MADANINEWS.ID, Jakarta – Di tengah guncangan ekonomi global, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini ekonomi syariah bisa menjadi penopang stabilitas keuangan dunia. Bukan sekadar alternatif, sistem ekonomi berbasis nilai dan etika ini dinilai mampu menjadi jangkar baru bagi perekonomian global yang tengah mencari arah.
“Indonesia berkomitmen untuk menjadi bagian penting dalam arsitektur keuangan syariah global dalam mewujudkan hal itu,” ujar Perry saat membuka Joint High Level Seminar & Investor Forum bertema Enhancing Resilience and Innovation in Liquidity Management for Islamic Financial Services Industry, Senin (6/10/2025).
Syariah Sebagai Sistem Bernilai dan Beretika
Perry menegaskan, pengembangan keuangan syariah tidak boleh semata berorientasi pada keuntungan finansial, melainkan harus berbasis nilai dan keyakinan. Prinsip sosial dan etika, menurutnya, merupakan ruh utama yang membuat sistem keuangan syariah lebih tangguh terhadap krisis.
“Pengembangan keuangan syariah harus dilakukan dengan pendekatan berbasis nilai dan keyakinan, yang mengintegrasikan prinsip sosial dan etika dengan keuntungan,” tegas Perry.
Ia menambahkan, inovasi berbasis nilai, sinergi antarotoritas, serta transformasi digital menjadi tiga kunci penting dalam membangun sistem keuangan global yang inklusif, berketahanan, dan berkelanjutan.
Digitalisasi dan Kolaborasi Jadi Kunci
Forum internasional yang diselenggarakan BI bersama International Islamic Liquidity Management Corporation (IILM), Islamic Financial Services Board (IFSB), dan Islamic Development Bank (IsDB) itu menyoroti pentingnya inovasi digital dan instrumen likuiditas syariah lintas batas.
Bahasan forum juga menekankan bagaimana teknologi dapat memperluas inklusi keuangan dan memperkuat posisi sektor syariah sebagai kekuatan stabilisasi bagi pembangunan berkelanjutan.
Perry mencontohkan, keberadaan instrumen Sukuk yang diterbitkan IILM terbukti menjadi solusi etis dan praktis bagi manajemen likuiditas antarnegara. “Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa kehadiran pasar uang syariah dan operasi moneter syariah makin memperkuat ekosistem keuangan syariah melalui penyediaan berbagai instrumen pengelolaan likuiditas untuk perbankan syariah,” jelasnya.
94 Persen Bank Syariah Sudah Aktif
Data BI menunjukkan, hingga pertengahan 2025, sebanyak 94 persen bank syariah di Indonesia sudah aktif berpartisipasi di pasar uang antarbank syariah. Salah satu instrumen yang tumbuh paling pesat adalah Syariah Interbank Placement Agreement (SIPA).
“Perkembangan ini menegaskan bahwa pasar uang syariah makin berperan penting sebagai sumber likuiditas yang efisien, sekaligus memperkuat fondasi intermediasi perbankan syariah dalam mendukung stabilitas sistem keuangan,” kata Perry.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-12, yang menjadi ajang utama Bank Indonesia dalam mempromosikan potensi ekonomi syariah Indonesia di kancah global.
