MADANINEWS.ID, JAKARTA – Tidak semua perjalanan menuju haji ditempuh dengan langkah kaki ke Tanah Suci. Ada kalanya, perjalanan itu justru terjadi di dalam hati—melalui keikhlasan, pengorbanan, dan keputusan yang hanya dipahami oleh Allah SWT.
Kisah ini datang dari seorang ulama besar, Abdullah bin Al-Mubarak—sosok yang dikenal sebagai ahli ilmu, ahli ibadah, sekaligus pejuang di jalan Allah. Ia adalah pribadi yang setiap tahunnya menunaikan haji, lalu di tahun berikutnya berjihad fi sabilillah.
Namun suatu ketika, perjalanan hajinya justru terhenti—dan di situlah kisah luar biasa ini bermula.
Di suatu waktu, Abdullah bin Al-Mubarak telah bersiap menunaikan ibadah haji seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia membawa bekal 500 dinar dan pergi ke pasar Kufah untuk membeli unta sebagai kendaraan menuju Tanah Suci.
Segalanya tampak berjalan seperti biasa.
Hingga di tengah perjalanan, ia melihat seorang wanita yang tengah membersihkan bulu seekor itik. Pandangannya tertuju pada sesuatu yang tidak biasa—itik itu tampak seperti bangkai.
Rasa iba menggerakkan hatinya.
Ia mendekat dan bertanya,
“Mengapa engkau melakukan hal ini?”
Awalnya, wanita itu enggan menjawab. Namun setelah didesak, ia pun membuka kisah pilunya.
Empat Hari Tanpa Makan
Wanita itu berkata,
“Wahai hamba Allah, aku terpaksa mengatakan rahasiaku kepadamu. Semoga Allah merahmatimu. Aku adalah seorang wanita Alawiyah. Aku mempunyai empat orang putri, sedangkan ayah dari anak-anakku ini telah meninggal dunia beberapa waktu lalu. Hari ini adalah hari keempat kami tidak memakan apa pun. Dalam keadaan seperti ini, halal bagi kami untuk memakan bangkai. Aku mengambil bangkai itik ini, kemudian seperti yang engkau lihat, aku sedang membersihkannya untuk kuberikan kepada anak-anakku.”
Kata-kata itu mengguncang hati Abdullah.
Di hadapannya, ada seorang ibu yang terpaksa memberi makan anak-anaknya dengan bangkai karena kelaparan. Sementara ia sendiri sedang membawa bekal besar untuk perjalanan haji—ibadah mulia yang ia lakukan hampir setiap tahun.
Di dalam hatinya, ia bergumam,
“Celakalah engkau, wahai Ibnu Mubarak, betapa senang keadaanmu dibandingkan dengan orang ini!”
Saat Pengorbanan Mengalahkan Rencana
Tanpa ragu, Abdullah bin Al-Mubarak berkata,
“Bukalah kantongmu!”
Ia kemudian memasukkan seluruh dinar yang ia miliki—semua bekal hajinya—ke dalam kantong wanita tersebut.
“Kembalilah ke rumahmu dengan uang ini untuk memperbaiki kondisi keluargamu,” ujarnya.
Saat itu juga, ia membatalkan niat hajinya.
Ia memilih pulang.
Tanpa menjejakkan kaki ke Makkah.
Tanpa mengenakan ihram.
Namun dengan hati yang telah mengambil keputusan besar—mendahulukan kebutuhan mendesak seorang hamba Allah dibandingkan ibadah yang bisa ditunda.
Haji yang Tak Pernah Terlihat
Waktu berlalu. Musim haji usai.
Para jemaah kembali ke kampung halaman. Abdullah bin Al-Mubarak pun menyambut mereka, mendoakan:
“Semoga Allah SWT menerima hajimu dan membalas segala usahamu.”
Namun sesuatu yang tak biasa terjadi.
Orang-orang justru menjawab,
“Semoga Allah SWT menerima hajimu juga dan membalas segala usahamu. Bukankah kami bertemu denganmu di tempat ini dan itu pada waktu haji itu?”
Abdullah terdiam.
Ia tidak berangkat haji tahun itu.
Mengapa mereka mengatakan demikian?
Jawaban dalam Sebuah Mimpi
Kegelisahan itu akhirnya terjawab melalui sebuah mimpi.
Dalam tidurnya, ia melihat Nabi Muhammad SAW berkata kepadanya:
“Wahai hamba Allah, janganlah engkau heran. Sesungguhnya engkau telah menolong seseorang yang sengsara dari anakku, maka aku meminta kepada Allah agar Dia ciptakan malaikat yang serupa bentuknya denganmu untuk menghajikan.”
Air mata seakan tak terbendung.
Ia tidak pergi.
Namun Allah tetap “menghadirkannya” di Tanah Suci.
Kisah ini bukan tentang meninggalkan haji. Bukan pula tentang mengganti ibadah dengan amal sosial.
Namun tentang memahami prioritas dalam beramal.
Ada saat di mana ibadah pribadi bisa ditunda, tetapi penderitaan orang lain tidak bisa menunggu.
Ada kondisi di mana menolong yang lapar lebih mendesak daripada perjalanan menuju Baitullah.
Dan ada keikhlasan yang begitu dalam, hingga Allah membalasnya dengan kemuliaan yang tak terbayangkan.
Pelajaran dari Sebuah Keikhlasan
Dari kisah Abdullah bin Al-Mubarak, kita belajar bahwa:
- Niat yang tulus bisa mengantarkan pada derajat yang tinggi
- Pengorbanan di jalan Allah tidak pernah sia-sia
- Menolong sesama adalah bagian dari ibadah yang agung
- Allah melihat hati, bukan sekadar perjalanan fisik
Perjalanan menuju haji memang mulia.
Namun perjalanan menuju keikhlasan—itulah yang membawa seseorang pada kemuliaan sejati.
