqahlah.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar