MADANINEWS.ID, JAKARTA – Di tengah lautan manusia yang memadati Mina setiap musim haji, ada satu ritual yang selalu menyita perhatian: lempar jumrah. Di tangan para jemaah, butiran kerikil kecil berubah menjadi simbol perlawanan terhadap godaan setan, meneladani jejak spiritual Nabi Ibrahim AS.
Sekilas, ritual ini tampak sederhana—sekadar melempar batu ke tiga titik tertentu. Namun di baliknya, ada aturan manasik yang rinci, termasuk soal jumlah kerikil yang wajib disiapkan. Tak sedikit calon jemaah yang masih kebingungan: sebenarnya berapa butir batu yang dibutuhkan selama prosesi lempar jumrah?
Jawabannya bergantung pada pilihan manasik yang dijalani jemaah: nafar awal atau nafar tsani.
Ritual yang Berakar dari Kisah Nabi Ibrahim
Lempar jumrah bukan sekadar aktivitas fisik.
Ibadah ini memiliki akar sejarah yang sangat kuat dalam tradisi Islam.
Dalam berbagai riwayat, ritual ini dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim AS ketika mendapat perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Dalam perjalanan menjalankan perintah tersebut, Nabi Ibrahim disebut mendapat godaan dari setan agar mengurungkan niatnya.
Namun godaan itu ditolak.
Sebagai bentuk perlawanan, Nabi Ibrahim melempar setan dengan batu.
Dari peristiwa inilah, ritual lempar jumrah kemudian disyariatkan dalam ibadah haji.
Kini, jutaan jemaah mengulang simbol tersebut setiap tahun di Mina sebagai bentuk ketundukan kepada Allah sekaligus perlawanan terhadap hawa nafsu dan godaan setan.
Di Mana Lempar Jumrah Dilakukan?
Ritual ini dilaksanakan di kawasan Mina, salah satu lokasi utama dalam rangkaian manasik haji.
Ada tiga titik lempar jumrah:
- Jumrah Ula (Sugra)
- Jumrah Wustha
- Jumrah Aqabah (Kubra)
Masing-masing memiliki urutan dan waktu pelaksanaan tertentu.
Berapa Jumlah Kerikil yang Dibutuhkan?
Jumlah kerikil tergantung apakah jemaah memilih nafar awal atau nafar tsani.
Hari Pertama: 10 Zulhijah
Pada Hari Raya Idul Adha atau 10 Zulhijah, jemaah hanya melempar Jumrah Aqabah.
Jumlahnya: 7 butir kerikil
Hari Tasyrik: 11 Zulhijah
Pada hari berikutnya, jemaah melempar seluruh tiga jumrah.
Rinciannya:
- Jumrah Ula: 7 kerikil
- Jumrah Wustha: 7 kerikil
- Jumrah Aqabah: 7 kerikil
Total: 21 butir kerikil
Hari Tasyrik: 12 Zulhijah
Jika jemaah memilih nafar awal (meninggalkan Mina lebih cepat), maka pada hari ini kembali melempar tiga jumrah:
- Jumrah Ula: 7 kerikil
- Jumrah Wustha: 7 kerikil
- Jumrah Aqabah: 7 kerikil
Total: 21 butir kerikil
Sehingga total keseluruhan: 7 + 21 + 21 = 49 butir
Hari Tasyrik: 13 Zulhijah
Bagi jemaah yang memilih nafar tsani (tetap di Mina hingga hari terakhir), mereka kembali melempar tiga jumrah:
- Jumrah Ula: 7 kerikil
- Jumrah Wustha: 7 kerikil
- Jumrah Aqabah: 7 kerikil
Total: 21 butir kerikil
Sehingga total keseluruhan: 7 + 21 + 21 + 21 = 70 butir
Rincian Lengkap Jumlah Kerikil
Jika Nafar Awal:
- 10 Zulhijah: 7 kerikil
- 11 Zulhijah: 21 kerikil
- 12 Zulhijah: 21 kerikil
Total: 49 kerikil
Jika Nafar Tsani:
- 10 Zulhijah: 7 kerikil
- 11 Zulhijah: 21 kerikil
- 12 Zulhijah: 21 kerikil
- 13 Zulhijah: 21 kerikil
Total: 70 kerikil
Seperti Apa Kerikil yang Digunakan?
Kerikil untuk lempar jumrah bukan batu besar.
Yang digunakan adalah batu kecil seukuran ujung jari atau kurang lebih sebesar biji kacang.
Biasanya jemaah mengambilnya di:
- Muzdalifah
- sekitar Mina
Ukuran kecil ini menegaskan bahwa inti ritual bukan pada kekuatan lemparan.
Bukan pula soal mengenai sasaran dengan keras.
Yang utama adalah menjalankan syariat sesuai tuntunan.
Ujian Kesabaran di Tengah Jutaan Manusia
Lempar jumrah menjadi salah satu momen paling menantang dalam ibadah haji.
Jutaan manusia bergerak menuju lokasi yang sama dalam rentang waktu tertentu.
Karena itu, ritual ini bukan hanya ujian fisik, tetapi juga ujian mental dan kesabaran.
Jemaah dituntut:
- tetap tertib
- tidak saling mendorong
- mematuhi arahan petugas
- menjaga keselamatan diri dan orang lain
Sebab esensi ibadah bukan sekadar menyelesaikan ritual, tetapi juga menjaga akhlak selama menjalaninya.
Bukan Batu yang Dilawan, Tapi Godaan dalam Diri
Pada akhirnya, lempar jumrah bukan soal melempar kerikil ke tiang.
Ritual ini adalah simbol perlawanan terhadap bisikan setan, hawa nafsu, kesombongan, amarah, dan segala hal yang menjauhkan manusia dari Allah SWT.
Kerikil yang dilempar mungkin kecil.
Tetapi makna spiritualnya sangat besar.
