MADANINEWS.ID, JAKARTA – Empat puluh tahun. Bukan empat puluh hari atau empat puluh bulan. Selama empat dekade penuh, seorang penjual sepatu sederhana di Kota Damaskus, Suriah, menyimpan satu impian yang tak pernah padam dalam hatinya: menunaikan ibadah haji ke Baitullah.
Namanya Ali bin al-Muwaffaq.
Setiap dirham yang berhasil ia sisihkan dari hasil menjahit dan menjual sepatu dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Tidak mudah bagi seorang pedagang kecil mengumpulkan biaya perjalanan ke Tanah Suci pada masa itu. Namun kecintaannya kepada Allah dan kerinduannya kepada Baitullah membuatnya terus menabung tanpa lelah.
Tahun demi tahun berlalu.
Hingga akhirnya, setelah 40 tahun menunggu, terkumpullah uang sebesar 350 dirham. Jumlah yang cukup untuk mewujudkan impiannya berangkat haji.
Ali bin al-Muwaffaq pun bersiap menyambut perjalanan terbesar dalam hidupnya.
Namun Allah ternyata menyiapkan ujian yang jauh lebih besar.
Aroma Masakan dari Rumah Tetangga
Pada suatu hari, istrinya yang sedang mengandung mencium aroma masakan dari rumah tetangga mereka.
Sudah lama mereka hidup sederhana. Sang istri berharap bisa mendapatkan sedikit makanan untuk mengurangi keinginannya yang begitu kuat terhadap aroma yang tercium dari rumah sebelah.
Ali bin al-Muwaffaq lalu mendatangi rumah tetangganya.
Dengan sopan ia menjelaskan maksud kedatangannya.
Namun jawaban yang diterimanya membuat hatinya bergetar.
Sang tetangga tiba-tiba menangis.
Dengan suara terbata-bata, ia mengaku bahwa dirinya dan anak-anaknya sudah tiga hari tidak makan apa pun.
Karena kelaparan yang begitu berat, hari itu ia menemukan seekor keledai mati. Tidak ada pilihan lain. Ia membawa bangkai itu pulang untuk dimasak demi menyambung hidup keluarganya.
Kemudian lelaki itu berkata kepada Ali bin al-Muwaffaq:
“Ini bukan makanan yang halal bagimu.”
Kalimat sederhana itu menghantam hati Ali bin al-Muwaffaq.
Di hadapannya ada keluarga yang terpaksa memakan sesuatu yang haram karena kelaparan. Sementara di rumahnya tersimpan uang haji yang selama puluhan tahun dikumpulkan.
Saat Impian Bertemu Keikhlasan
Ali bin al-Muwaffaq pulang dengan hati yang berkecamuk.
Di satu sisi ada kerinduan menuju Tanah Suci yang telah dipupuk selama empat puluh tahun.
Di sisi lain ada keluarga muslim yang sedang berada di ambang kelaparan.
Tak lama kemudian ia mengambil seluruh tabungan hajinya.
Tidak sebagian.
Tidak setengah.
Seluruhnya.
Sebanyak 350 dirham yang menjadi hasil jerih payah puluhan tahun.
Ia kembali mendatangi tetangganya dan menyerahkan uang itu.
“Belanjakanlah ini untuk anakmu,” katanya.
Dengan keputusan itu, impian berhaji yang telah ia bangun selama empat dekade seakan lenyap dalam sekejap.
Tahun itu Ali bin al-Muwaffaq tidak jadi berangkat ke Makkah.
Ia tetap tinggal di Damaskus.
Namun ternyata Allah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Mimpi Seorang Ulama Besar
Pada waktu yang sama, seorang ulama besar dan ahli hadits terkemuka, Abdullah bin al-Mubarak Al-Hanzhali Al-Marwazi rahimahullah, sedang menunaikan ibadah haji di Makkah.
Setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, beliau tertidur.
Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit.
Keduanya berbincang mengenai pelaksanaan haji tahun itu.
Salah satu malaikat bertanya:
“Berapa orangkah haji yang datang tahun ini?”
“Enam ratus ribu orang,” jawab malaikat lainnya.
Kemudian malaikat pertama bertanya lagi:
“Berapa banyakkah mereka yang ibadah hajinya diterima?”
Jawaban yang muncul sungguh mengejutkan.
“Tidak ada satu pun.”
Malaikat pertama terkejut.
Bagaimana mungkin ratusan ribu orang datang dari berbagai negeri, menempuh perjalanan panjang, menghadapi kesulitan dan kelelahan, namun tidak ada yang diterima?
Lalu ia bertanya lagi.
“Kalau begitu, siapa yang hajinya diterima?”
Malaikat itu menjawab:
“Ali bin al-Muwaffaq, seorang penjual sepatu di Damaskus.”
Malaikat pertama semakin heran.
Bukankah orang itu bahkan tidak datang ke Makkah?
Jawaban berikutnya menjadi inti dari kisah yang terus dikenang hingga hari ini.
“Dia tidak datang menunaikan haji, tapi hajinya diterima dan seluruh dosanya diampuni.”
Haji yang Tak Dilakukan, Tetapi Diterima
Abdullah bin al-Mubarak terbangun dalam keadaan gemetar.
Mimpi itu begitu nyata hingga membuatnya penasaran.
Sekembalinya dari Makkah, beliau segera melakukan perjalanan menuju Damaskus untuk mencari orang yang disebutkan dalam mimpinya.
Setelah bertanya kepada banyak orang, akhirnya ia menemukan Ali bin al-Muwaffaq.
Dan ternyata benar.
Ali adalah seorang penjual sepatu sederhana.
Ketika ditanya tentang amal yang pernah dilakukannya, Ali menceritakan peristiwa ketika ia menyerahkan seluruh tabungan hajinya kepada tetangga yang kelaparan.
Saat itulah Abdullah bin al-Mubarak memahami makna mimpi yang dilihatnya.
Ketika Allah Menilai Hati
Kisah Ali bin al-Muwaffaq bukanlah tentang seseorang yang berhasil sampai ke Tanah Suci.
Sebaliknya, ini adalah kisah seseorang yang gagal berangkat haji menurut ukuran manusia, tetapi justru mencapai kemuliaan haji mabrur menurut ukuran Allah.
Ia mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya diukur dari perjalanan fisik, tetapi juga dari keikhlasan hati, kepedulian terhadap sesama, dan pengorbanan yang dilakukan karena Allah SWT.
Ali bin al-Muwaffaq memilih mengorbankan impian terbesarnya demi menyelamatkan sebuah keluarga dari kelaparan.
Dan karena itulah, Allah mengangkat derajatnya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.
Kadang-kadang, jalan menuju ridha Allah bukan selalu melalui apa yang berhasil kita capai, melainkan melalui apa yang rela kita lepaskan demi membantu orang lain.
Di situlah letak rahasia keikhlasan yang sesungguhnya.
Sumber kisah: Buku “198 Kisah Haji Wali-wali Allah” karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny.
