MADANINEWS.ID, Makkah – Keikhlasan dan ketegaran hidup patut dicontoh dari Endang Tri Nurniningsih (60), jemaah haji asal Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Setelah 12 tahun menjalani hidup tanpa kaki kiri akibat kecelakaan, Endang akhirnya bisa mewujudkan impiannya berhaji bersama suami tercinta, Khuya’i.
Kisah itu bermula pada tahun 2013, hanya tiga bulan setelah Endang mendaftar haji. Saat itu, ia mengalami kecelakaan tragis saat mengurus perizinan lembaga Kelompok Bermain (KB) ke UPT Dinas Pendidikan.
“Waktu itu tahun 2013, saya mau mengurus perizinan lembaga Kelompok Bermain (KB) ke UPT Dinas Pendidikan dengan bersepeda motor. Di tengah jalan karena ada perbaikan jembatan saya ditabrak truk. Kaki saya sebelah kiri hancur, tinggal tulangnya saja,” tutur Endang kepada tim MCH, Senin (29/5/2025) di Hotel Sofwat Al Sharook, Sektor 5 Wilayah Syisyah, Makkah.
Namun bukannya larut dalam kesedihan, Endang justru tampil tegar dan menguatkan keluarganya.
“Waktu itu saya melihat kaki saya hancur, saya lalu menghimpun kaki saya yang berserak sendiri, lalu saya foto dan saya kirimkan ke anak dan suami saya,” kisahnya dengan mantap.
Ia pun mengambil keputusan besar: diamputasi. Bagi Endang, rasa sakit jangka panjang justru lebih menyakitkan dibanding kehilangan satu anggota tubuh.
“Saya bilang sama dokter, Dok, sudah kali saya diamputasi saja,” ujarnya.
Setelah kaki kirinya diamputasi setinggi lutut, Endang tetap menjalani aktivitas seperti biasa, bahkan tetap mengajar sebagai guru PAUD.
“Ini sudah takdir saya. Tidak ada yang perlu disesali,” katanya penuh keteguhan.
Endang menyebut ibundanya sebagai sumber kekuatan utama yang mengajarkannya menjadi istri yang tangguh.
“Ibu yang mengajarkan saya untuk menjadi istri yang tangguh. Karena kekuatan rumah tangga itu bergantung pada istri. Ketika istri tidak kuat, maka semua akan goyah,” ucapnya.
Kini, Endang dan suaminya bisa menunaikan ibadah haji bersama. Meski harus menggunakan kursi roda, keduanya menjalankan umrah wajib dan rangkaian haji dengan penuh semangat.
“Kalau Bapak masih bisa jalan, tapi kalau umroh atau ke Masjidil Haram pakai kursi roda, karena tidak kuat berjalan kaki jauh,” jelas Endang.
Khuya’i, pensiunan pegawai tata usaha di salah satu SMA di Pekalongan, dengan setia mendorong kursi roda istrinya.
“Selama haji ini kita saling support dan membantu,” kata Khuya’i.
Layanan Ramah Disabilitas
Selama perjalanan haji, Endang merasa bersyukur atas layanan dari para petugas haji.
“Dari Kabupaten Pekalongan, Embarkasi Solo hingga Madinah dan ke Makkah, semua petugas melayani kami dengan baik. Petugasnya baik-baik, tidak ada kesulitan,” ucapnya.
Ia juga mengaku sangat bersyukur setelah 13 tahun menanti, akhirnya bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci.
“Saya bersyukur sekali, akhirnya saya dapat kartu mahal untuk ke tanah suci,” ujarnya sembari menunjukkan kartu nusuk miliknya.
Selama berada di tanah suci, ia tak pernah lupa untuk mendoakan orang tua, anak-anak, dan kerabatnya.
Ketua Sektor 5, Fitriyanto, menyebut pihaknya sudah menyiapkan layanan khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas.
“Namun karena jumlahnya terbatas, semua petugas kami minta untuk melayani jemaah, entah itu lansia, disabilitas ataupun jemaah lainnya,” ujarnya.
