MADANINEWS.ID, Jakarta – Pandemi Covid-19 membuat sektor pariwisata menjadi lesu. Semenjak pandemi melanda, Indonesia terus mengalami penurunan di sektor pariwisata hingga 80,9%. Khusus Bali, dicatat mengalami kerugian mencapai 9,8 triliun per bulan. Menurut BPS. tingkat pertumbuhan Bali pada kuartal II/2020 dicatat anjlok 10,98 persen secara YoY, Kepulauan Riau turun 6,66 persen YoY, dan Jawa Barat merosot 5,98 persen YoY.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo saat membuka FGD dengan tema “Penguasaan dan Pengembangan Teknologi di Sektor Pariwisata” yang diselenggarakan Aliansi Kebangsaan, Forum Rektor Indonesia (FRI), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Jakarta, (18/12/2020).
Namun demikian Pontjo yakin, sebagaimana keyakinan banyak pihak bahwa sektor pariwisata akan tetap mengalami kebangkitan. Karena itu ia berharap agar industri pariwisata harus siap beradaptasi dan berbenah. Pembukaan destinasi wisata harus memenuhi aturan dan mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Kebersihan, kesehatan, dan keselamatan dan keamanan menjadi faktor utama bagi wisatawan yang ingin berwisata di masa-masa yang akan datang. Standar baru, kebiasaan baru, dan kultur baru di sektor pariwisata harus dikembangkan sehingga menghasilkan produk pariwisata yang tepat di era new normal nanti.
“Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menyiapkan berbagai kebijakan, salah satunya lewat dana hibah pariwisata. Pemerintah juga telah menyusun program Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) sebagai tatanan adaptasi kebiasaan baru di destinasi wisata dengan melibatkan para pelaku pariwisata,” tambah Pontjo.
Pariwisata Berbasis IT
Pada saat ini, pariwisata berbasis teknologi informasi yang dikenal sebagai e-tourism (IT-enabled tourism), sudah dijalankan di banyak negara tujuan wisata. Menyadari pentingnya peran teknologi dalam pariwisata, pemerintah juga telah meluncurkan program ITX (Indonesia Tourism Exchange), yaitu sebuah platfrom online marketplace yang memberikan kemudahan bagi para wisatawan.
Karena itu menurut Pontjo Sutowo kembali, kesadaran bahwa pengetahuan dan teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam pertumbuhan dan kemandirian ekonomi di seluruh sektor, harus dipahami bersama.
“Kekuatan suatu bangsa diukur dari kemampuan Iptek sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing. Karenanya, kita harus terus berupaya meningkatkan kapasitas Iptek bangsa ini yang memang masih jauh ketinggalan”, kata Pontjo Sutowo.
Lebih lanjut Pontjo mengingatkan kembali jika mesin penggerak Iptek adalah dunia usaha. Tanpa peran mereka, inovasi teknologi tidak mungkin akan berkembang.
Pariwisata Belum Didukung Perencanaan Matang
Di tempat yang sama, pakar AIPI yang juga dosen ITB Satryo Dr Ir Myra P Gunawan MT menyatakan jika harapan tinggi terhadap pariwisata Indonesia belum didukung dengan perencanaan yang matang. Hal ini menyebabkan pembangunan pariwisata Indonesia terhambat oleh banyaknya pembangunan sektoral dan tumpang tindih antara sektor-sektor disiplin ilmu.
Di sisi lain, perkembangan industri pariwisata di Indonesia belum mengalami pemerataan sehingga menimbulkan kesenjangan pada sejumlah daerah terutama di timur Indonesia,” katanya.
Masalahnya industri pariwisata sering disalahartikan semata-mata sebagai industri sumber daya alam, padahal industri ini menyangkut pengetahuan, sumber daya intelektual yang memiliki visi ke depan serta kemampuan menelaah permasalahan dan potensi dari dalam.
Karena itu menurut Myra kembali, untuk meningkatkan potensi industri pariwisata, pihak-pihak terkait harus berpegang pada empat pilar pembangunan pariwisata, yakni pembangunan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan institusi atau kelembagaan, serta pengembangan sumber daya intelektual.
Myra menegaskan bila penguasaan teknologi kepariwisataan dapat meningkatkan kesejahteraan sebagaimana tertuang dalam tujuan pembangunan kepariwisataan yang selaras dengan UU No. 10 tahun 2009.
“Ada tujuan sosial politik yang ingin dicapai dalam pembangunan kepariwisataan seperti cinta tanah air, persatuan, kesatuan, jati diri, dan memperat hubungan antarbangsa,” katanya.
Selama pandemi, data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) mencatat jumlah kunjungan wisatawan di seluruh dunia menurun 44 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu Indonesia mengalami 2 kali lipat penurunan dibanding data UNWTO tersebut.*
