MADANINEWS.ID, JAKARTA — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Abdullah Djaidi mengatakan, pada zaman Rasulullah SAW pernah terjadi hujan deras, karena dikhawatirkan menyebabkan mudarat, maka Rasulullah SAW menganjurkan kepada sahabat tidak perlu ke masjid untuk salat berjemaah.
“Di masa itu usai salat magrib terjadi hujan sangat deras sekali, sehingga jemaah yang pulang ke rumah tidak bisa kembali untuk salat isya berjamaah. Dan Rasul pun menganjurkan untuk salat di rumah masing-masing,” ujar Kiai Djaidi pada telekonferensi sidang isbat (penetapan) awal Zulhijah 1442 H, yang digelar secara dalam jaringan (daring),belum lama ini.
Menurut Kiai Djaidi, anjuran sesuai dengan kaidah shollu fi buyutikum yang artinya: “Salatlah kalian di rumah masing-masing, hanya karena faktor hujan lebat jalanan becek dikhawatirkan akan mencelakakan kita,” ujarnya.
Perkara hujan deras, lanjutnya, apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini, banyak wilayah masih sangat riskan masalah Covid-19 ini. Maka anjuran menjaga jiwa merupakan hal sangat penting.
“Selain anjuran Rasul, dalam Al-Qur’an juga dikatakan “janganlah kamu mengulurkan tanganmu kepada kehancuran” hal itu menandakan bahwa ibadah dari rumah merupakan upaya menjaga jiwa lebih utama dari yang lainnya,” jelasnya.
Kemudian selain menjaga jiwa, lanjut Kiai Djaidi, di masa pandemi ini yang perlu ditingkatkan adalah mendekatkan diri dan memperbanyak taubatan nasuha kepada Allah SWT.
Selain itu jelang perayaan Iduladha, Kiai Djaidi mengajak kepada masyarakat untuk meningkatkan kesalehan sosial.
“Perbanyak menyantuni saudara-saudara kita yang terdampak Covid-19. Jadi tidak hanya kesalehan ibadah kita, tapi kesalehan sosial kita menjadi tanggungjawab kita bersama,” pungkasnya.
