MADANINEWS.ID, MAKKAH – Langkah itu akhirnya tiba juga. Di tengah terik siang Kota Makkah, Minggu (10/5/2026), seorang perempuan renta berjalan perlahan memasuki pelataran Masjidil Haram. Tubuhnya kecil. Kerudung hitam membungkus kepalanya rapat. Tangannya sesekali mengusap wajah yang mulai dibasahi peluh dan air mata.
Namanya Jumariah.
Puluhan tahun perempuan asal Kabupaten Maros itu memendam satu doa yang tak pernah berubah: melihat Ka’bah dengan mata kepalanya sendiri.
Dan ketika bangunan hitam megah itu akhirnya berdiri tepat di hadapannya, seluruh pertahanan hatinya runtuh.
Air mata Jumariah pecah tanpa bisa dibendung.
“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucapnya lirih saat ditemui di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di balik suara pelannya, tersimpan perjalanan panjang seorang nenek yang hidup sebatang kara, tak bisa membaca, tak pernah sekolah, tetapi menolak menyerah pada keadaan.
Sunyi yang Menjadi Teman Hidup
Di kampungnya, hari-hari Jumariah berjalan dalam kesunyian.
Sejak berpisah dengan suaminya bertahun-tahun lalu, ia menjalani hidup seorang diri di rumah panggung sederhana. Tidak ada anak yang menemani. Tidak ada keluarga dekat yang setiap hari datang membantu.
Namun kesendirian tidak pernah membuatnya berhenti bergerak.
Setiap pagi selepas subuh, ia memberi makan ayam peliharaannya, membersihkan rumah, lalu memasak untuk dirinya sendiri. Tepat sekitar pukul sembilan pagi, perempuan lanjut usia itu mulai berjalan menuju kebun dan sawah.
Dengan sabit di tangan, ia membersihkan rumput di kebun ubi milik tetangganya. Setelah itu, ia berjalan lagi menuju sawah kecil seluas 15 are miliknya sendiri.
“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin,” kenangnya sambil tersenyum.
Tidak ada yang benar-benar mewah dalam hidup Jumariah. Tetapi ada satu hal yang selalu ia pelihara dengan sangat serius: harapan pergi haji.
Menabung Haji di Dalam Ember
Jumariah tak bisa membaca dan menulis. Ia bahkan tak pernah mencicipi bangku sekolah.
Namun ia tahu satu hal: mimpi tidak akan datang sendiri.
Sekitar 20 tahun lalu, ia mulai menyisihkan uang sedikit demi sedikit dari hasil berkebun dan bertani. Tidak melalui rekening bank. Tidak juga lewat investasi. Ia menyimpannya di dalam ember di rumahnya.
“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” tuturnya polos.
Jumlahnya tak pernah besar.
“Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” ujarnya.
Hari demi hari berlalu. Ember itu perlahan terisi.
Hingga pada 2011, tabungannya mencapai Rp25 juta. Dengan uang itulah ia memberanikan diri mendaftar haji, ditemani seorang kemenakan jauhnya.
Sejak hari itu, hidup Jumariah berubah menjadi satu irama panjang tentang menabung dan berdoa.
Lansia yang Tak Pernah Absen Manasik
Penantiannya akhirnya terjawab pada musim haji 2026.
Saat namanya resmi masuk daftar keberangkatan, semangat Jumariah justru seperti menemukan usia mudanya kembali.
Jarak 15 kilometer menuju lokasi manasik tak pernah ia keluhkan. Lebih dari 80 kali sesi manasik yang digelar Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) ia ikuti tanpa pernah absen.
Ia selalu duduk paling depan.
Menyimak perlahan setiap penjelasan pembimbing ibadah, menghafal gerakan demi gerakan, meski dirinya tak mampu membaca buku panduan.
Kegigihan itulah yang kemudian menarik perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Maros.
Kisah hidup Jumariah lalu diajukan ke pemerintah Arab Saudi untuk menjadi bagian dokumenter “Makkah Route”.
“Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” ungkap Sitti Hawaisyah.
Tak ada yang menyangka, kisah sederhana seorang nenek pencari ubi dari pelosok Maros kemudian berubah menjadi materi promosi internasional musim haji 2026 milik pemerintah Arab Saudi.
Jumariah kini dikenal banyak orang. Namun dirinya tetap sama: sederhana dan tenang.
Fisik Baja di Tanah Suci
Tiga hari setelah proses pengambilan dokumenter selesai, Jumariah untuk pertama kalinya naik pesawat menuju Madinah.
“Sempat ada rasa takut waktu naik (pesawat), tapi setelah itu nyaman,” katanya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi tuanya.
Di Madinah, fisiknya justru membuat banyak orang takjub.
Ia mampu beriktikaf di Masjid Nabawi sejak azan Asar hingga salat Isya berjamaah. Dengan bantuan rombongan kloternya, Jumariah juga berhasil masuk ke Raudhah.
Ketangguhannya terus berlanjut setibanya di Makkah.
Sejak tiba pada Sabtu (9/5/2026), Jumariah telah menuntaskan tiga kali umrah: satu umrah wajib dan dua umrah sunnah.
Hebatnya, ia nyaris tak pernah mengeluh sakit.
“Di tanda pengenal saya ini ada tanda merah, artinya saya punya riwayat sakit. Tapi di gelang Nenek Jumariah bersih, dia sehat total,” puji Sitti Hawaisyah.
Marwati, tetangga sekaligus rekan sekloternya, bahkan ikut heran melihat tenaga Jumariah.
“Selama umrah beliau paling semangat. Kita yang muda ini sudah kecapekan, beliau masih mau jalan.”
Ketika ditanya rahasia tubuh kuatnya, Jumariah menjawab sederhana.
“Ke sawah setiap hari, dan banyak minum air.”
Dialog Terakhir di Padang Arafah
Kini, perjalanan panjang Jumariah tinggal menyisakan satu fase paling sakral: wukuf di Arafah.
Kurang dari sepuluh hari lagi, perempuan yang selama puluhan tahun menyimpan uang di ember itu akan berdiri di Padang Arafah, mengangkat tangan, dan berbicara langsung kepada Tuhan yang selama ini ia panggil diam-diam dalam kesunyian.
Mungkin tidak banyak orang yang mengenal nama Jumariah sebelumnya.
Ia bukan pejabat. Bukan pengusaha. Bukan pula tokoh terkenal.
Ia hanya seorang nenek tua dari pelosok Maros yang hidup sendiri, bekerja di sawah, dan menabung sedikit demi sedikit demi satu mimpi.
Namun justru dari hidup yang sunyi itulah lahir kisah yang kini menginspirasi banyak orang di seluruh dunia.
