MADANINEWS.ID, JAKARTA – Kadang rezeki terasa seperti bayangan—dikejar menjauh, didiamkan malah mendekat. Ungkapan “dikejar semakin menjauhi, diam malah menghampiri” mungkin paling tepat untuk menggambarkan hubungan manusia dengan rezekinya.
Ada masa di mana seseorang berlari terlalu keras mengejar nafkah, namun hasilnya nihil. Tapi ketika ia berusaha sewajarnya, disertai tawakal kepada Allah, justru rezeki datang menghampiri dengan cara yang tak disangka-sangka.
Kisah klasik Urwah bin Udzainah menjadi salah satu contoh nyata tentang bagaimana rezeki sejati datang di waktu yang paling tepat—bukan karena kekuatan usaha semata, tapi karena keikhlasan dan kebergantungan hati kepada Allah.
Diuji Kesempitan, Disarankan Menghadap Khalifah
Dikisahkan dalam kitab Qashashus Shahabati was Shalihin karya Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Syarawi (Kairo: Maktabah At-Taufiqiyyah, hal. 329–330), Urwah bin Udzainah pernah hidup dalam kesulitan ekonomi saat berada di Madinah.
Melihat kondisinya, orang-orang di sekitarnya menyarankan agar ia menemui Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, sahabat lamanya. Mereka berkata:
“Engkau memiliki hubungan baik dengan Hisyam bin Abdul Malik, khalifah Bani Umayyah. Pergilah untuk menemuinya, niscaya engkau akan mendapatkan kebaikan dari kekhalifahannya.”
Mendengar saran itu, Ibnu Udzainah pun berangkat menuju Syam. Setibanya di istana, ia disambut dengan hangat oleh sang khalifah.
Dialog Singkat yang Mengubah Segalanya
Ketika ditanya bagaimana keadaannya, Ibnu Udzainah menjawab jujur bahwa ia sedang mengalami kesempitan. Mendengar itu, Khalifah Hisyam tersenyum dan mengingatkannya pada bait syair terkenal gubahan sahabatnya itu sendiri:
لَقَدْ عَلِمْتُ وَمَا الْإِسْرَافُ مِنْ خُلُقِي * أَنَّ الَّذِي هُوَ رِزْقِي سَوْفَ يَأْتِينِي
Artinya:
“Sungguh aku mengetahui dan boros bukanlah tabiatku * bahwa rezekiku pasti akan datang menghampiriku.”
Kata-kata itu seketika menyentak hati Ibnu Udzainah. Ia sadar, bahkan dalam kesulitan pun dirinya sedang diuji untuk percaya pada kalimat yang pernah ia ucapkan sendiri.
Merasa cukup diingatkan, Ibnu Udzainah berpamitan dengan penuh hormat.
“Semoga Allah membalas kebaikanmu, wahai Amirul Mukminin. Engkau telah mengingatkanku saat aku lupa, dan menegurku saat aku lalai,” ujarnya sebelum meninggalkan istana.
Namun setelah kepergian sahabatnya, Khalifah Hisyam menyesal. Ia merasa telah menyakiti hati seseorang yang datang dengan penuh harapan. Sang khalifah lalu memerintahkan pengawalnya menyusul Ibnu Udzainah untuk menyampaikan permintaan maaf dan hadiah sebagai tanda penyesalan.
Rezeki yang Menemukan Jalannya
Utusan khalifah mencari ke berbagai tempat, namun setiap kali tiba, Ibnu Udzainah sudah berpindah. Setelah perjalanan panjang, akhirnya ia tiba di rumah sang sahabat di Madinah dan mengetuk pintu seraya berkata:
“Amirul Mukminin menyesal atas sikapnya. Ini ada hadiah-hadiah darinya untukmu.”
Mendengar itu, Ibnu Udzainah tersenyum dan spontan melanjutkan syairnya dengan bait baru yang tak kalah indah:
أَسْعَى لَهُ فَيُعَنِّينِي طَلَبُهُ * وَلَوْ قَعَدْتُ أَتَانِي لَا يُعَنِّينِي
Artinya:
“Aku berusaha mengejarnya, maka justru ia menyusahkanku * Namun jika aku duduk diam, ia datang kepadaku tanpa memberatkanku.”
Bait ini menjadi pelengkap makna: bahwa rezeki tidak selalu hadir karena kerasnya usaha, melainkan karena ikhlas dan tawakal setelah berikhtiar.
Pesan dari Langit: Rezeki Itu Tak Pernah Tersesat
Kisah Urwah bin Udzainah seakan menegaskan firman Allah dalam surat At-Thalaq ayat 2–3:
وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللّٰهَ بالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً (3)
Artinya:
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,
dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.
Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.
Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya.
Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Pelajaran Abadi: Ikhtiar Lahir dan Batin
Kisah ini mengingatkan bahwa rezeki sering kali datang saat hati tidak lagi menggantungkan diri pada manusia, melainkan sepenuhnya kepada Allah.
Ketika ikhtiar sudah dilakukan dan hati berserah diri, Allah menghadirkan rezeki dari arah yang tak pernah disangka—seperti hadiah yang menghampiri Ibnu Udzainah setelah ia pulang dengan tangan kosong tapi hati penuh keyakinan.
Rezeki tidak pernah tersesat. Ia tahu kepada siapa ia harus datang.
Wallahu a’lam.
