MADANINEWS.ID, JAKARTA – Setelah jutaan jemaah meneteskan doa di Padang Arafah dalam puncak ibadah haji, perjalanan spiritual belum berakhir. Ada fase lain yang tak kalah sarat makna: mabit di Muzdalifah dan Mina.
Bagi sebagian orang, mabit mungkin sekadar dipahami sebagai bermalam di tengah padang pasir. Namun dalam manasik haji, dua persinggahan ini bukan hanya soal tempat beristirahat. Muzdalifah dan Mina adalah ruang spiritual tempat jemaah belajar tentang kesederhanaan, kesabaran, hingga totalitas penghambaan kepada Allah SWT.
Di dua lokasi bersejarah inilah jutaan manusia dari berbagai bangsa tidur beralaskan bumi yang sama, mengenakan pakaian ihram yang sama, tanpa sekat status sosial maupun kekayaan.
Apa Itu Mabit?
Mabit dalam ibadah haji berarti bermalam atau berada di tempat tertentu pada waktu yang telah ditentukan sebagai bagian dari rangkaian manasik.
Ada dua mabit utama dalam pelaksanaan haji:
- Mabit di Muzdalifah pada malam 10 Zulhijah setelah wukuf di Arafah
- Mabit di Mina pada malam-malam hari tasyrik, yakni 11, 12, dan 13 Zulhijah
Keduanya termasuk bagian penting dalam ibadah haji, yang menurut mayoritas ulama masuk kategori wajib haji.
Muzdalifah, Tempat Berkumpul Jutaan Jemaah Setelah Arafah
Setelah meninggalkan Arafah, jemaah bergerak menuju Muzdalifah.
Wilayah ini berupa hamparan terbuka yang berada di antara Arafah dan Mina, dengan luas sekitar 12 kilometer persegi.
Secara bahasa, Muzdalifah berasal dari kata al-izdilaf yang berarti berkumpul atau mendekat.
Makna ini begitu sesuai dengan kondisi di lapangan: jutaan jemaah berkumpul dalam satu tempat setelah meninggalkan Arafah.
Muzdalifah juga berdekatan dengan Wadi Muhassir, lembah bersejarah yang diyakini sebagai lokasi dihancurkannya pasukan bergajah Raja Abrahah ketika hendak menyerang Ka’bah.
Hukum Mabit di Muzdalifah
Mayoritas ulama menyatakan mabit di Muzdalifah hukumnya wajib.
Karena itu, meninggalkannya tanpa uzur syar’i mewajibkan jemaah membayar dam.
Dasar pelaksanaannya terdapat dalam firman Allah SWT:
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya:
“Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam.”
(QS Al-Baqarah: 198)
Para ulama menafsirkan Masy’aril Haram dalam ayat tersebut sebagai Muzdalifah.
Meski demikian, Islam juga memberikan rukhsah atau keringanan bagi jemaah dengan kondisi tertentu, seperti sakit, lansia, atau situasi berbahaya.
Apa yang Dilakukan Jemaah di Muzdalifah?
Setibanya di Muzdalifah, jemaah biasanya melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak.
Setelah itu, mereka beristirahat sambil memperbanyak:
- zikir
- doa
- istighfar
- talbiyah
- membaca Al-Qur’an
Di lokasi ini pula jemaah biasanya mengumpulkan kerikil untuk lontar jumrah di Mina.
Jumlah kerikil yang umum disiapkan:
- 49 butir untuk nafar awal
- 70 butir untuk nafar tsani
Mabit di Muzdalifah berlangsung hingga tengah malam atau menjelang Subuh, menyesuaikan pengaturan pergerakan jemaah.
Mina, Tempat Harapan dan Ujian Kesabaran
Setelah dari Muzdalifah, jemaah bergerak menuju Mina.
Secara bahasa, Mina sering dimaknai sebagai tempat harapan atau cita-cita.
Namun bagi jemaah haji, Mina sering menjadi lokasi ujian kesabaran yang sesungguhnya.
Kepadatan manusia, cuaca panas, antrean panjang, dan aktivitas ibadah yang padat menjadi bagian dari pengalaman spiritual di tempat ini.
Rangkaian Ibadah di Mina
Selama berada di Mina, jemaah menjalani beberapa ritual penting.
1. Lempar Jumrah Aqabah
Pada 10 Zulhijah, jemaah melempar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali.
Ritual ini menjadi simbol perlawanan terhadap godaan setan, sebagaimana jejak Nabi Ibrahim AS.
2. Tahallul Awal
Setelah lontar jumrah, jemaah laki-laki mencukur atau memotong rambut, sementara perempuan memotong sebagian kecil rambutnya.
Ini menjadi tanda tahallul awal.
3. Tawaf Ifadah
Setelah tahallul awal, jemaah menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf ifadlah, salah satu rukun utama haji.
4. Mabit di Mina
Jemaah kemudian kembali ke Mina untuk mabit.
Pembagiannya:
- Nafar awal: mabit malam 11 dan 12 Zulhijah
- Nafar tsani: mabit hingga malam 13 Zulhijah
Selama hari tasyrik, jemaah melempar tiga jumrah:
- Jumrah Ula
- Jumrah Wustha
- Jumrah Aqabah
Masing-masing tujuh lemparan setiap hari.
Hikmah Besar dari Mabit
Mabit bukan sekadar tidur di tenda atau beristirahat di padang pasir.
Ada hikmah besar yang terkandung di dalamnya.
Belajar Kesederhanaan
Di Muzdalifah dan Mina, semua jemaah berada dalam posisi yang sama.
Tak ada kemewahan, tak ada sekat sosial.
Yang ada hanyalah manusia dan Tuhannya.
Melatih Kesabaran
Antrean panjang, cuaca ekstrem, kelelahan fisik, dan keterbatasan fasilitas menjadi ujian nyata selama mabit.
Di sinilah jemaah ditempa untuk bersabar.
Menguatkan Ketundukan kepada Allah
Meski lelah, jemaah tetap menjalankan setiap ritual sesuai perintah Allah SWT.
Itulah bentuk penghambaan sejati.
Setiap langkah dalam ibadah haji memiliki makna.
Dari Arafah yang penuh tangis tobat, Muzdalifah yang sunyi dalam zikir, hingga Mina yang penuh ujian kesabaran, semuanya menjadi bagian dari proses penyucian diri.
Karena itu, mabit bukan sekadar bermalam di tempat bersejarah, tetapi juga perjalanan hati menuju kemabruran.
