IBADAH.ID, Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mempublikasikan di chanel youtube nya sebuah video yang memberikan gambaran tentang bagaimana wajah penyelenggaraan ibadah pada 2030.
Berdasarkan Visi Saudi 2030, Pemerintah Arab Saudi tidak hanya menangani pembangunan ekonomi dan sektor publik tetapi juga layanan Haji dan Umrah akan ditingkatkan.
Salah satunya adalah dengan melibatkan teknologi Kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang telah dikonfirmasi langsung oleh Menteri Haji dan Umrah, Mohammad Saleh bin Taher Benten. Ia menyatakan penerapan kecerdasan buatan dalam penyelenggaraan haji akan memberi para peziarah pengalaman tak terlupakan saat berziarah ke Makkah.
Dalam video tersebut, umat Islam dari seluruh dunia yang berniat melakukan haji harus mendaftar melalui aplikasi mobile, dan dalam beberapa hari, mereka akan menerima kotak yang berisi kartu elektronik, gelang, dan earphone.
Para peziarah harus menyimpan ketiga barang ini setiap saat selama haji.
Setibanya di salah satu bandara, kartu elektronik tersebut akan membawa para peziarah melalui bea cukai, dan di atas kereta cepat Al Haram (haramain) yang akan menurunkan setiap orang ke hotel yang terdaftar di kartu. Kartu itu juga akan digunakan untuk membuka pintu kamar hotel, tanpa check in.
Saat melaksanakan thawaf, Gelang yang digunakan akan memberitahu jamaah jumlah putaran yang telah ia lakukan. Saat sa’i, Gelang juga memberitahukan jamaah untuk mulai melakukan lari kecil saat tiba di Milayn al-Akhdarayn.
Sementara earphone yang diberikan berfungsi untuk memberitahukan doa-doa yang dianjurkan untuk dipanjatkan dalam setiap rangkaian ibadah penyelenggaraan haji seperti layaknya pembimbing haji. Earphone ini juga bisa berfungsi untuk menerjemahkan beragam bahasa asing yang bisa memudahkan para peziarah untuk berkomunikasi khususnya dengan para petugas di Masjidil Haram.
Rute Makkah (Makkah Road)
Visi Saudi 2030 dalam Pengembangan layanan Haji dan Umrah telah dimulai dan Arab Saudi telah secara resmi meluncurkan layanan pertamanya yaitu “rute Makkah” di Malaysia dan Indonesia.
“Rute Makkah” memungkinkan peziarah Malaysia dan Indonesia untuk melakukan pemeriksaan imigrasi langsung dari bandara di negeri masing-masing.
Bagasi mereka disortir sebelum lepas landas sesuai dengan transportasi dan pengaturan tempat tinggal mereka di Arab Saudi. Jadi ketika jamaah mendarat di Arab Saudi mereka langsung menuju ke akomodasi mereka tanpa harus berurusan dengan prosedur masuk,jamaah pun bisa menemukan tas mereka di kamar masing-masing.
Layanan ini akan diuji untuk tahun ini, dan di tahun-tahun mendatang untuk diterapkan di lebih banyak negara.
