MADANINEWS.ID, Jakarta – Penyelenggaraan ibadah haji 1446 H/2025 M dinilai sebagai salah satu musim yang paling menantang. Ketua Umum DPP Perkumpulan Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (PFK KBIHU), KH Manarul Hidayat, menyebut musim haji kali ini sebagai “ujian kesabaran” bagi jemaah dan pembimbing.
Dalam Rapat Kerja Nasional Evaluasi Haji yang digelar di Jakarta, Kamis (17/7/2025), Manarul menegaskan bahwa peran KBIHU sangat krusial dalam menjaga semangat dan kesabaran jemaah di tengah berbagai keterbatasan.
“Ini adalah ujian kesabaran. Di sinilah pentingnya peran KBIHU. Apapun yang dihadapi di Tanah Suci, kami doktrinkan kepada jamaah bahwa semuanya harus dihadapi dengan sabar,” ujarnya.
Salah satu masalah yang paling terasa, menurutnya, adalah penempatan jemaah yang terpisah-pisah, bahkan dalam satu keluarga.
“Kalau bawa sabar 10, baru sampai asrama haji bisa sudah hilang semua. Mulai dari antre WC sampai ngambek karena AC,” ucap Kiai Manarul.
Dalam konteks pembinaan, KBIHU mengajarkan jemaah untuk tidak membawa keluhan sepulang dari Mekkah.
“Kita sudah doktrinkan kepada jamaah, apapun yang tidak baik di Tanah Suci tidak boleh diutarakan kembali di Indonesia,” tegasnya.
Manarul juga menyoroti pentingnya penguatan koordinasi di internal KBIHU. Meski hampir 2.000 KBIHU sudah cukup solid, ia menekankan bahwa KBIHU bukan penyelenggara haji, tapi mitra penting pembinaan sesuai UU No. 8 Tahun 2019.
“Tugas kita hanya pembinaan, bimbingan, dan pendampingan. Tapi kami adalah anak kandung resmi dari Kementerian Agama sesuai dengan UU Nomor 8 Tahun 2019,” jelasnya.
Menurutnya, kemewahan hotel dan katering tak akan berarti jika tata cara ibadah tidak dilakukan dengan benar.
“Di sinilah kehadiran KBIHU menjadi sangat vital. Kami adalah organisasi yang menentukan sah tidaknya ibadah jamaah,” ujarnya.
Salah satu hal yang diusulkan dalam Rakernas adalah perubahan rasio pembimbing dan jemaah. Selama ini, satu pembimbing harus menangani hingga 135 jemaah di tiga bus, yang dinilai terlalu berat.
“Kami sudah mengusulkan agar satu pembimbing mendampingi maksimal 90 orang, atau dua rombongan. Ini agar tugas pembinaan dan bimbingan bisa dilakukan lebih optimal,” tegasnya.
Sementara itu, Sekjen DPP PFK KBIHU, Cepi Supriatna, menambahkan bahwa Rakernas juga menjadi ajang menyampaikan kritik dan masukan bagi penyelenggaraan haji agar tak hanya fokus pada fasilitas.
“Survei kepuasan jemaah seringkali lebih menyoroti fasilitas. Padahal, esensi haji adalah ibadah. Di sinilah kehadiran KBIHU menjadi krusial, mengisi relung yang seringkali luput dari perhatian,” ujar Cepi.
